Mengapa Keraton Yogyakarta Tak Pernah Memiliki Ratu? Begini Penjelasan Sejarah dan Perubahan yang Pernah Memicu Polemik

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 14:22 WIB
Selama lebih dari 270 tahun berdiri, Keraton Yogyakarta selalu dipimpin oleh seorang sultan laki-laki. Mengapa belum pernah ada ratu? Berikut sejarah, tradisi, dan dinamika yang melatarbelakanginya. (suaraaisyiyah.id)
Selama lebih dari 270 tahun berdiri, Keraton Yogyakarta selalu dipimpin oleh seorang sultan laki-laki. Mengapa belum pernah ada ratu? Berikut sejarah, tradisi, dan dinamika yang melatarbelakanginya. (suaraaisyiyah.id)

RADARBONANG.ID – Keraton Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan di Indonesia yang masih mempertahankan tradisi dan sistem pemerintahannya hingga kini. 

Sejak berdiri pada 1755, tampuk kepemimpinan Kasultanan Yogyakarta selalu dipegang oleh seorang sultan laki-laki.

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan yang kerap menjadi perbincangan masyarakat, yakni mengapa Keraton Yogyakarta belum pernah dipimpin oleh seorang ratu?

Jawabannya tidak sesederhana persoalan jenis kelamin semata.

Ada faktor sejarah, tradisi, hingga sistem suksesi yang telah diwariskan sejak berdirinya Kesultanan Yogyakarta.

Baca Juga: Katanya Kendaraan Listrik Lebih Hemat, Benarkah? Ini Perbandingan Biaya Motor dan Mobil Listrik vs Bensin

Tradisi Suksesi Sejak Berdirinya Kesultanan

Kesultanan Yogyakarta didirikan pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, atau Pangeran Mangkubumi, setelah Perjanjian Giyanti membagi Kesultanan Mataram menjadi dua kerajaan.

Sejak saat itu, pergantian pemimpin dilakukan melalui garis keturunan laki-laki.

Putra mahkota dipersiapkan untuk melanjutkan kepemimpinan sehingga hingga kini belum pernah ada perempuan yang naik takhta sebagai Sultan Yogyakarta.

Tradisi tersebut terus berlangsung dari masa Hamengku Buwono I hingga pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Pengaruh Sistem Patriarki dalam Tradisi Keraton

Sejarawan dan berbagai kajian budaya menyebut sistem suksesi Keraton Yogyakarta berkembang dalam tradisi masyarakat Jawa yang pada masa itu masih sangat dipengaruhi nilai patriarki.

Dalam sistem tersebut, pewaris utama kerajaan umumnya adalah anak laki-laki yang dianggap melanjutkan garis keturunan kerajaan sekaligus memegang tanggung jawab sebagai pemimpin.

Karena telah berlangsung selama ratusan tahun, tradisi tersebut menjadi bagian dari adat dan tata nilai yang dijaga oleh Keraton Yogyakarta.

Wacana Perubahan Pernah Muncul

Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir muncul wacana mengenai kemungkinan perempuan menjadi penerus takhta.

Perdebatan itu menguat setelah Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan sejumlah perubahan gelar di lingkungan keraton dan memberikan gelar Mangkubumi kepada putri sulungnya, yang dipandang oleh sebagian kalangan sebagai penanda posisi calon penerus.

Langkah tersebut memunculkan beragam tanggapan, baik yang mendukung maupun yang menolak karena dianggap menyentuh tradisi yang telah berlangsung lama.

Sri Sultan Hamengku Buwono X sendiri pernah menyampaikan bahwa nilai kesetaraan dalam kehidupan berbangsa membuat peluang perempuan menjadi penerus tidak semestinya ditutup hanya karena jenis kelamin.

Pernyataan tersebut kembali membuka ruang diskusi mengenai masa depan sistem suksesi di Keraton Yogyakarta.

Keraton Tetap Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Sebagai bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Keraton tidak hanya berfungsi sebagai simbol budaya, tetapi juga memiliki posisi yang unik dalam sejarah Indonesia.

Para Sultan Yogyakarta dikenal memiliki peran penting dalam mempertahankan eksistensi kerajaan, melewati masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga mendukung perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Perjalanan sejarah tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tradisi keraton masih dijaga hingga sekarang.

Daftar Sultan yang Pernah Memimpin Keraton Yogyakarta

Sejak berdiri hingga saat ini, Keraton Yogyakarta telah dipimpin oleh sepuluh sultan, yaitu:

Baca Juga: Sebelum Kota Tuban Ramai, Ada Ritual Ngopi dan Ketan yang Selalu Menyatukan Bapak-Bapak Setiap Pagi

Tradisi yang Terus Berkembang

Hingga kini belum pernah ada perempuan yang memimpin Keraton Yogyakarta sebagai Sultan.

Namun, dinamika mengenai sistem suksesi menunjukkan bahwa tradisi kerajaan tetap berdialog dengan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Pada akhirnya, siapa yang kelak akan melanjutkan kepemimpinan Keraton Yogyakarta merupakan bagian dari keputusan internal Kasultanan yang tetap menghormati adat, sejarah, dan ketentuan yang berlaku di lingkungan keraton.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : okezone.com
Sultan Hamengku Buwono sejarah Keraton Yogyakarta suksesi Keraton ratu Yogyakarta Keraton Yogyakarta