RADARBONANG.ID - Film Ziarah karya sutradara BW Purba Negara kembali menegaskan fenomena klasik dalam dunia perfilman Indonesia: karya yang kuat secara artistik kerap mendapatkan pengakuan lebih besar di luar negeri dibandingkan di negeri sendiri.
Film yang diproduksi secara sederhana ini justru menuai sambutan hangat dari penonton Jepang saat diputar dalam ajang Festival Film Internasional Tokyo (TIFF), sebuah festival bergengsi yang menjadi etalase penting perfilman Asia.
Ketika Ziarah diputar di Jepang, antusiasme penonton terlihat jelas. Tiket pemutaran habis terjual, bahkan pihak festival menambah jadwal pemutaran karena tingginya minat.
Respons positif ini menjadi kontras dengan kondisi di Indonesia, tempat film tersebut hanya diputar secara terbatas dan tidak menjangkau penonton luas.
Padahal, Ziarah mengangkat cerita yang sangat dekat dengan identitas bangsa, sejarah, dan budaya lokal.
Ziarah berkisah tentang perjalanan seorang nenek bernama Mbah Sri yang berusaha mencari makam suaminya, seorang pejuang kemerdekaan.
Perjalanan itu tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menjadi penelusuran ingatan, luka sejarah, serta relasi manusia dengan masa lalu.
Dengan dialog minim dan tempo yang tenang, film ini mengandalkan kekuatan visual dan emosi yang dalam.
Menariknya, justru pendekatan sinematik yang sederhana dan kontemplatif ini mendapat apresiasi besar dari penonton Jepang.
Banyak penonton menilai Ziarah sebagai film yang jujur, manusiawi, dan mampu menyampaikan emosi universal meski berangkat dari latar budaya Jawa yang kental.
Perbedaan bahasa dan budaya tidak menjadi penghalang bagi penonton internasional untuk memahami pesan yang dibawa film ini.
BW Purba Negara menyebut bahwa penonton Jepang sangat terbuka terhadap film yang mengangkat sejarah, trauma kolektif, dan relasi personal dengan masa lalu.
Mereka memberi perhatian serius pada detail cerita, simbol budaya, hingga konteks sosial politik yang tersirat.
Hal ini menunjukkan bahwa film dengan akar lokal justru bisa berbicara lebih luas ketika disajikan dengan jujur dan tidak dipaksakan mengikuti selera pasar.
Sebaliknya, di Indonesia, Ziarah harus berhadapan dengan realitas industri film yang lebih mengutamakan aspek komersial.
Film-film dengan tema ringan, hiburan instan, dan formula populer cenderung lebih mudah mendapatkan layar bioskop dan promosi besar.
Film independen seperti Ziarah sering kali hanya beredar di komunitas film, festival, atau pemutaran alternatif.
Padahal, Ziarah telah mengoleksi berbagai penghargaan internasional dan nasional, termasuk apresiasi di sejumlah festival film Asia.
Prestasi ini semestinya menjadi indikator bahwa kualitas film Indonesia tidak kalah bersaing di panggung global.
Namun, minimnya distribusi dan promosi di dalam negeri membuat film semacam ini luput dari perhatian publik luas.
Fenomena Ziarah menjadi refleksi penting bagi ekosistem perfilman nasional. Apresiasi tinggi dari luar negeri seharusnya menjadi pemicu untuk memberikan ruang lebih besar bagi film-film dengan pendekatan artistik dan narasi mendalam.
Tanpa dukungan distribusi yang memadai, banyak karya berkualitas berisiko hanya dikenal di luar negeri, sementara penonton lokal kehilangan kesempatan untuk menikmati cerita tentang dirinya sendiri.
Keberhasilan Ziarah di Jepang membuktikan bahwa film Indonesia memiliki daya saing kuat jika diberi panggung yang tepat.
Kisah sederhana tentang seorang nenek, sejarah, dan pencarian makna hidup ternyata mampu menyentuh penonton lintas budaya.
Ironisnya, pengakuan itu justru datang lebih dulu dari luar negeri, bukan dari rumah sendiri.
Editor : Muhammad Azlan Syah