RADARBONANG – Keris sejak lama dianggap bukan sekadar senjata, melainkan pusaka yang sarat makna filosofis dan spiritual di Nusantara.
Di balik keindahan bilah dan lekukan pamornya, tersimpan kisah tentang para empu, sebutan bagi pembuat keris, yang karyanya melegenda hingga kini.
Beberapa nama empu bahkan dikenal lintas generasi, karena hasil ciptaannya tidak hanya dikagumi, tetapi juga diselimuti kisah mistis.
Sejarah mencatat, setidaknya ada tiga empu besar yang kerap disebut dalam cerita rakyat dan babad Jawa.
Baca Juga: Update Harga Sembako Tuban 29 September 2025: Daging Ayam Naik dan Telur Turun
Mereka bukan sekadar pandai besi, melainkan tokoh yang dipercaya memiliki laku spiritual tinggi sehingga keris yang ditempa bukan hanya benda, melainkan pusaka yang diyakini memiliki kekuatan gaib.
Empu Supo Mandrangi, Sang Pencipta Keris Nagasasra
Salah satu nama besar adalah Empu Supo Mandrangi. Ia dikenal hidup pada masa kerajaan Majapahit dan dipercaya menghasilkan keris-keris yang kini dianggap sebagai pusaka paling berpengaruh.
Beberapa karyanya yang terkenal antara laiKarena itu, banyak bangsawan dan raja yang menjadikannya sebagai simbol legitimasi kekuasaan.
Hingga kini, nama Nagasasra masih populer dan menjadi ikon dalam dunia perkerisan Nusantara.
Empu Ramadi, Maes dari Era Mataram
Selain Mandrangi, sejarah juga mengenal Empu Ramadi, pembuat keris di era kerajaan Mataram.
Ia diyakini sebagai pencipta keris Kyai Setan Kober, sebuah pusaka yang kemudian dimiliki oleh tokoh penting Adipati Pajang, Arya Penangsang.
Keris ini terkenal karena dianggap memiliki daya magis luar biasa, bahkan dikisahkan ikut menentukan jalannya perebutan kekuasaan pada masa itu.
Keberadaan keris buatan Empu Ramadi memperlihatkan betapa peran empu tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik dan sejarah kerajaan Jawa. Senjata yang dibuat dengan doa, tapa, dan laku spiritual itu kerap dipercaya menjadi penentu kemenangan dalam peperangan.
Empu Gandring dan Kisah Kutukan
Namun, dari sekian nama, Empu Gandring mungkin yang paling banyak dikenal masyarakat luas karena kisah tragisnya. Ia hidup di era awal berdirinya Kerajaan Singasari.
Legenda menyebut, Ken Arok memesan sebilah keris kepadanya dengan syarat harus segera selesai.
Merasa tertekan, Gandring belum sempat menyelesaikan keris tersebut ketika Ken Arok datang menagih.
Dengan emosi, Ken Arok merampas keris yang masih setengah jadi dan justru menggunakannya untuk menusuk sang empu.
Dalam kondisi sekarat, Empu Gandring melontarkan kutukan bahwa keris itu kelak akan menelan tujuh nyawa dari garis Ken Arok.
Kisah itu kemudian benar-benar diyakini menjadi kenyataan. Keris buatan Gandring disebut menjadi saksi berbagai peristiwa berdarah yang melibatkan Ken Arok dan keturunannya.
Sejak saat itu, nama Empu Gandring lekat dengan cerita kutukan yang mewarnai perjalanan sejarah Singasari.
Warisan Budaya yang Tak Lekang Waktu
Kisah tiga empu ini memperlihatkan betapa keris di Nusantara bukan sekadar benda tajam, melainkan simbol spiritual, politik, dan budaya.
Pusaka hasil tangan mereka terus dikenang, baik sebagai karya seni, legenda mistis, maupun bagian dari perjalanan sejarah bangsa.
Hingga kini, keris tetap menjadi warisan budaya yang diakui dunia. UNESCO bahkan telah menetapkannya sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2005.
Di balik status itu, nama para empu legendaris tetap hidup dalam ingatan masyarakat, dari kisah sakti mandraguna hingga kutukan yang abadi.
Editor : Muhammad Azlan Syah