RADARBONANG.ID – Bayangkan perjalanan menggunakan kereta pada masa lalu ketika trem masih menjadi salah satu moda transportasi perkotaan.
Kini, masyarakat Indonesia sudah mengenal Kereta Rel Listrik (KRL), LRT dengan sistem operasi otomatis, hingga Whoosh yang mampu melaju dengan kecepatan operasional mencapai 350 kilometer per jam.
Perubahan tersebut menunjukkan betapa panjang perjalanan teknologi perkeretaapian di Indonesia.
Kereta tidak lagi sekadar alat transportasi untuk membawa penumpang dari satu kota ke kota lain.
Perkembangannya mengikuti kebutuhan masyarakat, pertumbuhan kota, kemajuan teknologi, hingga tuntutan perjalanan yang semakin cepat dan efisien.
Baca Juga: Bukan Film Fiksi, BRIN Mulai Siapkan Talenta Indonesia untuk Hadapi Masa Depan di Bulan dan Mars
Dari trem listrik hingga kereta cepat, evolusi tersebut berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dan membentuk sistem transportasi berbasis rel seperti yang dikenal masyarakat saat ini.
Awal Kereta Listrik di Indonesia
Perkembangan perkeretaapian Indonesia sendiri sudah dimulai jauh sebelum hadirnya kereta listrik.
KAI mencatat sejarah pembangunan jalur kereta api di Indonesia dimulai pada era kolonial dan jalur pertama dioperasikan pada 1867.
Gagasan pembangunan jaringan rel muncul karena kebutuhan mengangkut hasil produksi sekaligus menghubungkan berbagai wilayah.
Dalam perkembangannya, jaringan kereta api semakin luas dan menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi.
Memasuki era transportasi perkotaan, teknologi listrik kemudian mulai digunakan untuk menggerakkan kereta.
Trem listrik menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah tersebut.
Moda ini memungkinkan transportasi perkotaan beroperasi menggunakan tenaga listrik dan menjadi bagian dari perubahan sistem mobilitas di kota-kota besar.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Dari Trem Menuju KRL
Teknologi kereta listrik kemudian mengalami berbagai perkembangan.
Salah satu bentuk yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini adalah KRL.
KRL menjadi salah satu tulang punggung transportasi perkotaan, terutama di kawasan Jabodetabek.
Kereta jenis ini memungkinkan masyarakat melakukan perjalanan secara massal dengan frekuensi tinggi.
KAI mencatat KAI Commuter melayani 204.151.200 pelanggan sepanjang semester pertama 2026. Jumlah tersebut meningkat 6,58 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Jangkauan layanan KRL juga tidak hanya berada di Jabodetabek.
Ekosistem KAI mencakup layanan commuter di sejumlah wilayah, termasuk Bandung, Yogyakarta-Solo, Surabaya, serta Merak-Rangkasbitung.
Besarnya jumlah pengguna menunjukkan perubahan fungsi kereta listrik.
Jika dahulu teknologi tersebut identik dengan perkembangan transportasi perkotaan, kini KRL telah menjadi bagian dari rutinitas jutaan orang.
Kereta digunakan untuk pergi bekerja, sekolah, kuliah, berbelanja, hingga mengakses berbagai pusat aktivitas.
Teknologi Makin Canggih
Perkembangan kereta listrik tidak berhenti pada KRL.
Indonesia kemudian mengembangkan berbagai moda berbasis listrik dengan teknologi yang berbeda.
Salah satunya adalah LRT Jabodebek yang menggunakan sistem persinyalan berbasis Communication-Based Train Control atau CBTC.
LRT Jabodebek menggunakan tingkat otomatisasi Grade of Automation 3 atau GoA3.
Sistem tersebut memungkinkan sejumlah fungsi perjalanan, seperti pengaturan kecepatan, jarak antarkereta, dan pemberhentian, dilakukan secara otomatis melalui sistem kendali.
Teknologi tersebut menunjukkan perubahan besar dalam cara kereta dioperasikan.
Jika kereta pada masa lalu sangat bergantung pada sistem operasi manual dan teknologi mekanis, transportasi rel modern mulai memanfaatkan sistem digital, otomatisasi, serta pusat kendali yang semakin kompleks.
Lalu Muncul Whoosh
Perubahan paling mencolok dalam perkembangan transportasi rel Indonesia terjadi ketika kereta cepat Whoosh hadir.
Berbeda dengan KRL yang dirancang untuk mobilitas perkotaan dan LRT yang mendukung perjalanan kawasan metropolitan, Whoosh membawa konsep perjalanan berkecepatan tinggi.
Kereta cepat tersebut memiliki kecepatan operasional hingga 350 kilometer per jam.
Layanan ini menjadi bagian dari ekosistem KAI Group dan dioperasikan PT Kereta Cepat Indonesia China atau KCIC.
Kecepatan tersebut membuat perjalanan kereta memasuki fase yang berbeda.
Kereta tidak hanya berfungsi sebagai transportasi massal dengan kapasitas besar, tetapi juga menjadi pilihan perjalanan antarkota yang menekankan kecepatan.
Sepanjang Januari-Juli 2026, Whoosh tercatat melayani 3.517.396 pelanggan.
Angka tersebut menunjukkan layanan kereta cepat sudah menjadi bagian dari pilihan mobilitas masyarakat Indonesia.
Lima Teknologi dalam Satu Ekosistem
Saat ini, perkembangan teknologi perkeretaapian Indonesia tidak hanya terlihat dari Whoosh.
KAI menyebut ekosistemnya mengelola lima jenis teknologi perkeretaapian, yakni lokomotif diesel, KRL, kereta rel diesel dan listrik atau KRDE/I, LRT dengan sistem operasi otomatis, serta kereta cepat.
Masing-masing memiliki fungsi berbeda.
Lokomotif diesel masih menjadi tulang punggung perjalanan antarkota, lokal, wisata, dan angkutan barang.
KRL melayani kebutuhan mobilitas perkotaan dengan frekuensi tinggi.
KRDE/I digunakan untuk layanan regional dan konektivitas tertentu, sedangkan LRT dan Whoosh menghadirkan teknologi transportasi yang lebih modern.
Dengan kata lain, perkembangan teknologi tidak membuat moda lama langsung menghilang. Setiap jenis kereta tetap memiliki peran sesuai kebutuhan perjalanan.
Dari Transportasi Kota hingga Kereta 350 Km/Jam
Jika melihat perjalanan panjang tersebut, perubahan teknologi kereta di Indonesia sebenarnya bukan hanya tentang kecepatan.
Ada perubahan cara masyarakat menggunakan transportasi.
Dulu, kereta menjadi bagian dari pembangunan jaringan transportasi dan distribusi.
Kini, kereta juga menjadi bagian dari sistem mobilitas perkotaan, konektivitas antardaerah, perjalanan menuju bandara, pariwisata, hingga perjalanan berkecepatan tinggi.
KAI mencatat seluruh ekosistemnya melayani 307,86 juta pelanggan sepanjang Januari-Juli 2026.
Baca Juga: Kulkas Berisi Wiski dan Bir di Lapas Cibinong Diklaim Milik Pejabat, Ini Penjelasan Dirjen PAS
Jumlah tersebut mencakup berbagai layanan, mulai dari KA jarak jauh dan lokal, KAI Commuter, LRT, KAI Bandara, KAI Wisata, KA Makassar-Parepare, hingga Whoosh.
Perjalanan dari trem listrik menuju Whoosh 350 kilometer per jam akhirnya menjadi gambaran bagaimana teknologi perkeretaapian Indonesia terus berubah mengikuti zaman.
Rel yang dahulu menjadi simbol transportasi modern pada masa lalu kini berkembang menjadi bagian dari ekosistem mobilitas yang semakin beragam.
Dari kereta yang melayani perjalanan dalam kota hingga kereta cepat yang melaju ratusan kilometer per jam, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang transportasi berbasis rel di Indonesia.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : goodnewsfromindonesia.id