RADARBONANG.ID – Ketika membahas kejayaan Kerajaan Majapahit, nama-nama besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada sering kali menjadi pusat perhatian.
Namun di balik kemegahan kerajaan terbesar di Nusantara tersebut, terdapat sosok perempuan yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap arah perjalanan sejarah Majapahit, yakni Sri Rajapatni Dyah Gitarja atau yang lebih dikenal sebagai Gayatri Rajapatni.
Salah satu peninggalan bersejarah yang diyakini memiliki hubungan erat dengan tokoh penting tersebut adalah Candi Gayatri yang berada di Desa Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Hingga kini, situs tersebut masih menjadi objek penelitian sekaligus destinasi sejarah yang menarik perhatian para arkeolog, sejarawan, dan pecinta budaya Nusantara.
Banyak ahli meyakini bahwa candi ini merupakan tempat pendarmaan atau penghormatan terakhir bagi Gayatri Rajapatni, nenek dari Raja Hayam Wuruk yang berperan besar dalam menjaga keberlangsungan Dinasti Majapahit.
Baca Juga: Tak Perlu Jauh-Jauh, Tuban Punya Destinasi Liburan Lengkap dan Terjangkau
Sosok Penting di Balik Kerajaan Majapahit
Gayatri Rajapatni bukanlah tokoh biasa dalam sejarah Jawa kuno.
Ia merupakan putri dari Raja Kertanegara, penguasa terakhir Kerajaan Singhasari, sekaligus istri dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.
Posisinya yang strategis membuat Gayatri menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam transisi kekuasaan dari Singhasari menuju Majapahit.
Setelah Raden Wijaya wafat, pengaruh Gayatri tetap sangat kuat di lingkungan kerajaan.
Bahkan dalam sejumlah catatan sejarah, ia disebut memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas politik Majapahit pada masa-masa awal perkembangannya.
Lebih dari itu, Gayatri juga dikenal sebagai nenek dari Hayam Wuruk, raja yang kemudian membawa Majapahit mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14 bersama Mahapatih Gajah Mada.
Karena perannya yang begitu besar, tidak mengherankan apabila penghormatan khusus diberikan kepada dirinya setelah wafat.
Diyakini Menjadi Tempat Pendarmaan Gayatri
Candi Gayatri di Boyolangu dipercaya sebagai tempat pendarmaan Sri Rajapatni Gayatri.
Dalam tradisi Jawa-Hindu-Buddha kuno, pendarmaan merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh penting kerajaan yang telah meninggal dunia.
Tempat tersebut biasanya digunakan sebagai lokasi pemujaan sekaligus simbol penghormatan terhadap jasa-jasa tokoh yang bersangkutan.
Kepercayaan bahwa Candi Gayatri berkaitan dengan Sri Rajapatni didukung oleh berbagai temuan arkeologis dan kajian sejarah yang menghubungkan situs tersebut dengan masa pemerintahan Majapahit.
Bagi masyarakat dan para peneliti sejarah, keberadaan candi ini menjadi salah satu bukti penting yang menunjukkan betapa besarnya penghormatan kerajaan terhadap sosok Gayatri.
Arca Prajnaparamita yang Sarat Makna
Salah satu bagian paling menarik dari Candi Gayatri adalah keberadaan arca Buddha yang diyakini menggambarkan sosok Prajnaparamita, dewi kebijaksanaan dalam ajaran Buddha Mahayana.
Arca tersebut dikenal memiliki kualitas seni yang sangat tinggi dengan detail pahatan yang halus dan elegan.
Dalam banyak interpretasi sejarah, arca Prajnaparamita dianggap merepresentasikan sosok Gayatri Rajapatni yang pada masa akhir kehidupannya memilih menempuh jalan spiritual sebagai seorang bhiksuni atau pendeta perempuan Buddha.
Pilihan hidup tersebut menunjukkan bahwa Gayatri tidak hanya memiliki pengaruh politik yang besar, tetapi juga kedalaman spiritual yang tinggi.
Karena itu, arca tersebut menjadi simbol penting yang menggambarkan kebijaksanaan, ketenangan, dan pengabdian seorang tokoh perempuan yang dihormati oleh kerajaan.
Ciri Khas Arsitektur Majapahit
Secara arsitektural, Candi Gayatri menampilkan karakteristik khas bangunan era Majapahit yang banyak menggunakan material batu bata merah.
Material tersebut menjadi salah satu ciri utama berbagai bangunan peninggalan Majapahit yang masih dapat ditemukan hingga saat ini.
Meski sebagian struktur candi telah mengalami kerusakan akibat faktor usia dan kondisi alam, bentuk dasar bangunan masih memperlihatkan keahlian teknik konstruksi masyarakat Jawa kuno.
Keberadaan situs ini juga menjadi bukti tingginya kemampuan arsitektur dan seni pahat pada masa Majapahit.
Tak hanya berfungsi sebagai bangunan religius, candi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan politik, budaya, dan spiritual kepada generasi berikutnya.
Bukti Pentingnya Peran Perempuan dalam Majapahit
Candi Gayatri menyimpan pesan sejarah yang sangat penting mengenai posisi perempuan dalam masyarakat Jawa kuno.
Jika selama ini sejarah kerajaan sering didominasi oleh kisah para raja dan panglima perang, keberadaan situs ini menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki peran besar dalam menentukan arah pemerintahan dan perkembangan sebuah kerajaan.
Gayatri Rajapatni menjadi contoh nyata bagaimana seorang perempuan dapat berpengaruh dalam bidang politik, sosial, maupun spiritual.
Perannya dalam menjaga kesinambungan dinasti dan stabilitas kerajaan membuat namanya tetap dikenang hingga ratusan tahun setelah wafat.
Warisan Sejarah yang Perlu Dijaga
Hingga saat ini, Candi Gayatri masih menjadi salah satu situs bersejarah penting di Kabupaten Tulungagung.
Baca Juga: Pertamina Pastikan Stok Pertalite Aman di Seluruh Indonesia, Distribusi ke SPBU Berjalan Normal
Keberadaannya tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan Majapahit, tetapi juga menjadi pengingat akan sosok perempuan hebat yang turut membentuk sejarah Nusantara.
Melestarikan Candi Gayatri berarti menjaga salah satu bagian penting dari identitas bangsa.
Situs ini bukan sekadar tumpukan batu bata kuno, melainkan simbol penghormatan terhadap kebijaksanaan, kepemimpinan, dan pengaruh besar seorang perempuan yang berada di balik kejayaan Majapahit.
Di tengah perkembangan zaman, kisah Gayatri Rajapatni tetap relevan untuk dikenang sebagai inspirasi bahwa kekuatan sebuah peradaban tidak hanya dibangun oleh para raja dan panglima, tetapi juga oleh tokoh-tokoh perempuan yang memiliki visi dan kebijaksanaan luar biasa.
Editor : Muhammad Azlan Syah