Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Tak Banyak yang Tahu, Relief di Candi Jawi Ternyata Mengabadikan Kisah Cinta Pangeran Sutasoma dan Dewi Cantik dari Kerajaan Kasi

Amaliya Syafithri • Jumat, 12 Juni 2026 | 16:02 WIB
Di balik relief batu Candi Jawi di Pasuruan, ternyata tersimpan kisah cinta romantis antara Pangeran Sutasoma dan Dewi Candrawati yang sempat membingungkan para arkeolog selama bertahun-tahun. (Ilustrasi suasana romantis Jawa kuno/AI)
Di balik relief batu Candi Jawi di Pasuruan, ternyata tersimpan kisah cinta romantis antara Pangeran Sutasoma dan Dewi Candrawati yang sempat membingungkan para arkeolog selama bertahun-tahun. (Ilustrasi suasana romantis Jawa kuno/AI)

RADARBONANG.ID – Ketika mendengar kata candi, banyak orang langsung membayangkan bangunan kuno yang identik dengan ritual keagamaan, kisah kerajaan, hingga berbagai cerita mistis yang berkembang di masyarakat.

Tak sedikit pula yang menganggap relief-relief pada dinding candi hanya berisi adegan peperangan, ajaran moral, atau penggambaran dewa-dewi dalam kepercayaan masa lampau.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Di balik susunan batu kuno yang telah bertahan ratusan tahun, beberapa candi di Indonesia ternyata menyimpan kisah yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia, yakni tentang cinta dan romansa.

Salah satu contohnya dapat ditemukan di Candi Jawi yang berdiri megah di kawasan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Candi peninggalan masa Kerajaan Singasari ini ternyata menyimpan cerita asmara yang sempat menjadi misteri bagi para peneliti selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Motor Makin Canggih dengan ABS dan Fitur Modern, Mengapa Angka Kecelakaan di Jalan Masih Tinggi?

Candi Jawi dan Misteri Relief yang Membingungkan

Candi Jawi dikenal sebagai salah satu peninggalan penting dari era Kerajaan Singasari. Bangunan ini dipercaya sebagai tempat pendarmaan Raja Kertanegara, raja terakhir Singasari yang terkenal dengan pemikiran religius dan politiknya yang visioner.

Selain bentuk arsitekturnya yang unik karena memadukan unsur Hindu dan Buddha, perhatian para arkeolog juga tertuju pada relief-relief yang menghiasi bagian kaki candi atau batur.

Berbeda dengan relief candi lain yang biasanya mudah diidentifikasi berdasarkan cerita pewayangan atau kisah keagamaan tertentu, relief di Candi Jawi justru sempat menimbulkan tanda tanya besar.

Rangkaian adegan yang dipahat pada batu terlihat memiliki alur cerita tersendiri, tetapi sulit dikaitkan dengan kisah populer yang selama ini dikenal dalam literatur Jawa Kuno. Akibatnya, selama bertahun-tahun makna sebenarnya dari relief tersebut menjadi perdebatan di kalangan peneliti sejarah dan arkeologi.

Misteri yang Terpecahkan Lewat Sastra Jawa Kuno

Jawaban atas misteri itu akhirnya mulai ditemukan ketika para peneliti membandingkan relief Candi Jawi dengan naskah-naskah sastra Jawa Kuno yang masih tersimpan hingga sekarang.

Hasilnya cukup mengejutkan. Rangkaian adegan yang terpahat pada batu tersebut memiliki kesesuaian yang sangat kuat dengan salah satu bagian dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, pujangga besar pada masa Kerajaan Majapahit.

Kitab Sutasoma selama ini lebih dikenal karena melahirkan semboyan terkenal "Bhinneka Tunggal Ika" yang kemudian diadopsi menjadi moto resmi Indonesia.

Namun ternyata, di dalam karya sastra tersebut juga terdapat fragmen cerita romantis yang kemudian diabadikan dalam relief Candi Jawi.

Kisah Cinta Pangeran Sutasoma dan Dewi Candrawati

Bagian cerita yang dipahat pada relief Candi Jawi bukanlah adegan peperangan heroik atau pertarungan melawan raksasa seperti yang sering ditemukan pada relief candi lainnya.

Sebaliknya, relief tersebut mengisahkan perjalanan cinta antara Pangeran Sutasoma dan Dewi Candrawati.

Dewi Candrawati diceritakan sebagai putri cantik dari Kerajaan Kasi yang menjalani perjalanan panjang penuh tantangan. Dalam kisah tersebut, ia digambarkan memiliki tekad kuat dan kesetiaan yang luar biasa.

Perjalanan sang putri akhirnya mengantarkannya pada sebuah pertemuan penting dengan Pangeran Sutasoma di tempat yang dikenal sebagai Taman Ratnalaya.

Momen pertemuan tersebut menjadi salah satu bagian paling romantis dalam kisah yang diabadikan pada relief Candi Jawi. Melalui ukiran batu yang detail, para seniman masa lalu berhasil merekam emosi, keindahan, dan makna cinta yang melampaui zamannya.

Bukti Tingginya Peradaban Sastra Nusantara

Penemuan makna di balik relief Candi Jawi menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara pada masa lampau tidak hanya unggul dalam bidang arsitektur dan spiritualitas.

Mereka juga memiliki tradisi sastra yang kaya serta kemampuan bercerita yang sangat tinggi. Kisah cinta yang diabadikan dalam batu membuktikan bahwa tema romansa telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak ratusan tahun lalu.

Relief tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa para seniman dan pemahat pada masa kerajaan mampu menerjemahkan karya sastra ke dalam bentuk visual yang dapat dinikmati lintas generasi.

Melalui pahatan batu, cerita yang awalnya hanya dapat dibaca dalam naskah berhasil diubah menjadi karya seni yang bertahan hingga ratusan tahun kemudian.

Candi Sebagai Buku Cerita Abadi

Selama ini banyak orang memandang candi hanya sebagai bangunan bersejarah atau tempat pemujaan pada masa lalu. Padahal, fungsi candi jauh lebih luas dari itu.

Baca Juga: Ketika Semua Orang Ingin Didengar, Tapi Sedikit yang Mau Mendengarkan: Fenomena yang Makin Terasa di Era Media Sosial

Relief-relief yang menghiasi dinding dan kaki candi sesungguhnya berperan layaknya buku cerita yang menyimpan berbagai pengetahuan, nilai budaya, hingga kisah kehidupan masyarakat pada zamannya.

Candi Jawi menjadi salah satu contoh terbaik bagaimana sebuah bangunan kuno mampu merekam bukan hanya sejarah kerajaan, tetapi juga sisi kemanusiaan yang universal, yaitu cinta.

Di balik batu-batu yang tampak kokoh dan sunyi, tersimpan cerita yang mengingatkan bahwa perasaan kasih sayang, harapan, dan kerinduan telah menjadi bagian dari perjalanan manusia sejak berabad-abad lalu.

Karena itu, saat mengunjungi Candi Jawi, wisatawan tidak hanya melihat sebuah peninggalan sejarah. Mereka juga sedang menyaksikan lembaran kisah romantis yang diabadikan dalam batu dan berhasil bertahan melintasi zaman.

Sebuah bukti bahwa cinta, sama seperti sejarah, memiliki cara tersendiri untuk terus dikenang oleh generasi berikutnya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Candi Jawi #relief Candi Jawi #kisah cinta Sutasoma #Dewi Candrawati #sejarah Candi Jawi Pasuruan