RADARBONANG.ID – Aksara Jawa atau Hanacaraka bukan sekadar sistem tulisan tradisional yang digunakan masyarakat Jawa sejak masa lampau.
Di balik susunan 20 hurufnya, terdapat kisah legenda tentang kesetiaan, amanah, hingga pengorbanan dua abdi yang dipercaya mengabdi kepada Aji Saka.
Kisah mengenai asal-usul Aksara Jawa tersebut salah satunya diulas dalam kanal edukasi sejarah Jawa Klasik melalui video bertajuk Asal Usul Aksara Jawa.
Baca Juga: Bukan Sekadar Tempat Ibadah, Pura Agung Blambangan Simpan Jejak Sejarah Kerajaan Hindu di Jawa
Cerita tersebut berkaitan dengan perjalanan tokoh legendaris Aji Saka ke Kerajaan Medang Kamulan.
Di sana, dia dikisahkan berhadapan dengan Prabu Dewata Cengkar, raja yang dikenal kejam.
Namun, bagian yang kemudian dikaitkan langsung dengan terciptanya Hanacaraka justru terjadi setelah Aji Saka meninggalkan kedua abdinya, Dora dan Sembada.
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana sebuah amanah yang dijalankan secara mutlak justru berujung pada tragedi.
Aji Saka dan Konflik di Medang Kamulan
Legenda bermula dari kondisi Kerajaan Medang Kamulan yang berada di bawah kekuasaan Prabu Dewata Cengkar.
Sang raja dikisahkan sebagai sosok lalim yang gemar memakan daging manusia.
Situasi tersebut kemudian berubah setelah datang seorang musafir bernama Aji Saka.
Tokoh yang dikenal bijaksana itu akhirnya menghadapi Dewata Cengkar dan berhasil menaklukkannya.
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Dewata Cengkar kemudian terlempar ke Laut Selatan.
Sebelum berangkat menuju istana, Aji Saka memiliki dua abdi bernama Dora dan Sembada. Keduanya dikenal memiliki kesetiaan dan kesaktian.
Aji Saka kemudian menitipkan pusaka miliknya kepada Sembada. Dia memberikan amanah agar pusaka tersebut tidak diserahkan kepada siapa pun selain dirinya.
Sementara itu, Dora ikut mendampingi Aji Saka dalam perjalanan.
Setelah keadaan di kerajaan dinilai aman, Aji Saka meminta Dora kembali untuk mengambil pusaka yang dititipkan kepada Sembada.
Masalah muncul ketika Dora meminta pusaka tersebut. Sembada menolak menyerahkannya karena mengingat pesan Aji Saka yang memerintahkannya untuk tidak memberikan pusaka kepada siapa pun.
Di sisi lain, Dora datang karena menjalankan perintah Aji Saka.
Keduanya akhirnya berada dalam situasi yang sama-sama sulit.
Dora harus melaksanakan perintah terbaru dari majikannya, sedangkan Sembada berpegang teguh pada amanah yang sebelumnya diberikan kepadanya.
Tragedi Dora-Sembada dan Lahirnya Hanacaraka
Perselisihan tersebut kemudian berkembang menjadi pertarungan.
Dora dan Sembada dikisahkan memiliki kesaktian yang sama sehingga tidak ada satu pun yang mampu mengalahkan lawannya.
Pertarungan itu berakhir tragis. Kedua abdi tersebut akhirnya gugur.
Aji Saka yang mengetahui kejadian tersebut kemudian dikisahkan mengabadikan tragedi kedua abdinya melalui susunan aksara Jawa yang kini dikenal sebagai Hanacaraka.
Dua puluh huruf tersebut disusun menjadi empat baris yang masing-masing memiliki makna dalam kisah Dora dan Sembada.
Hana caraka dimaknai sebagai adanya utusan atau abdi. Data sawala menggambarkan keduanya yang saling berselisih.
Pada jayanya memiliki makna bahwa keduanya sama-sama memiliki kesaktian.
Sementara Maga bathanga menggambarkan akhir dari pertarungan tersebut, yakni keduanya sama-sama menjadi mayat.
Susunan tersebut kemudian dikenal luas sebagai bagian dari Hanacaraka
Dalam kisah tersebut, penciptaan Hanacaraka tidak hanya dipahami sebagai asal-usul rangkaian huruf Jawa.
Ada nilai filosofis yang melekat di dalamnya, terutama mengenai kesetiaan dan kepatuhan terhadap amanah.
Dora dan Sembada sama-sama menjalankan perintah yang mereka terima.
Keduanya tidak digambarkan sebagai sosok yang mengingkari tugas, tetapi justru terlalu teguh memegang amanah masing-masing hingga berakhir dalam pertarungan.
Karena itu, legenda Hanacaraka menjadi salah satu cerita budaya Jawa yang tidak hanya berkaitan dengan bahasa dan tulisan, tetapi juga menyimpan refleksi mengenai kesetiaan, tanggung jawab, dan konsekuensi dari sebuah amanah.
Kisah tersebut hingga kini tetap dikenal sebagai salah satu cerita yang menjelaskan makna filosofis di balik 20 huruf Aksara Jawa. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari