Watu Tiban Bukan Sekadar Artefak, Tetapi Juga Legenda Cikal-Bakal Nama Kabupaten Tuban

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 13:17 WIB
Staf Museum Kambang Putih menjukkan Watu Tiban.
Staf Museum Kambang Putih menjukkan Watu Tiban.

RADARBONANG.ID - Watu Tiban yang tersimpan di Museum Kambang Putih Tuban bukan sekadar artefak peninggalan masa Hindu.

Batu yoni tersebut juga lekat dengan legenda yang dipercaya masyarakat sebagai salah satu cerita asal-usul nama Kabupaten Tuban.

Staf Museum Kambang Putih, Deni Anto, menjelaskan bahwa cerita tentang Watu Tiban telah lama berkembang di tengah masyarakat.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pesantren, Begini Sejarah Gontor dari Pondok yang Sekarang Berusia 100 Tahun

Konon, dahulu seekor burung bangau terbang membawa buah batu dari Kediri menuju Demak.

Saat melintasi kawasan perbukitan kapur, batu tersebut terlepas dan jatuh.

"Batu yang jatuh itu kemudian dijuluki sebagai Watu Tiban. Tepat di lokasi jatuhnya yoni tersebut, wilayah itu kemudian dinamakan Tuban oleh masyarakat dahulu," terang Deni kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Peninggalan Kuno dengan Jejak Sejarah

Di luar legenda yang menyertainya, Watu Tiban merupakan batu yoni yang pada masa lampau digunakan sebagai sarana peribadatan umat Hindu.

Dalam kepercayaan Hindu, yoni melambangkan Dewi Parwati sebagai simbol kesuburan dan pasangan lingga yang merepresentasikan Dewa Siwa.

Batu yoni berukuran besar yang berada di Museum Kambang Putih, Jalan RA Kartini, itu menyimpan sejumlah detail arkeologis.

Pada salah satu sisinya terdapat tulisan aksara kuno yang menunjukkan angka tahun 1400 Saka.

Artefak tersebut juga dihiasi pahatan bermakna simbolis.

Di bagian yoni terdapat saluran pancuran atau cawa yang digunakan untuk mengalirkan air pembasuh ritual atau amerta.

Menurut Deni, sejak awal museum difungsikan, peninggalan era Hindu-Buddha tersebut memang sudah berada di area belakang bangunan.

Selain batu yoni yang dipamerkan, terdapat satu yoni lain berukuran lebih kecil. Namun, artefak itu kini terpendam di bawah permukiman warga sehingga tidak lagi terlihat di permukaan.

"Proses ekskavasi tidak mungkin lagi dilakukan karena posisinya berada tepat di bawah rumah penduduk dan sudah tidak lagi terlihat di permukaan," jelasnya.

Legenda Watu Tiban yang Masih Dipercaya

Kisah Watu Tiban tidak berhenti pada cerita asal-usul nama Tuban.

Hingga kini, batu tersebut masih dianggap sakral oleh sebagian masyarakat.

Deni menyebut, warga kerap datang membawa bunga untuk nyekar, terutama pada pasaran Jumat Wage dalam penanggalan Jawa.

Sebagian pengunjung datang untuk memenuhi nazar setelah sembuh dari penyakit.

Menariknya, menurut Deni, tradisi tersebut juga dijalankan oleh warga muslim yang masih memegang kepercayaan leluhur.

"Masih ada warga yang datang karena memiliki nadzar kemudian nyekar ke yoni ini setelah sembuh dari penyakit. Uniknya, yang datang untuk ritual bukan umat Hindu, melainkan warga muslim yang masih memegang kepercayaan leluhur tersebut. Kepercayaan seperti ini memang tidak bisa lepas total dari tradisi masyarakat. Tidak semua, tapi sebagian masih meyakini," pungkas Deni.

Keberadaan Watu Tiban memperlihatkan bagaimana sebuah artefak menyimpan lebih dari sekadar jejak masa lalu.

Benda tersebut juga menjadi bagian dari cerita rakyat yang terus melekat dalam ingatan masyarakat Tuban. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Bonang
batu yoni watu tiban Museum Kambang Putih tuban artefak