Terungkap Sejarah Gunung Kawi yang Jarang Diketahui, Dulunya Jadi Tempat Pelarian Pejuang Diponegoro

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 16:07 WIB
Di balik stigma Gunung Kawi yang identik dengan cerita pesugihan dan mencari kekayaan secara instan, ternyata tersimpan kisah panjang tentang para pejuang yang melarikan diri setelah Perang Jawa. Nama Eyang Jugo dan Eyang Sujono juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah kawasan ini. (Sumber : IG/mountnesia)
Di balik stigma Gunung Kawi yang identik dengan cerita pesugihan dan mencari kekayaan secara instan, ternyata tersimpan kisah panjang tentang para pejuang yang melarikan diri setelah Perang Jawa. Nama Eyang Jugo dan Eyang Sujono juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah kawasan ini. (Sumber : IG/mountnesia)

RADARBONANG.ID — Nama Gunung Kawi di Jawa Timur selama ini kerap dikaitkan dengan berbagai cerita mistis.

Salah satu stigma yang paling melekat adalah anggapan bahwa kawasan tersebut merupakan tempat mencari kekayaan secara instan atau pesugihan.

Namun, di balik cerita yang berkembang di masyarakat, Gunung Kawi menyimpan sejarah panjang yang tidak banyak diketahui.

Kawasan ini ternyata memiliki kaitan dengan perjalanan para pejuang setelah berakhirnya Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

Sejarah tersebut berkaitan dengan dua tokoh yang dikenal masyarakat sebagai Eyang Jugo dan Eyang Sujono.

Baca Juga: Isu Reshuffle Kabinet Prabowo Menguat, Norman Joesoef Disebut Masuk Bursa Wamenhan dan Dinilai Relevan Hadapi Perang Hibrida

Jejak Pejuang Diponegoro di Lereng Gunung Kawi

Kisah sejarah Gunung Kawi tidak dapat dilepaskan dari situasi setelah berakhirnya Perang Jawa pada sekitar 1830.

Setelah perjuangan Pangeran Diponegoro berakhir dan banyak pengikutnya diburu oleh pemerintah kolonial Belanda, sejumlah tokoh memilih meninggalkan wilayah kekuasaan kolonial untuk mencari tempat yang lebih aman.

Dalam penuturan sejarah yang berkembang mengenai Gunung Kawi, dua tokoh yang kemudian dikenal sebagai Eyang Jugo dan Eyang Sujono disebut memilih bergerak menuju kawasan timur Pulau Jawa.

Keduanya kemudian membuka kawasan hutan di lereng Gunung Kawi atau melakukan babat alas.

Alih-alih membangun tempat yang identik dengan ritual mencari kekayaan, kawasan tersebut pada awalnya berkembang sebagai tempat tinggal dan komunitas bagi masyarakat.

Eyang Jugo dikenal memiliki latar belakang sebagai tokoh spiritual sekaligus orang yang memiliki kemampuan pengobatan tradisional.

Sementara Eyang Sujono disebut memiliki latar belakang bangsawan dan ikut dalam perjuangan melawan kolonial.

Eyang Jugo Dikenal sebagai Tabib

Salah satu sisi yang menarik dari sejarah Gunung Kawi adalah kisah mengenai peran Eyang Jugo dalam kehidupan masyarakat sekitar.

Ia dikenal sebagai sosok yang membantu warga melalui pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tanaman dan berbagai bahan yang tersedia di kawasan hutan.

Kemampuan tersebut membuat banyak orang datang untuk meminta pertolongan.

Menariknya, pengobatan yang diberikan tidak selalu dikaitkan dengan imbalan materi.

Nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama justru menjadi bagian penting dari kisah yang berkembang mengenai sosok Eyang Jugo.

Dari sinilah kawasan Gunung Kawi kemudian tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga berkembang sebagai tempat orang mencari pertolongan dan belajar dari kehidupan para tokohnya.

Kisah Saudagar Tionghoa dan Awal Toleransi

Ada pula kisah mengenai seorang saudagar keturunan Tionghoa yang datang untuk mendapatkan pengobatan dari Eyang Jugo.

Dalam cerita yang berkembang, saudagar tersebut kemudian berhasil mendapatkan pertolongan dan memiliki hubungan baik dengan masyarakat di sekitar Gunung Kawi.

Hubungan tersebut disebut menjadi salah satu bagian dari sejarah berkembangnya keberagaman masyarakat di kawasan tersebut.

Hingga kemudian, Gunung Kawi dikenal memiliki lingkungan dengan berbagai unsur budaya yang hidup berdampingan.

Keberadaan tempat ibadah dan bangunan yang memiliki unsur budaya Tionghoa di sekitar kawasan tersebut menjadi salah satu gambaran keberagaman yang telah berkembang selama bertahun-tahun.

Dengan demikian, Gunung Kawi tidak hanya memiliki cerita mengenai kehidupan spiritual, tetapi juga menyimpan kisah interaksi antara masyarakat dari latar belakang budaya yang berbeda.

Lalu Mengapa Identik dengan Pesugihan?

Stigma Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan menjadi salah satu hal yang paling sulit dilepaskan dari kawasan tersebut.

Namun, narasi tersebut perlu dibedakan dengan tradisi masyarakat yang datang untuk berdoa atau melakukan apa yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai ngalap berkah.

Tradisi ziarah dan doa pada makam tokoh yang dihormati kemudian dapat mengalami pergeseran makna ketika dikaitkan dengan keinginan memperoleh kekayaan secara cepat.

Ditambah lagi dengan keberadaan oknum tertentu yang memanfaatkan kepercayaan masyarakat.

Orang yang sedang mengalami persoalan ekonomi atau memiliki keinginan mendapatkan kekayaan secara instan bisa menjadi sasaran empuk pihak-pihak yang mengaku mampu menjadi perantara ritual tertentu.

Akibatnya, citra Gunung Kawi sebagai kawasan sejarah dan tempat ziarah perlahan tertutup oleh cerita tentang pesugihan.

Padahal, kisah mengenai Eyang Jugo dan Eyang Sujono justru banyak menekankan nilai perjuangan, kemanusiaan, ketekunan, dan kehidupan bersama.

Filosofi Pohon Dewandaru

Salah satu hal yang juga sering dikaitkan dengan kawasan makam di Gunung Kawi adalah pohon Dewandaru.

Pohon tersebut memiliki posisi khusus dalam cerita dan tradisi masyarakat yang berkunjung ke kawasan makam.

Namun, pohon Dewandaru tidak harus dimaknai semata-mata sebagai sumber kekuatan mistis.

Dalam penafsiran filosofis, keberadaan pohon tersebut justru dapat dilihat sebagai simbol kehidupan, ketangguhan, kesabaran, serta proses manusia dalam mendapatkan hasil dari apa yang telah ditanamnya.

Filosofi tersebut sejalan dengan pesan bahwa keberhasilan tidak diperoleh secara instan.

Seseorang harus melewati proses, bekerja keras, menjaga perilaku, serta menanam kebaikan sebelum akhirnya mendapatkan hasil.

Gunung Kawi dan Warisan yang Sering Terlupakan

Jika melihat kembali sejarahnya, Gunung Kawi memiliki cerita yang jauh lebih luas daripada sekadar stigma tempat mencari kekayaan.

Kawasan tersebut menyimpan jejak perjalanan tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan perjuangan setelah Perang Jawa, kehidupan masyarakat di tengah hutan, tradisi pengobatan, hingga hubungan lintas budaya.

Karena itu, berkunjung ke Gunung Kawi sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk melihat sisi lain dari kawasan tersebut.

Bukan hanya mencari cerita mistis, tetapi juga memahami bagaimana sebuah komunitas tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Baca Juga: Pemprov Sumut Siapkan Rp2 Miliar untuk Bangun Rumah Produksi Kelapa di Nias Utara, Petani Bakal Dapat Fasilitas Pengolahan

Kisah Eyang Jugo dan Eyang Sujono juga menjadi pengingat bahwa warisan sebuah tempat tidak selalu berbentuk bangunan atau benda bersejarah.

Nilai perjuangan, kepedulian terhadap sesama, toleransi, dan ketekunan juga menjadi bagian penting dari sejarah yang patut dipelajari.

Pada akhirnya, Gunung Kawi menyimpan dua wajah yang selama ini sering bertabrakan dalam cerita masyarakat: sebagai tempat yang dikelilingi berbagai mitos dan sebagai kawasan yang memiliki akar sejarah serta nilai kemanusiaan yang kuat.

Terlepas dari kepercayaan masing-masing pengunjung, memahami sejarahnya dapat menjadi cara untuk melihat Gunung Kawi secara lebih utuh.

Sebab, di balik stigma pesugihan yang begitu kuat, terdapat kisah tentang perjuangan, pengabdian, dan toleransi yang justru menjadi bagian penting dari perjalanan Gunung Kawi.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : youtube.com/@KEMBARASUNYI
Gunung Kawi sejarah Gunung Kawi pesugihan Gunung Kawi Eyang Jugo Eyang Sujono