Mengapa Marie Antoinette Begitu Dibenci? Dari Skandal Berlian hingga Revolusi Prancis

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:42 WIB
lukisan marie antoinette. (pinterest)
lukisan marie antoinette. (pinterest)

RADARBONANG.ID – Marie Antoinette menjadi salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Prancis.

Ratu yang hidup di tengah kemewahan istana itu kerap digambarkan sebagai simbol pemborosan dan ketidakpedulian terhadap rakyat miskin. 

Namun, sejumlah kisah yang membentuk reputasinya ternyata menyimpan perdebatan, mulai dari ungkapan terkenal tentang roti dan kue hingga tuduhan pengkhianatan menjelang Revolusi Prancis.

Baca Juga: Bukan Sekadar Tempat Ibadah, Pura Agung Blambangan Simpan Jejak Sejarah Kerajaan Hindu di Jawa

Marie Antoinette lahir di Austria pada 1755 dengan nama Maria Antonia.

Pada usia 14 tahun, dia dikirim ke Prancis untuk menikah dengan Louis XVI. Pernikahan tersebut merupakan bagian dari diplomasi untuk memperkuat hubungan kedua kerajaan setelah periode persaingan panjang.

Kehidupan di lingkungan kerajaan Prancis menempatkannya dalam sorotan publik.

Ketika Louis XVI naik takhta pada 1774, Marie Antoinette menikmati kehidupan istana yang mewah. Sementara itu, kondisi ekonomi Prancis semakin memburuk dan ketimpangan sosial memicu kemarahan masyarakat.

Kemewahan Istana dan Mitos yang Merusak Reputasi

Gaya hidup Marie Antoinette menjadi sasaran kritik ketika rakyat menghadapi kelangkaan pangan, kenaikan harga roti, dan beban pajak yang tidak merata.

Bangsawan menikmati sejumlah keistimewaan, sedangkan kelompok masyarakat miskin menanggung tekanan ekonomi yang berat.

Sang ratu juga dikaitkan dengan pembangunan tempat peristirahatan pribadi di Versailles dan pengeluaran untuk busana serta hiburan.

Hal itu memperkuat citranya sebagai penguasa yang tidak memahami penderitaan rakyat.

Namun, krisis keuangan Prancis tidak muncul semata-mata akibat perilaku Marie Antoinette. Beban utang negara telah menumpuk selama bertahun-tahun, termasuk akibat konflik militer dan pengelolaan keuangan kerajaan.

Karena itu, menjadikan pengeluaran pribadi sang ratu sebagai satu-satunya penyebab krisis merupakan penyederhanaan persoalan.

Salah satu kisah paling terkenal yang melekat pada namanya adalah ungkapan “Let them eat cake”, atau “Biarkan mereka makan kue”, yang konon diucapkan ketika dia mengetahui rakyat tidak memiliki roti.

Kisah tersebut secara luas dianggap tidak memiliki dasar sejarah yang kuat.

Ungkapan serupa sudah muncul dalam tulisan Jean-Jacques Rousseau sebelum Marie Antoinette menikah dengan Louis XVI.

Tidak ada bukti meyakinkan bahwa sang ratu benar-benar mengucapkannya.

Reputasinya semakin terpuruk setelah Skandal Kalung Berlian pada 1784.

Dalam kasus itu, Jeanne de la Motte terlibat dalam penipuan yang menggunakan nama ratu untuk memperoleh kalung berlian bernilai tinggi.

Marie Antoinette tidak terbukti terlibat dalam penipuan tersebut, tetapi skandal itu telanjur memperkuat anggapan publik bahwa dirinya boros dan haus kemewahan.

Di sisi lain, citra Marie Antoinette tidak sepenuhnya terbatas pada kehidupan istana. Dia diketahui terlibat dalam sejumlah kegiatan amal dan mendukung upaya vaksinasi cacar di lingkungan kerajaan.

Meski demikian, tindakan tersebut tidak serta-merta menghapus kritik terhadap gaya hidup dan posisinya dalam sistem monarki.

Revolusi Prancis dan Akhir Tragis Sang Ratu

Ketika Revolusi Prancis pecah pada 1789, kedudukan keluarga kerajaan semakin terancam.

Louis XVI dan Marie Antoinette berusaha mempertahankan monarki, sementara kelompok revolusioner menuntut perubahan politik yang lebih mendasar.

Pada 1791, keluarga kerajaan berusaha melarikan diri dari Paris menuju wilayah yang lebih dekat dengan perbatasan timur Prancis.

Upaya tersebut berakhir dengan penangkapan mereka di Varennes. Peristiwa itu memperburuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap raja dan ratu, terutama karena upaya pelarian tersebut dianggap sebagai penolakan terhadap revolusi.

Marie Antoinette juga dicurigai memiliki hubungan dengan kekuatan asing, termasuk Austria, negara asalnya.

Hubungan keluarga dan komunikasi dengan pihak luar membuatnya semakin mudah dituduh mengancam kepentingan Prancis.

Namun, setiap tuduhan harus dibedakan dari bukti yang benar-benar terungkap dalam proses hukum.

Louis XVI dieksekusi pada Januari 1793. Sembilan bulan kemudian, Marie Antoinette menjalani persidangan revolusioner dengan berbagai tuduhan, termasuk pengkhianatan.

Persidangannya berlangsung di tengah ketegangan politik dan sentimen anti-monarki yang kuat.

Pada 16 Oktober 1793, Marie Antoinette dieksekusi menggunakan guillotine di Paris.

Dia mengakhiri hidup pada usia 37 tahun, setelah menjadi salah satu simbol paling menonjol dari runtuhnya monarki Prancis.

Kisahnya memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi seorang penguasa dapat berubah menjadi persoalan politik yang lebih luas.

Kemewahan, ketimpangan sosial, konflik kekuasaan, dan propaganda saling memengaruhi pembentukan citra Marie Antoinette.

Karena itu, penilaian terhadap dirinya tidak cukup hanya bertumpu pada mitos tentang kue atau gambaran ratu yang boros, tetapi juga perlu mempertimbangkan konteks sejarah yang melingkupinya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
marie antoinette ratu monarki prancis