RADARBONANG.ID — Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara merdeka, seorang putra Tulungagung telah mencatatkan namanya dalam sejarah politik Belanda.
Sosok tersebut adalah Raden Adipati Ario Soejono, tokoh asal Jawa Timur yang pernah dipercaya masuk ke dalam kabinet pemerintahan Belanda.
Yang membuat kisahnya semakin menarik, Soejono bukan sekadar pernah berkiprah di pemerintahan kolonial.
Ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama sekaligus satu-satunya yang pernah menduduki posisi menteri dalam kabinet Belanda.
Parlement.com juga mencatat Soejono sebagai menteri asal Indonesia sekaligus menteri Muslim pertama dalam pemerintahan Belanda.
Berawal dari Tulungagung
Ario Soejono lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada 31 Maret 1886. Ia berasal dari keluarga priyayi dan kemudian meniti karier sebagai pegawai pemerintahan Hindia Belanda.
Baca Juga: Sarwendah Ajukan Jawaban Gugatan Ruben Onsu, Siapkan Rekonvensi dalam Perkara Hak Asuh Anak
Kariernya berkembang cukup cepat. Pada 1915, Soejono dipercaya menjadi Bupati Pasuruan dan menduduki jabatan tersebut hingga 1927.
Ia juga dua kali menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat Hindia Belanda, yakni pada periode 1920–1921 dan 1927–1935.
Pengalaman panjang di pemerintahan membuat Soejono tidak hanya dikenal sebagai pejabat administratif.
Ia juga semakin terlibat dalam persoalan politik yang berkaitan dengan hubungan antara Hindia Belanda dan negeri Belanda.
Masuk ke Pemerintahan Belanda
Perjalanan Soejono menuju kabinet Belanda berlangsung ketika Eropa berada dalam situasi genting akibat Perang Dunia II.
Setelah Belanda diduduki Nazi Jerman, pemerintahan Belanda beroperasi dari pengasingan di London.
Dalam situasi tersebut, Soejono ikut berada dalam lingkaran pemerintahan Belanda dan kemudian dipercaya menduduki jabatan menteri tanpa portofolio.
Ia mulai menjabat pada 9 Juni 1942 dan menjadi bagian dari kabinet Perdana Menteri Pieter Sjoerd Gerbrandy.
Posisi tersebut menjadikannya tokoh Indonesia pertama yang secara resmi duduk dalam jajaran pemerintahan Belanda.
Pengangkatan itu memiliki arti politik yang cukup besar.
Pemerintah Belanda ingin menunjukkan bahwa hubungan dengan masyarakat Hindia Belanda tetap memiliki ikatan, sekaligus berupaya mendapatkan dukungan politik di tengah perang.
Namun, keberadaan Soejono di dalam kabinet ternyata tidak membuatnya sekadar menjadi pelengkap pemerintahan.
Justru Membawa Kepentingan Indonesia
Di balik jabatan menteri yang diperolehnya, Soejono membawa pandangan mengenai masa depan Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa masyarakat di Hindia Belanda memiliki keinginan untuk menentukan masa depannya sendiri setelah perang.
Pandangan tersebut kemudian dituangkan dalam sejumlah catatan dan disampaikan dalam pembahasan kabinet.
Soejono mendorong agar Belanda memberikan ruang bagi rakyat Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri.
Dalam pandangannya, hubungan Indonesia dan Belanda setelah perang tidak bisa begitu saja kembali seperti sebelumnya.
Sikap tersebut membuat posisi Soejono cukup rumit. Ia berada di dalam pemerintahan Belanda, tetapi pada saat yang sama berusaha menyuarakan kepentingan masyarakat Indonesia.
Usulannya mengenai penentuan nasib sendiri ternyata tidak mendapatkan dukungan dari anggota kabinet lainnya.
Dalam sejumlah pembahasan, Soejono bahkan berulang kali menyampaikan pandangannya, tetapi tidak berhasil mengubah sikap pemerintah Belanda.
Jabatan yang Singkat, Jejak Sejarah yang Panjang
Soejono tidak lama menjalankan tugasnya sebagai menteri. Ia meninggal dunia di London pada 5 Januari 1943 dalam usia 56 tahun.
Masa pengabdiannya sebagai menteri pun berakhir bersamaan dengan wafatnya.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 10 September 2026 Bergerak Berbeda, Antam Naik Rp15 Ribu, UBS Terjun
Meski hanya sekitar tujuh bulan berada dalam kabinet Belanda, jejaknya tidak hilang begitu saja.
Namanya tetap tercatat sebagai satu-satunya orang Indonesia yang pernah menduduki jabatan menteri dalam pemerintahan Belanda.
Bahkan, Parlement.com menyebutnya sebagai menteri pertama yang memiliki latar belakang Indonesia dan Muslim dalam pemerintahan tersebut.
Kisah Ario Soejono menjadi bagian menarik dari sejarah hubungan Indonesia dan Belanda.
Ia berada di tengah pemerintahan kolonial, tetapi gagasan yang dibawanya justru berkaitan dengan masa depan dan hak menentukan nasib bangsa Indonesia.
Dari Tulungagung hingga London, perjalanan Soejono memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia tidak hanya berlangsung di tanah Nusantara.
Ada pula tokoh-tokoh yang berada di pusat kekuasaan negara kolonial dan mencoba menggunakan posisi tersebut untuk menyuarakan kepentingan masyarakat Indonesia.
Hingga kini, Ario Soejono tetap dikenang sebagai sosok yang berhasil menembus lingkaran tertinggi pemerintahan Belanda pada masa perang sekaligus menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah duduk sebagai menteri di kabinet negeri tersebut.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : goodnewsfromindonesia.id