Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Menguak Jejak Perdukunan Nusantara dalam Prasasti Kuno Abad ke-7, Ternyata Dulu Jadi Profesi Terhormat di Masa Kerajaan

Amaliya Syafithri • Jumat, 17 Juli 2026 | 10:36 WIB
Istilah dukun ternyata sudah dikenal sejak lebih dari 1.300 tahun lalu. Simak bagaimana profesi ini tercatat dalam prasasti kuno dan perannya di masa Kerajaan Sriwijaya. (Sumber: AI)
Istilah dukun ternyata sudah dikenal sejak lebih dari 1.300 tahun lalu. Simak bagaimana profesi ini tercatat dalam prasasti kuno dan perannya di masa Kerajaan Sriwijaya. (Sumber: AI)

RADARBONANG.ID – Ketika mendengar kata dukun, sebagian besar masyarakat saat ini mungkin langsung mengaitkannya dengan praktik mistis, ilmu gaib, atau pengobatan tradisional yang kerap menjadi perbincangan di berbagai daerah.

Namun, jika ditelusuri dari sisi sejarah, istilah tersebut ternyata memiliki makna yang jauh lebih luas dan telah dikenal masyarakat Nusantara sejak lebih dari 1.300 tahun lalu.

Sejumlah bukti arkeologi menunjukkan bahwa profesi yang berkaitan dengan penyembuhan, ritual spiritual, hingga pengetahuan tentang alam telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada masa kerajaan-kerajaan kuno.

Bahkan, keberadaannya tercatat secara resmi dalam prasasti peninggalan abad ke-7 Masehi.

Temuan ini menunjukkan bahwa praktik yang kini dikenal sebagai perdukunan bukanlah fenomena baru, melainkan salah satu profesi tertua yang pernah berkembang dalam peradaban Nusantara.

Baca Juga: Bukan Sekadar Lari Biasa! Trail Run Jadi Tren Gaya Hidup Sehat yang Menggabungkan Petualangan, Kebugaran, dan Wisata Alam

Prasasti Talang Tuwo Menjadi Bukti Tertulis Tertua

Salah satu bukti penting mengenai keberadaan profesi tersebut dapat ditemukan dalam Prasasti Talang Tuwo, peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang bertarikh 684 Masehi.

Prasasti yang ditemukan di kawasan Palembang, Sumatera Selatan, itu merupakan salah satu peninggalan penting dari masa pemerintahan Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Dalam isi prasasti tersebut terdapat istilah yang dibaca sebagai "vdukan", yang oleh sejumlah ahli bahasa dan sejarah dikaitkan dengan kata dukun.

Istilah tersebut menggambarkan seseorang yang memiliki kemampuan khusus dalam bidang pengobatan, ritual keagamaan, kehidupan spiritual, hingga pemahaman mengenai alam.

Keberadaan istilah ini menjadi salah satu bukti bahwa profesi tersebut telah dikenal dan memiliki fungsi tertentu dalam struktur masyarakat pada masa Sriwijaya.

Dukun Dahulu Memiliki Kedudukan yang Terhormat

Berbeda dengan pandangan sebagian masyarakat modern yang sering mengaitkan dukun dengan praktik ilmu hitam, posisi mereka pada masa lampau justru memiliki kedudukan yang cukup terhormat.

Dalam lingkungan kerajaan maupun masyarakat, mereka dipercaya memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang kebanyakan.

Para dukun berperan sebagai penyembuh tradisional yang memanfaatkan pengetahuan mengenai tanaman obat, doa, ritual, hingga berbagai bentuk pengobatan yang berkembang pada zamannya.

Selain itu, mereka juga dipercaya menjadi penasihat spiritual, memimpin berbagai upacara adat, hingga membantu masyarakat dalam menjalankan ritual keagamaan maupun tradisi lokal.

Dalam beberapa kebudayaan Nusantara, profesi tersebut bahkan dianggap sebagai penghubung antara manusia dengan kekuatan yang diyakini berada di luar dunia fisik.

Tidak Hanya Mengobati, tetapi Juga Menjaga Kehidupan Masyarakat

Peran dukun pada masa kerajaan ternyata jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar mengobati orang sakit.

Mereka sering dipercaya memiliki pengetahuan mengenai siklus alam, perubahan musim, hingga waktu yang tepat untuk memulai kegiatan pertanian.

Dalam masyarakat agraris, kemampuan menentukan masa tanam menjadi hal yang sangat penting karena berhubungan langsung dengan keberhasilan panen.

Selain itu, mereka juga menjadi penjaga berbagai tradisi dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Keahlian tersebut diperoleh melalui pengalaman panjang serta proses pembelajaran yang berlangsung selama bertahun-tahun di lingkungan masyarakat.

Karena itulah, profesi ini memiliki posisi yang cukup penting dalam kehidupan sosial pada masa itu.

Mencerminkan Kekayaan Budaya Nusantara

Keberadaan istilah dukun dalam prasasti kuno juga memberikan gambaran mengenai kompleksitas sistem kepercayaan masyarakat Nusantara pada masa lampau.

Sebelum berkembangnya agama-agama besar di Indonesia, masyarakat telah memiliki berbagai bentuk kepercayaan yang berpadu dengan pengetahuan tentang alam, kesehatan, serta kehidupan sosial.

Praktik-praktik tersebut kemudian berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa sepenuhnya menghilangkan akar budaya yang telah ada sebelumnya.

Sejarah ini menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara telah membangun sistem pengetahuan lokal yang cukup maju sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat pada masa itu.

Pandangan terhadap Perdukunan Mengalami Perubahan

Seiring perjalanan waktu, makna kata dukun mengalami perubahan di tengah masyarakat.

Masuknya berbagai agama, perkembangan ilmu pengetahuan, hingga perubahan budaya membuat sebagian praktik yang dahulu dianggap sebagai bagian dari kehidupan sosial mulai dipandang secara berbeda.

Dalam konteks modern, istilah dukun sering kali dikaitkan dengan praktik mistis atau aktivitas yang dianggap bertentangan dengan norma tertentu.

Padahal, jika dilihat dari sudut pandang sejarah, profesi tersebut memiliki fungsi yang jauh lebih luas dan tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat negatif.

Sebagian besar perannya justru berhubungan dengan pelayanan kesehatan tradisional, pelestarian adat, hingga pendampingan spiritual sesuai sistem kepercayaan masyarakat pada masanya.

Prasasti Menjadi Sumber Penting Memahami Masa Lalu

Penemuan prasasti seperti Talang Tuwo menjadi salah satu sumber utama bagi para sejarawan untuk memahami kehidupan masyarakat Nusantara pada masa kerajaan.

Baca Juga: Terungkap! Ini 10 Peradaban Tertua di Dunia yang Mengubah Sejarah Manusia, Ternyata Mesir Bukan yang Paling Awal

Melalui tulisan yang dipahat di atas batu, para peneliti dapat mengetahui berbagai aspek kehidupan, mulai dari pemerintahan, agama, bahasa, sistem sosial, hingga profesi yang berkembang saat itu.

Setiap istilah yang tercantum dalam prasasti memberikan petunjuk mengenai bagaimana masyarakat kuno menjalankan kehidupannya dan membangun peradaban.

Karena itu, keberadaan prasasti tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga jendela untuk melihat perjalanan panjang budaya Nusantara.

Pada akhirnya, jejak profesi dukun yang tercatat dalam Prasasti Talang Tuwo membuktikan bahwa Nusantara telah mengenal berbagai bentuk pengetahuan lokal sejak lebih dari seribu tahun lalu.

Di balik berbagai perubahan makna yang terjadi hingga saat ini, catatan sejarah tersebut menunjukkan bahwa profesi tersebut pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat dan memiliki peran besar dalam bidang pengobatan, spiritual, adat, serta hubungan manusia dengan alam.

Memahami sejarah secara utuh membantu masyarakat melihat warisan budaya Nusantara dengan perspektif yang lebih luas dan tidak hanya berdasarkan pandangan masa kini.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : instagram.com/asisichannel
dukun Nusantara Prasasti Talang Tuwo Kerajaan Sriwijaya prasasti kuno sejarah nusantara