RADARBONANG - Dunia seni rupa Bali kembali menegaskan eksistensinya lewat sosok I Ketut Putrayasa, seniman patung serba bisa yang karyanya menembus batas medium, ruang, dan waktu.
Ia bukan hanya dikenal di kalangan seniman lokal, tetapi juga di kancah internasional berkat karyanya yang unik, monumental, dan sarat makna budaya.
Eksplorasi Tanpa Batas dalam Dunia Patung
Berbeda dari banyak pematung lain yang cenderung menetap pada satu medium, I Ketut Putrayasa justru menjadikan eksplorasi lintas bahan sebagai identitasnya.
Baca Juga: Nada Sakral yang Tetap Hidup di Tengah Riuh Wisata Bali
Ia tak segan memahat dari kayu, logam, hingga material sintetis modern—selalu menyesuaikan dengan konteks dan karakter karya yang ingin dihadirkan.
Kemampuannya menyesuaikan diri dengan berbagai tempat dan acara membuat namanya semakin dikenal luas.
Ia percaya bahwa setiap ruang memiliki jiwa tersendiri, dan tugas seniman adalah menghadirkan harmoni di antara karya dan lingkungannya.
“Bagi saya, medium hanyalah alat. Yang utama adalah pesan dan perasaan yang ingin disampaikan,” ujarnya dalam salah satu wawancara di ajang seni rupa Bali.
Karya-Karya Ikonik di Dalam dan Luar Negeri
Di antara sekian banyak karyanya, beberapa menonjol karena daya pikat dan skala yang luar biasa. Salah satunya adalah “Octopus Giant”, karya instalasi raksasa yang dipamerkan di ajang Bali Beyond Art Festival (BBAF) 2019.
Patung gurita dengan detail rumit itu tak hanya menjadi pusat perhatian, tapi juga simbol dari kekuatan dan kelenturan dalam kehidupan laut Bali.
Tak berhenti di situ, Putrayasa juga menciptakan karya monumental “The Octopus Queen” di Nusa Penida — sebuah patung yang memadukan unsur fantasi, mitologi laut, dan spiritualitas lokal.
Karya tersebut kini menjadi ikon wisata sekaligus refleksi tentang keseimbangan manusia dengan alam.
Kiprahnya bahkan melampaui batas Nusantara. Salah satu proyek terbesarnya adalah dinding relief bertema Mesir kuno di Prancis, yang memperlihatkan kemampuannya mengolah estetika lintas budaya tanpa kehilangan ciri khas spiritual Bali.
Menjaga Jiwa Tradisi di Tengah Modernitas
Meski dikenal modern dan adaptif, I Ketut Putrayasa tetap berpijak pada akar tradisi Bali. Setiap lekukan patungnya mencerminkan filosofi keseimbangan, kesucian, dan penghormatan terhadap alam.
Ia menjadi contoh bagaimana seniman masa kini bisa menghadirkan karya universal tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal.
Melalui karya-karyanya, Putrayasa mengajarkan bahwa seni bukan soal batasan teknik atau tempat, melainkan tentang bagaimana jiwa seniman menyatu dengan ciptaannya.
Ia bukan sekadar pematung, melainkan penyampai pesan kehidupan melalui bentuk dan ruang.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah