Bukan Sekadar Wajah di Kaos, Ini Kisah Che Guevara dari Dokter hingga Menjadi Ikon Revolusi

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 14:10 WIB
Wajah Che Guevara ada di mana-mana, tetapi kisah hidupnya jauh lebih kompleks daripada sekadar gambar di kaus. Dari seorang dokter asal Argentina, ia berubah menjadi gerilyawan, pejabat revolusi Kuba, hingga tokoh kontroversial yang terus diperdebatkan. (lalibre.be)
Wajah Che Guevara ada di mana-mana, tetapi kisah hidupnya jauh lebih kompleks daripada sekadar gambar di kaus. Dari seorang dokter asal Argentina, ia berubah menjadi gerilyawan, pejabat revolusi Kuba, hingga tokoh kontroversial yang terus diperdebatkan. (lalibre.be)

RADARBONANG.ID — Wajah Ernesto “Che” Guevara mungkin menjadi salah satu wajah tokoh revolusi paling mudah dikenali di dunia.

Potretnya dengan rambut panjang, janggut, dan baret berhiaskan bintang telah muncul di kaus, poster, mural, hingga berbagai produk budaya populer.

Bagi sebagian orang, Che Guevara merupakan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketimpangan sosial.

Namun, bagi pihak lain, sejarah hidupnya juga tidak dapat dilepaskan dari kekerasan revolusi, eksekusi, serta pilihan politik yang kontroversial.

Di balik wajah yang kemudian menjadi ikon budaya tersebut, Che merupakan seorang dokter asal Argentina yang meninggalkan kehidupan relatif nyaman untuk terjun ke dalam perjuangan revolusioner di sejumlah negara.

Baca Juga: Sering Bingung Menulis Abstrak Skripsi? Pahami Unsur Penting dan Cara Menyusunnya Berikut Ini

Dari Dokter Menjadi Revolusioner

Ernesto Guevara de la Serna lahir di Rosario, Argentina, pada 14 Juni 1928.

Sejak kecil, ia mengalami masalah kesehatan berupa asma yang cukup berat.

Kondisi tersebut tidak membuatnya meninggalkan aktivitas fisik.

Che justru dikenal memiliki ketertarikan terhadap olahraga dan berbagai kegiatan yang membutuhkan daya tahan tubuh.

Ia kemudian menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Buenos Aires.

Jalur tersebut sebenarnya dapat membawanya menuju kehidupan profesional sebagai dokter.

Namun, perjalanan keliling Amerika Latin menjadi salah satu titik penting dalam perubahan pandangannya.

Dalam perjalanan tersebut, Che melihat secara langsung kehidupan masyarakat miskin di berbagai wilayah Amerika Selatan.

Pengalaman itu membuat perhatiannya semakin tertuju pada persoalan kemiskinan, ketimpangan, dan kondisi sosial masyarakat.

Perjalanan tersebut kemudian ikut membentuk pandangan politik yang semakin radikal.

Che mulai melihat bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat tidak cukup diselesaikan melalui profesi medis.

Ia kemudian semakin dekat dengan gagasan revolusi dan perjuangan bersenjata.

Bergabung dengan Revolusi Kuba

Perubahan besar dalam kehidupan Che terjadi ketika ia bertemu Fidel Castro.

Che kemudian bergabung dengan kelompok revolusioner yang dipimpin Castro dan ikut dalam perjuangan bersenjata melawan pemerintahan Fulgencio Batista di Kuba.

Dalam gerilya di pegunungan Sierra Maestra, Che tidak hanya menjalankan peran sebagai dokter.

Ia juga berkembang menjadi salah satu komandan penting dalam gerakan tersebut.

Pasukan revolusioner akhirnya berhasil menggulingkan pemerintahan Batista pada 1959.

Kemenangan tersebut membuat nama Che semakin dikenal.

Ia kemudian memperoleh posisi penting dalam pemerintahan baru Kuba.

Namun, fase tersebut sekaligus membawa bagian paling kontroversial dalam perjalanan hidupnya.

Sisi Kontroversial Setelah Revolusi

Setelah revolusi berhasil, Che memegang sejumlah jabatan dalam pemerintahan Kuba.

Ia pernah menjadi pemimpin La Cabaña, sebuah benteng yang kemudian digunakan sebagai tempat penahanan dan pelaksanaan eksekusi terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuh revolusi.

Sejumlah sejarawan mencatat adanya eksekusi terhadap tahanan setelah kemenangan revolusi Kuba.

Peran Che dalam proses tersebut menjadi salah satu bagian yang terus diperdebatkan dalam penilaian terhadap warisannya.

Para pendukungnya melihat tindakan tersebut dalam konteks revolusi dan upaya mempertahankan pemerintahan baru.

Sementara itu, para pengkritiknya menyoroti keterlibatannya dalam proses eksekusi dan kekerasan politik yang terjadi setelah revolusi.

Karena itu, sosok Che sulit ditempatkan hanya dalam satu gambaran sederhana.

Ia bukan sekadar gambar pada kaus yang melambangkan pemberontakan.

Di balik ikon tersebut terdapat sejarah politik yang penuh konflik, keputusan keras, dan konsekuensi terhadap banyak orang.

Meninggalkan Kekuasaan

Meski mendapatkan posisi penting dalam pemerintahan Kuba, Che tidak bertahan lama sebagai pejabat negara.

Ia tetap memiliki ambisi untuk menyebarkan revolusi ke wilayah lain.

Baginya, perjuangan melawan ketimpangan dan imperialisme tidak berhenti di Kuba.

Che kemudian meninggalkan Kuba dan terlibat dalam upaya gerilya di Kongo.

Perjuangan tersebut tidak menghasilkan keberhasilan seperti yang diharapkan.

Setelah itu, ia kembali mencoba membangun gerakan gerilya di Bolivia.

Namun, kondisi di Bolivia jauh berbeda dari Kuba.

Dukungan masyarakat yang diharapkan tidak berkembang seperti perkiraan. 

Kelompok gerilya yang dipimpinnya juga terus mendapat tekanan dari pasukan pemerintah Bolivia.

Pada Oktober 1967, Che akhirnya ditangkap di wilayah La Higuera.

Sehari setelah penangkapannya, Che Guevara dieksekusi pada 9 Oktober 1967. Usianya saat itu 39 tahun.

Foto yang Mengubah Che Menjadi Ikon Dunia

Kematian tidak membuat nama Che menghilang.

Sebaliknya, wajahnya justru semakin dikenal setelah fotografer Alberto Korda mengabadikan potretnya dalam foto yang kemudian dikenal sebagai “Guerrillero Heroico”.

Foto tersebut memperlihatkan Che dengan tatapan serius dan baret khasnya.

Dalam beberapa dekade berikutnya, gambar itu menyebar ke berbagai penjuru dunia dan menjadi simbol yang digunakan oleh berbagai gerakan kiri serta kelompok yang mengidentikkan diri dengan semangat pemberontakan.

Namun, ada ironi dalam perjalanan simbol tersebut.

Che dikenal sebagai tokoh yang mengkritik kapitalisme dan konsumerisme.

Akan tetapi, wajahnya kemudian menjadi komoditas yang dijual dalam berbagai bentuk.

Potret tersebut muncul di kaus, poster, tas, mug, hingga berbagai barang komersial.

Ironi tersebut membuat warisan Che semakin kompleks.

Wajah seorang revolusioner anti-kapitalisme justru menjadi bagian dari industri budaya populer yang memiliki nilai ekonomi.

Che Guevara Tidak Bisa Dilihat dari Satu Sisi

Hampir enam dekade setelah kematiannya, perdebatan mengenai Che Guevara masih berlangsung.

Ada yang melihatnya sebagai dokter yang meninggalkan kehidupan nyaman untuk memperjuangkan kelompok tertindas.

Baca Juga: Ucapan “Saking Pintarnya Jadi Goblok” Prabowo Disorot Suzie Sudarman, Singgung Kondisi Rakyat

Ada pula yang menempatkan dirinya sebagai tokoh revolusioner yang terlibat dalam kekerasan politik dan eksekusi.

Kedua sisi tersebut menjadi bagian dari sejarah hidupnya.

Karena itu, memahami Che Guevara membutuhkan lebih dari sekadar melihat wajahnya yang tercetak pada kaus atau poster.

Perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana keyakinan politik dapat mendorong seseorang meninggalkan profesi, jabatan, kenyamanan, bahkan keselamatan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Che memilih kembali ke medan perjuangan hingga akhir hayatnya.

Kisah tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah abad ke-20 yang terus dipelajari, diperdebatkan, sekaligus dipopulerkan melalui budaya massa.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : instagram.com/logoslogis
Che Guevara sejarah Che Guevara Che Guevara sang revolusioner revolusi Kuba biografi Che Guevara