Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Empu Muda Gunungkidul, Penjaga Tradisi Keris Berpamor di Era Modern

Muhammad Azlan Syah • Jumat, 26 September 2025 | 20:30 WIB

Empu Godo Priyantoko, empu muda dari Gunungkidul yang masih menjaga tradisi sakral menempa keris berpamor
Empu Godo Priyantoko, empu muda dari Gunungkidul yang masih menjaga tradisi sakral menempa keris berpamor

RADARBONANG — Di tengah arus modernisasi yang kian deras, sosok Empu Godo Priyantoko hadir sebagai bukti bahwa warisan budaya Nusantara tetap bisa bertahan.

Pria berusia 43 tahun asal Padukuhan Kajar II, Karangtengah, Wonosari, Gunungkidul ini dikenal sebagai salah satu empu muda yang masih setia menempa keris berpamor, pusaka tradisional Jawa yang sarat filosofi.

Sejak awal, Empu Godo menekuni dunia besi tempa dengan membuat alat-alat pertanian. Namun, ketekunannya kemudian membawanya lebih jauh: mendalami seni tosan aji, khususnya keris.

Di besalen sederhana miliknya, ia bersama seorang panjak setia menjalani proses panjang pembuatan keris, dari peleburan besi, baja, hingga batu meteor, yang kemudian diolah dengan penuh ketelitian menjadi sebilah pusaka.

Baca Juga: Tips Minum Kopi untuk Penderita Asam Lambung agar Tetap Aman dari Ahli

Ritual Seperti Empu Zaman Dulu

Menariknya, Empu Godo tidak hanya mewarisi keterampilan teknis, tetapi juga nilai-nilai spiritual dari leluhur. Sebelum menempa besi, ia masih melakukan ritual khusus sebagaimana empu zaman dahulu.

Bagi Godo, prosesi itu bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk penghormatan kepada alam semesta dan permohonan agar karya yang dihasilkan membawa manfaat bagi pemiliknya.

Tradisi ini sekaligus menegaskan bahwa keris bukan hanya benda logam, melainkan pusaka dengan jiwa dan makna.

Tantangan dan Harapan

Meski karya-karyanya semakin dikenal, jalan yang dilalui Empu Godo tidak selalu mulus. Keterbatasan modal usaha dan minimnya dukungan promosi menjadi tantangan tersendiri.

Ia berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah maupun masyarakat, baik dalam bentuk fasilitasi pameran, promosi produk, hingga dukungan bagi keberlangsungan regenerasi empu.

“Selama ini saya masih belajar dan berproses. Saya ingin agar keris berpamor tetap dikenal, tidak hanya di Jawa tapi juga dunia,” ungkapnya.

Potensi Wisata Budaya

Keberadaan Empu Godo sebenarnya bisa menjadi daya tarik wisata budaya di Gunungkidul. Wisatawan tidak hanya datang menikmati pantai atau gua, tetapi juga bisa menyaksikan langsung proses tempa keris berpamor yang penuh filosofi.

Atraksi budaya semacam ini dapat membuka peluang baru, baik dari sisi ekonomi maupun pelestarian tradisi.

Bahkan, tak menutup kemungkinan ke depan, kunjungan dari delegasi internasional bisa diarahkan untuk melihat langsung keahlian empu muda ini.

Hal tersebut akan menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur Nusantara memiliki daya tarik global. Keris bukan hanya benda pusaka bagi masyarakat Jawa, tetapi juga simbol peradaban yang layak diperkenalkan ke dunia.

Menjaga Api Tradisi

Keris telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, dan keberadaan empu seperti Godo menjadi salah satu kunci agar api tradisi tetap menyala.

Di tangan empu muda inilah, pusaka bukan hanya dijaga bentuknya, tetapi juga ruhnya.

Dengan dedikasi dan kesetiaan pada ritual, Empu Godo seakan menjembatani masa lalu dengan masa kini—membuktikan bahwa warisan budaya tidak pernah benar-benar hilang, selama masih ada yang mau merawatnya. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#keris berpamor #tradisi pembuatan keris #empu muda Yogyakarta #Empu Godo Gunungkidul #ritual empu Jawa