Sebelum Fasilitas Kesehatan Semudah Sekarang, dr. Sander Batuna Mengabdi untuk Masyarakat Suku Asmat

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:11 WIB
Jauh sebelum layanan kesehatan semudah sekarang, ada dokter yang memilih datang ke tempat yang aksesnya tidak mudah. dr. Sander Batuna menjadi salah satu sosok yang dikenang karena pengabdiannya kepada masyarakat, khususnya Suku Asmat, di Papua pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. (wordpress.com)
Jauh sebelum layanan kesehatan semudah sekarang, ada dokter yang memilih datang ke tempat yang aksesnya tidak mudah. dr. Sander Batuna menjadi salah satu sosok yang dikenang karena pengabdiannya kepada masyarakat, khususnya Suku Asmat, di Papua pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. (wordpress.com)

RADARBONAG.ID – Jauh sebelum fasilitas kesehatan mudah ditemukan seperti sekarang, perjalanan menuju daerah terpencil di Indonesia bukanlah perkara sederhana.

Di tengah keterbatasan akses, transportasi, hingga tenaga medis, ada sosok-sosok yang memilih datang ke wilayah yang jauh dari pusat kota untuk memberikan pertolongan.

Salah satunya adalah dr. Sander Batuna, dokter yang kisah pengabdiannya begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Papua, khususnya Suku Asmat.

Namanya mungkin tidak sepopuler tokoh kesehatan yang sering muncul dalam buku sejarah.

Namun, pada akhir dekade 1960-an hingga awal 1970-an, kehadiran dr. Sander Batuna memiliki arti penting bagi masyarakat di wilayah Asmat.

Baca Juga: Sungai Kapuas Mendadak Punya “Pantai” Saat Kemarau, Hamparan Pasir Timbul Jadi Tempat Rekreasi Warga

Kisahnya menjadi bagian dari sejarah panjang pelayanan kesehatan di wilayah Indonesia Timur yang saat itu masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Ketika Dokter Harus Datang ke Tengah Keterbatasan

Membayangkan pelayanan kesehatan di Papua pada era 1960-an tentu berbeda jauh dengan kondisi sekarang.

Saat ini masyarakat dapat mengakses informasi kesehatan melalui internet, menggunakan kendaraan untuk menuju fasilitas medis, bahkan melakukan konsultasi secara daring.

Pada masa itu, kondisi tersebut belum tersedia.

Wilayah Asmat memiliki karakter geografis yang tidak mudah. Sungai, hutan, rawa, serta jarak antarpemukiman menjadi tantangan tersendiri bagi mobilitas.

Dalam situasi seperti itulah tenaga kesehatan dibutuhkan bukan hanya sebagai dokter, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Dr. Sander Batuna hadir dalam konteks tersebut.

Pengabdiannya membuat dirinya dikenal sebagai salah satu sosok penting bagi masyarakat Asmat pada masa tersebut.

Suku Asmat dan Tantangan Kesehatan di Pedalaman Papua

Suku Asmat merupakan salah satu kelompok masyarakat adat yang sangat dikenal dari Papua.

Kehidupan masyarakatnya memiliki hubungan erat dengan lingkungan alam di sekitarnya.

Sungai dan wilayah rawa menjadi bagian penting dalam mobilitas serta aktivitas sehari-hari.

Namun, kondisi geografis yang khas juga membuat akses terhadap layanan kesehatan menjadi tantangan.

Keterbatasan infrastruktur membuat perjalanan menuju fasilitas medis tidak selalu mudah.

Kehadiran tenaga kesehatan yang bersedia tinggal dan bekerja di wilayah tersebut menjadi sangat berarti.

Karena itu, sosok dokter di daerah pedalaman pada masa tersebut memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menangani pasien.

Mereka juga menjadi penghubung antara masyarakat dengan sistem pelayanan kesehatan yang masih berkembang.

Pengabdian yang Tidak Banyak Diketahui

Kisah dr. Sander Batuna menarik karena namanya kemudian juga dikenang melalui institusi kesehatan.

Salah satu rumah sakit di Cikarang, Jawa Barat, bahkan menggunakan nama RS Dr Sander Batuna. Nama tersebut tercatat dalam berbagai daftar fasilitas kesehatan.

Selain itu, nama dr. Sander Batuna juga digunakan oleh sebuah yayasan di Likupang,

Sulawesi Utara, yang menunjukkan bahwa sosoknya meninggalkan jejak dalam dunia pelayanan dan pengabdian sosial.

Hal tersebut membuat kisahnya semakin menarik untuk kembali dikenang.

Sebab, pengabdian seorang tenaga kesehatan terkadang tidak hanya meninggalkan kenangan pada pasien yang pernah ditolong, tetapi juga dapat diwariskan melalui institusi yang menggunakan namanya.

Dari Papua hingga Dikenang Lewat Nama Fasilitas Kesehatan

Kisah dr. Sander Batuna juga memperlihatkan bahwa sejarah pelayanan kesehatan Indonesia tidak hanya dibangun oleh rumah sakit besar di kota-kota.

Ada perjalanan panjang yang berlangsung di daerah-daerah terpencil.

Ada dokter dan tenaga kesehatan yang harus menghadapi kondisi geografis sulit, keterbatasan fasilitas, serta minimnya sarana penunjang.

Dalam kondisi tersebut, keputusan untuk tetap mengabdi menjadi bagian penting dari pembangunan kesehatan.

Pengalaman seperti inilah yang membuat cerita tentang tenaga medis masa lalu layak untuk terus diceritakan.

Bukan semata untuk mengenang sosok tertentu, tetapi juga untuk memahami betapa panjang perjalanan Indonesia dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih merata.

Mengapa Kisahnya Kembali Menarik Dibicarakan?

Di tengah perkembangan teknologi kesehatan saat ini, kisah pengabdian seperti dr. Sander Batuna terasa semakin relevan.

Telemedicine, rumah sakit modern, ambulans, hingga berbagai teknologi diagnostik membuat pelayanan kesehatan jauh lebih mudah dibanding beberapa dekade lalu.

Namun, tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan tetap menjadi persoalan tersendiri.

Masih ada masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan kesehatan.

Karena itu, cerita para tenaga kesehatan yang pernah mengabdi di wilayah terpencil dapat menjadi pengingat bahwa akses kesehatan tidak datang begitu saja.

Ada perjalanan panjang, pengorbanan, dan orang-orang yang memilih bekerja di tempat yang tidak mudah.

Baca Juga: Gara-Gara Robert De Niro, Michelle Monaghan Rela Balik Lagi ke Indonesia Demi Lihat Komodo

Sebuah Jejak Pengabdian di Tanah Papua

Kisah dr. Sander Batuna pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang dokter yang pernah bertugas di Papua.

Ia menjadi bagian dari cerita lebih besar tentang perjuangan menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang hidup jauh dari pusat pemerintahan dan fasilitas medis.

Pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, ketika teknologi dan infrastruktur belum seperti sekarang, kehadiran seorang dokter di tengah masyarakat Asmat memiliki arti yang sangat besar.

Jejak tersebut kemudian terus dikenang melalui berbagai catatan dan penggunaan namanya pada institusi kesehatan.

Di tengah dunia medis yang semakin modern, kisah seperti ini mengingatkan bahwa inti dari profesi kesehatan tetap sama: datang ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : goodnewsfromindonesia.id
dr Sander Batuna kisah dr Sander Batuna Suku Asmat Papua dokter di pedalaman Papua sejarah kesehatan Papua