RADARBONANG.ID – Di perbukitan Magelang, Jawa Tengah, berdiri sebuah bangunan yang memikat mata sekaligus mengundang rasa ingin tahu: Gereja Ayam.
Meski namanya terdengar lucu, bangunan ini sejatinya bukan menyerupai ayam, melainkan burung merpati bermahkota, lambang perdamaian dan kasih yang melintasi batas agama.
Pencipta Gereja Ayam, Daniel Alamsjah, memulai pembangunan pada awal 1990-an. Inspirasi datang dari mimpi spiritual yang ia alami pada 1989, ketika ia melihat sosok burung besar di atas bukit, dengan mahkota di kepalanya.
Baca Juga: Kembali ke Zaman Edo: Seni Pedang dan Kehormatan Samurai dalam Budaya Jepang Modern
Ia percaya mimpi itu adalah panggilan untuk membangun rumah doa bagi semua umat, tempat di mana siapa pun bisa berdoa tanpa melihat perbedaan keyakinan.
Bangunan ini berdiri di atas Bukit Rhema, tak jauh dari Candi Borobudur. Secara arsitektural, Gereja Ayam terdiri dari beberapa bagian penuh simbol.
Tubuh burung dijadikan ruang utama doa, lorong bawah tanah berfungsi sebagai ruang meditasi, doa pribadi, sekaligus tempat rehabilitasi bagi mereka yang membutuhkan ketenangan jiwa.
Sementara itu, mahkota di puncak kepala burung menjadi titik pandang istimewa—menawarkan panorama 360 derajat perbukitan Magelang dan Borobudur di kejauhan.
Namun perjalanan bangunan ini tidak selalu mulus. Pada akhir 1990-an, proyek sempat terbengkalai karena keterbatasan dana dan dukungan.
Selama bertahun-tahun, Gereja Ayam berdiri dalam kesunyian, terlupakan di tengah hutan dan kabut Magelang. Hingga pada suatu masa, keberuntungan datang dari arah yang tak disangka.
Ketika lokasi ini digunakan sebagai salah satu latar dalam film “Ada Apa Dengan Cinta? 2” (2016), publik kembali melirik Gereja Ayam.
Sejak saat itu, ribuan wisatawan berdatangan—bukan hanya dari Indonesia, tapi juga mancanegara—untuk melihat langsung bangunan yang disebut sebagai “rumah doa lintas iman paling unik di dunia.”
Kini, Gereja Ayam tak hanya menjadi objek wisata, tapi juga simbol spiritualitas universal. Di sana, pengunjung bisa menemukan keheningan, refleksi, sekaligus kekaguman pada tekad seorang manusia yang membangun mimpinya secara harfiah, batu demi batu.
Media internasional seperti BBC Travel, Atlas Obscura, hingga National Geographic Indonesia pernah menyorot bangunan ini sebagai bukti bahwa keajaiban arsitektur tak selalu lahir dari tangan profesional—kadang justru dari iman dan mimpi seorang sederhana yang berani mengikuti panggilannya.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah