RADARBONANG - Di sebuah desa di Bali, langkah kaki tua itu masih menapak mantap di atas panggung tradisional.
Dialah Niang Soli, penari Legong yang kini berusia hampir 100 tahun. Meski rambutnya telah memutih dan tubuhnya renta, semangatnya untuk menari tetap menyala seperti bara yang tak padam.
Niang Soli dikenal luas sebagai salah satu maestro Legong tertua di Bali. Sejak remaja, ia telah menekuni tari klasik yang penuh kelembutan dan ketepatan gerak ini.
Legong, yang dahulu hanya dipentaskan di lingkungan istana dan upacara sakral, menjadi bagian dari hidupnya. Kini, di usia senjanya, Niang Soli masih tampil dalam beberapa kesempatan adat dan menjadi rujukan bagi penari muda di desanya.
Baca Juga: Komisi I DPRD Tuban Intensif Sidak Proyek Jalan, Soroti Kualitas dan Ketepatan Waktu
Dedikasi Seumur Hidup untuk Tari Legong
Dalam video dokumenter “Mengenal Sosok Niang Soli Penari Legong Bali Berusia Hampir 100 Tahun” yang diunggah ke YouTube, tampak betapa besar kecintaan Niang Soli terhadap seni tari.
Ia menuturkan bahwa setiap gerakan Legong bukan sekadar tarian, melainkan doa dan bentuk penghormatan kepada para dewa.
“Kalau menari Legong, hati harus tenang. Semua gerak itu artinya pujian,” ujarnya dengan lembut dalam bahasa Bali yang sarat makna.
Bagi masyarakat setempat, Niang Soli bukan hanya seniman, tetapi juga penjaga nilai-nilai budaya yang mulai memudar.
Ia menjadi saksi hidup perjalanan panjang kesenian Bali dari masa kolonial hingga era digital.
Tak hanya menari, Niang Soli juga sering diminta memberikan petuah dan ajaran kepada para penari muda agar memahami filosofi di balik setiap gerak dan irama gamelan.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran budaya populer, kisah hidup Niang Soli menjadi inspirasi bagi banyak kalangan, terutama generasi muda yang mulai meninggalkan kesenian tradisional.
Beberapa penari muda bahkan datang langsung ke rumahnya untuk belajar Legong secara langsung. Mereka tak hanya mempelajari gerakan, tetapi juga cara menghayati tarian sebagai bentuk sembah dan pengabdian.
“Kalau tidak ada yang mau belajar, nanti Legong tinggal cerita,” tutur Niang Soli lirih, menggambarkan kekhawatirannya terhadap nasib tari klasik di masa depan.
Kini, pemerintah daerah bersama komunitas seni setempat berupaya mendokumentasikan perjalanan hidup Niang Soli.
Kisahnya diabadikan dalam bentuk video, tulisan, dan pementasan untuk memperkenalkan sosoknya kepada generasi baru.
Upaya ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tak hanya soal melestarikan bentuk seni, tetapi juga menghormati para penjaganya.
Simbol Keteguhan Budaya
Kisah Niang Soli bukan sekadar tentang menari di usia lanjut, melainkan tentang keteguhan hati menjaga budaya.
Di tengah perubahan zaman, ia tetap setia menari, seolah setiap gerakannya adalah cara ia berdoa dan berterima kasih pada kehidupan.
Selama napas masih ada, Niang Soli ingin terus menari — bukan untuk ketenaran, melainkan demi cinta pada budaya yang telah membesarkannya.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah