RADARBONANG.ID – Visinema Pictures kembali menggebrak layar lebar dengan proyek film anyar berjudul Perang Jawa, sebuah film berlatar sejarah yang menyoroti perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan kolonialisme Belanda antara tahun 1825 hingga 1830.
Tak sekadar drama epik, film ini hadir dengan pendekatan berbasis riset mendalam yang melibatkan langsung sejarawan ternama, Peter Carey.
Di bawah arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko dan produser eksekutif Gita Wirjawan, Perang Jawa digarap dengan standar akurasi sejarah yang tinggi.
Film ini akan menjadi penafsiran ulang tentang figur Diponegoro—bukan sekadar sebagai simbol perlawanan, tetapi sebagai sosok sentral yang menggerakkan arus sejarah dalam kurun waktu lima tahun perang berdarah itu.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (21/7), Angga menjelaskan bahwa film ini berangkat dari kerangka riset Peter Carey, yang selama puluhan tahun mengkaji perjalanan hidup sang pangeran lewat karyanya The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855.
Carey bahkan terlibat langsung sebagai konsultan produksi, menjamin akurasi narasi yang dibangun.
Carey menggarisbawahi bahwa Perang Jawa akan menyajikan perbedaan signifikan dibanding film sejarah legendaris November 1828 karya Teguh Karya.
Meski memuji mahakarya tersebut karena ketelitian visualnya, dia menilai film lawas itu kurang mengangkat peran dominan Diponegoro secara menyeluruh.
Menurutnya, justru karakter lain seperti Sentot lebih menonjol di layar.
Film Perang Jawa mencoba mengisi kekosongan itu dengan menjadikan Diponegoro sebagai pusat orbit cerita.
Komitmen pada akurasi sejarah tampak dalam cara Angga menyandingkan proyek ini dengan semangat Cut Nyak Dien, film klasik karya Eros Djarot yang tak hanya menghibur, tapi juga membangkitkan kesadaran kolektif sejarah bangsa.
Harapannya, Perang Jawa bisa mewarisi semangat serupa—menjadi karya sinema yang membekas dan mencerdaskan.
Menariknya, pengumuman film ini bertepatan dengan peringatan dua abad dimulainya perlawanan Diponegoro, 20 Juli 1825.
Kala itu, pemaksaan pembangunan jalan oleh pemerintah kolonial di atas tanah leluhur Diponegoro menjadi pemicu pertempuran panjang yang menelan ribuan korban, menjadikannya salah satu konflik terbesar di Asia Tenggara.
Rencananya, produksi Perang Jawa dimulai pada 2027 dan dijadwalkan tayang pada 2028.
Dengan latar sejarah yang kuat, narasi emosional yang dalam, serta dedikasi tinggi terhadap akurasi, film ini berpotensi menjadi landmark baru dalam perfilman Indonesia.
Siap-siap menyambut epos sejarah yang tak hanya menggugah rasa nasionalisme, tetapi juga menawarkan pengalaman sinematik penuh riset dan rasa. (*)
Editor : Amin Fauzie