Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Sinden Dingklik Menghilang di Tuban. Upaya Melestarikan Seni Tayub Tergerus Zaman

Dwi Setiyawan • Kamis, 11 Januari 2024 | 18:00 WIB

Sinden dingklik mangkal di sebuah warung kopi di eks Terminal Baru Tuban, Jawa Timur sebelum era 2000-an.
Sinden dingklik mangkal di sebuah warung kopi di eks Terminal Baru Tuban, Jawa Timur sebelum era 2000-an.


TUBAN-Sinden mbarang atau atau sinden dingklik sekitar dua puluh tahun terakhir menghilang di Tuban, Jawa Timur.

Sebelum era 2000-an, sejumlah grup sinden dingklik beroperasi di wilayah perkotaan Tuban.

Mereka berasal dari luar Tuban, dua di antaranya dari Bojonegoro dan Blora.

Salah satu grup sinden dingklik yang masih bertahan terakhir adalah Rukun Tamba Arum (RTA). Grup ini diwawancarai pada 26 Oktober 2011.

Sinden dingklik adalah pengamen tayub yang menjadikan dingklik atau kursi kayu sebagai panggungnya. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Satiman, pimpinan grup Rukun Tamba Arum beserta istri dan anaknya yang juga anggota grupnya diwawancarai pada 26 Oktober 2011 .
Satiman, pimpinan grup Rukun Tamba Arum beserta istri dan anaknya yang juga anggota grupnya diwawancarai pada 26 Oktober 2011 .

 
Satiman, pimpinan grup RTA mengatakan, kehidupannya bersama pekerja seni tradisional yang dinaungi kian menderita.

‘’Jangankan menikmati kamulyan, sekadar eksis susahnya minta ampun,’’ tuturnya.

Pada tahun itu, grup seniman ini bermarkas di rumah Satiman di Gang Sumur Bening, Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban.

Ketika mengamen tayub, Satiman dan krunya membawa seperangkat gamelan berikut niyogo atau penabuh gamelan.

Grup ini juga membawa dua sinder yang berdandan dan berpakaian seperti waranggono pada umumnya.

Perangkat lainnya adalah pengeras suara berikut generator listrik kecil.

Pada 2011, grup ini beraktivitas di Pantai Boom.

Ketika kawasan pantai ini beberapa kali direnovasi, tempat mangkal sinder dingklik pun ikut pindah.

Mulai dari kompleks Pasar Sore, terminal MPU di Kelurahan Sendangharjo, dan terakhir di lahan eks Terminal Baru Tuban.

Di tempat mangkal terbarunya tersebut, grup kesenian ini sering diobrak satpol PP. Mereka dipaksa pindah meninggalkan lahan terminal.

‘’Sekarang, kami tidak tahu harus di mana mangkalnya,’’ kata Satiman.

Dia menuturkan, pekerja seni tradisional seperti dirinya dan anak buahnya harus diayomi. Sebab, aktivitas mereka sangat mulia.

Di balik upaya mencari penghidupan, mereka adalah pelestari budaya tayub.

Pada tahun itu, penghasilan sinder dingklik sangat kecil. Sehari, mulai pukul 20.00 hingga 01.00 dini hari hanya Rp 150 ribu.

‘’Bisa dibayangkan berapa hasil yang diterima dari sembilan anggota kami,’’ tandas pria kelahiran 30 Juni 1957 itu.

Selain dibagi kru, sebagian hasil ngamen tersebut untuk beli bensin bahan bakar generator.

Sebagian kru Satiman bukanlah orang lain. Sutini, istrinya membantu menyiapkan peranti. Sementara dua anaknya menjadi niyogo.

Praktis, hanya lima kru lainnya yang orang lain. Mereka adalah dua sinder dan tiga niyogo.

Minimnya pengasilan sinder mbarang karena per gending hanya dihargai Rp 5 ribu. Sementara satu jam nonstop Rp 75 ribu.

Satiman mengaku tak mungkin mematok harga lebih dari itu. Terlebih, konsumen mereka adalah masyarakat berekonomi lemah.

Mereka adalah tukang becak, tukang ojek, nelayan, dan kaum pinggiran lainnya.

Biasanya, mereka menikmati gending sambil minum kopi atau minuman lain pada warung yang menempel grup ini.

Satiman menegaskan, dia dan keluarganya mendarmabaktikan hidup untuk kesenian ini. Hampir semua anggota krunya juga melakukan hal yang sama.

Dia kemudian mencontohkan dua sindernya, Rebiyati, warga Jiken, Blora dan Ngatmi, Desa Wangi, Kecamatan Jatirogo.

Selama bergabung dengan RTA, mereka meninggalkan keluarga dan mondok di lingkungan Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban.

‘’Mereka ini tidak semata-mata mencari hidup, tapi kesenangan bisa menggeluti seni tayub,’’ tuturnya. (*)

Lanskap Kebun Raya Mangrove Surabaya yang kini lebih tertata dan indah.
Lanskap Kebun Raya Mangrove Surabaya yang kini lebih tertata dan indah.
Jalan setapak dengan dikelilingi pepohonan rindang di Kebun Raya Mangrove Surabaya.
Jalan setapak dengan dikelilingi pepohonan rindang di Kebun Raya Mangrove Surabaya.
Sebuah keluarga sedang menikmati liburan di Kebun Raya Mangrove Surabaya.
Sebuah keluarga sedang menikmati liburan di Kebun Raya Mangrove Surabaya.
Sebuah keluarga sedang menikmati keindahan alam di Kebun Raya Mangrove Surabaya.
Sebuah keluarga sedang menikmati keindahan alam di Kebun Raya Mangrove Surabaya.
Editor : Amin Fauzie
#budaya tayub #mbarang #Seperangkat Gamelan #era 2000 an #pekerja seni tradisional #Sinden Dingklik #sinder