RADARBONANG.ID – Sebelum dikenal sebagai penulis karya sastra klasik Inggris, Charlotte, Emily, dan Anne Brontë harus menyembunyikan identitas mereka di balik nama pena laki-laki.
Ketiganya menggunakan nama Currer Bell, Ellis Bell, dan Acton Bell ketika menerbitkan karya pada abad ke-19 demi menghindari prasangka terhadap perempuan di dunia sastra.
Kisah perjuangan tiga bersaudara tersebut menjadi gambaran tentang tantangan yang dihadapi perempuan untuk memperoleh pengakuan di era Victoria.
Baca Juga: Lagi Bosan Baca Novel Biasa? Ini 7 Rekomendasi Wattpad dengan Plot Twist Anti-Mainstream
Kala itu, dunia kepenulisan didominasi laki-laki, sementara perempuan yang ingin berkarier sebagai penulis kerap dipandang sebelah mata.
Sebagaimana ditulis Prihandini Anisa dalam Historia pada 17 September 2026, salah satu pengalaman yang menggambarkan kuatnya pandangan tersebut dialami Charlotte Brontë.
Pada 1836, Charlotte mengirimkan puisi dan surat kepada penyair Robert Southey untuk meminta masukan mengenai karyanya.
Balasan yang diterimanya justru menyarankan agar Charlotte tidak menjadikan sastra sebagai fokus utama hidupnya.
Meski mendapat tanggapan yang mengecilkan harapannya, Charlotte tidak menghentikan keinginannya untuk menulis.
Bersama kedua adiknya, dia terus mengembangkan karya hingga akhirnya nama mereka dikenal luas melalui novel-novel yang kini menjadi bagian penting dalam sejarah sastra Inggris.
Tumbuh dalam Keluarga yang Dekat dengan Buku
Charlotte lahir pada 21 April 1816, Emily pada 30 Juli 1818, dan Anne pada 17 Januari 1820.
Mereka merupakan anak dari pasangan Patrick Brontë, seorang pendeta Anglikan asal Irlandia, dan Maria Brontë yang berasal dari Cornwall, Inggris.
Sejak kecil, ketiganya menghadapi kehilangan dalam keluarga. Sang ibu meninggal pada 1821, disusul dua kakak mereka, Maria dan Elizabeth, yang wafat akibat tuberkulosis pada 1825.
Setelah kehilangan tersebut, Charlotte, Emily, Anne, dan saudara laki-laki mereka, Branwell, tumbuh dengan pendidikan yang diberikan di rumah.
Mereka tinggal di Haworth, sebuah desa di Yorkshire yang relatif terpencil.
Lingkungan yang sepi membuat mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, membaca, dan menulis.
Patrick Brontë juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk mendalami bacaan dan mengembangkan minat literasi.
Dalam catatan biografinya, Charlotte menggambarkan kegiatan menulis sebagai salah satu sumber kesenangan terbesar mereka sejak kecil.
Ketiganya kemudian menjadikan kemampuan menulis sebagai jalan untuk mengekspresikan gagasan dan membangun karier sastra.
Pada musim gugur 1845, Charlotte secara tidak sengaja menemukan kumpulan puisi rahasia milik Emily.
Dia terkesan dengan kualitas puisi tersebut dan mendorong adiknya agar bersedia menerbitkannya.
Anne juga memiliki puisi-puisi yang kemudian diperlihatkan kepada Charlotte.
Setelah melalui proses meyakinkan Emily, ketiganya sepakat menerbitkan karya bersama dengan menggunakan nama pena laki-laki.
Nama Pena Mengantarkan Mereka ke Dunia Sastra
Pada Mei 1846, Charlotte, Emily, dan Anne menerbitkan kumpulan puisi Poems by Currer, Ellis, and Acton Bell.
Buku tersebut memuat 61 puisi, dengan Charlotte menyumbang 19 puisi, sedangkan Emily dan Anne masing-masing menyumbang 21 puisi.
Penerbitan itu menggunakan uang warisan dari bibi mereka.
Sayangnya, buku puisi tersebut tidak mendapat sambutan pasar yang berarti. Namun, kegagalan itu tidak menghentikan langkah mereka.
Ketiganya kemudian beralih menulis novel. Charlotte menyusun The Professor, Emily menulis Wuthering Heights, sedangkan Anne menghasilkan Agnes Grey.
Naskah-naskah tersebut sempat mengalami penolakan sebelum akhirnya karya Emily dan Anne diterbitkan oleh Thomas Cautley Newby.
Kesuksesan besar datang ketika novel Jane Eyre karya Charlotte diterbitkan pada Oktober 1847 oleh Smith, Elder & Co.
Novel tersebut segera menarik perhatian pembaca dan menjadikan nama Currer Bell semakin dikenal.
Popularitas karya-karya mereka justru memunculkan spekulasi mengenai identitas para penulis.
Sebagian masyarakat menduga Currer, Ellis, dan Acton Bell merupakan satu orang laki-laki karena ketiganya memiliki gaya penulisan yang dinilai sama-sama kuat.
Untuk meluruskan kesalahpahaman itu, Charlotte dan Anne mendatangi kantor penerbit Smith, Elder & Co. di London pada Juli 1848.
Mereka mengungkap bahwa nama-nama tersebut sebenarnya milik tiga perempuan bersaudara.
Anne juga menegaskan bahwa kualitas karya sastra semestinya dinilai berdasarkan isinya, bukan jenis kelamin penulisnya.
Dalam kata pengantar edisi kedua The Tenant of Wildfell Hall, dia membantah anggapan bahwa identitas laki-laki atau perempuan menentukan kelayakan sebuah karya.
Meski demikian, perjuangan mereka untuk mengubah pandangan masyarakat tidak berlangsung mudah.
Dalam perjalanan hidup yang relatif singkat, Emily meninggal pada Desember 1848, disusul Anne pada Mei 1849.
Charlotte kemudian menulis pengantar untuk edisi anumerta karya Emily dan Anne pada 1850.
Dia menjelaskan asal-usul nama pena mereka sekaligus mengenang perjalanan kreatif kedua adiknya.
Charlotte sendiri meninggal pada 31 Maret 1855. Walaupun ketiganya telah tiada, karya-karya mereka terus dibaca dan dibicarakan lintas generasi.
Jane Eyre, Wuthering Heights, dan Agnes Grey tetap menjadi bagian penting dari khazanah sastra Inggris, sekaligus mengingatkan pembaca tentang perjuangan perempuan untuk memperoleh ruang dan pengakuan dalam dunia kepenulisan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari