RADARBONANG.ID – Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia memiliki akar sejarah yang berkaitan. Keduanya berbagi banyak kosakata dan kemiripan struktur, tetapi sejumlah kata justru memiliki arti berbeda ketika digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Salah satu contohnya adalah kata seronok. Dalam bahasa Melayu Malaysia, kata tersebut lazim digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang menyenangkan.
Sementara itu, dalam penggunaan bahasa Indonesia, kata ini dapat memiliki konotasi kurang pantas.
Baca Juga: Bukan di Indonesia, Nama Makassar Ternyata Abadi di Kota Pesisir Timor Leste Ini, Apa Sejarahnya?
Perbedaan serupa terlihat pada kata budak. Di Malaysia, kata tersebut berarti anak, sedangkan dalam bahasa Indonesia, budak merujuk pada orang yang menjadi hamba sahaya.
Fenomena ketika dua kata memiliki bentuk serupa, tetapi makna berbeda, dikenal sebagai false friends.
Perbedaan ini menjadi salah satu gambaran bagaimana bahasa serumpun berkembang mengikuti sejarah, budaya, dan lingkungan sosial yang berbeda.
Berawal dari Bahasa Melayu, Berkembang di Wilayah Berbeda
Akar sejarah bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia dapat ditelusuri melalui perkembangan bahasa Melayu yang telah digunakan di Nusantara selama berabad-abad.
Salah satu bukti tertulisnya adalah Prasasti Kedukan Bukit dari 682 Masehi, yang memuat penggunaan bahasa Melayu Kuno.
Pada masa kejayaan Sriwijaya, bahasa Melayu berkembang melalui perdagangan dan pelayaran.
Penggunaannya sebagai lingua franca atau bahasa perantara membantu komunikasi antarkelompok masyarakat di berbagai wilayah Nusantara.
Perjalanan kedua bahasa kemudian dipengaruhi pembagian wilayah kekuasaan kolonial.
Perjanjian London 1824 antara Inggris dan Belanda menjadi salah satu titik penting yang membentuk perkembangan politik dan administrasi di kawasan Melayu.
“Dua kekuatan Eropa duduk di London dan membagi dunia Melayu menjadi dua.” urai penjelasan sebagaimana dikutip dari kanal YouTube HiM - History in Minutes.
Pembagian wilayah pengaruh tersebut turut membentuk jalur pendidikan, administrasi, dan pembinaan bahasa yang berbeda di wilayah kekuasaan Inggris dan Belanda.
Di Hindia Belanda, bahasa Melayu berkembang menjadi dasar bahasa Indonesia.
Peran bahasa ini semakin kuat setelah para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, dengan menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Sementara itu, bahasa Melayu di wilayah yang kemudian menjadi Malaysia berkembang mengikuti kebijakan dan kebutuhan masyarakat setempat.
Ejaan Diselaraskan, Kosakata Tetap Berbeda
Meski berkembang melalui jalur yang berbeda, Indonesia dan Malaysia pernah melakukan upaya penyelarasan ejaan.
Pada 16 Agustus 1972, kedua negara memberlakukan sistem ejaan yang disepakati bersama, dikenal sebagai Ejaan yang Disempurnakan di Indonesia dan Ejaan Rumi Baharu di Malaysia.
Penyelarasan tersebut tidak menghilangkan seluruh perbedaan.
Kosakata dan penggunaannya tetap berkembang mengikuti pengaruh bahasa asing, kebiasaan masyarakat, serta perubahan sosial di masing-masing negara.
Bahasa Indonesia banyak menyerap kosakata dari bahasa Belanda, sedangkan bahasa Melayu Malaysia mendapat pengaruh kuat dari bahasa Inggris.
Pengaruh tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkaya perbendaharaan kata dan membentuk ciri khas masing-masing bahasa.
Perbedaan makna juga dapat muncul karena suatu kata mengalami perubahan penggunaan atau konotasi dari waktu ke waktu.
Karena itu, kemiripan kata tidak selalu menjamin kesamaan arti, terutama ketika digunakan dalam konteks budaya yang berbeda.
Pada akhirnya, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia tetap memiliki hubungan sejarah yang erat.
Perbedaan kosakata, pelafalan, dan standar kebahasaan justru memperlihatkan bagaimana bahasa terus berkembang mengikuti perjalanan masyarakat yang menggunakannya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari