RADARBONANG.ID – Selama ini semangka dikenal sebagai buah manis dan menyegarkan, identik dengan musim panas dan hidangan penutup.
Namun penelitian terbaru terhadap biji semangka berusia sekitar 6.000 tahun justru mengungkap fakta yang sangat berbeda dari tanaman yang kita nikmati saat ini.
Temuan tersebut berasal dari situs arkeologi Neolitik di Uan Muhuggiag, wilayah barat daya Libya.
Di lokasi tersebut, para arkeolog menemukan sisa-sisa biji semangka yang kemudian dianalisis menggunakan teknologi DNA purba.
Baca Juga: Waspada Terhadap Informasi Berlebihan, ini Alasan Mengapa Hidupmu Masih “Gini-Gini Aja”
Hasil analisis genetika menunjukkan bahwa struktur genetik tanaman tersebut berbeda jauh dari semangka modern.
Biji yang diteliti ternyata berasal dari varietas semangka liar yang memiliki rasa pahit, bukan manis seperti yang umum dikonsumsi sekarang.
Semangka Purba yang Pahit
Ilmuwan mengidentifikasi bahwa semangka purba tersebut kemungkinan memiliki daging buah berwarna putih dengan rasa pahit.
Hal ini disebabkan kadar senyawa cucurbitacin yang tinggi. Cucurbitacin adalah zat alami yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tanaman terhadap herbivora atau hewan pemakan tumbuhan.
Dalam jumlah besar, senyawa ini bisa berbahaya bagi manusia. Artinya, daging buah semangka purba kemungkinan tidak dikonsumsi secara luas seperti semangka manis saat ini.
Temuan ini memperlihatkan bahwa semangka pada masa Neolitik bukanlah buah pencuci mulut yang lezat, melainkan tanaman liar dengan karakteristik yang jauh berbeda dari hasil domestikasi modern.
Fokus pada Biji, Bukan Daging Buah
Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Neolitik kemungkinan besar memanfaatkan bijinya, bukan daging buahnya.
Biji semangka diketahui memiliki kandungan nutrisi tinggi, termasuk protein dan lemak sehat.
Para peneliti menduga biji-biji tersebut dikeringkan atau dipanggang untuk dijadikan camilan atau sumber energi. Cara pengolahan ini relatif sederhana dan sesuai dengan teknologi masyarakat pada masa itu.
Temuan ini mengubah perspektif kita tentang fungsi awal tanaman semangka.
Jika saat ini semangka dikenal sebagai buah segar yang dikonsumsi langsung, pada masa lalu ia mungkin lebih berperan sebagai sumber biji bergizi.
Jejak Domestikasi Tanaman
Studi terhadap biji semangka berusia ribuan tahun ini juga memberikan wawasan penting mengenai proses domestikasi tanaman.
Perubahan dari varietas liar yang pahit menjadi buah manis yang populer saat ini merupakan hasil seleksi manusia selama ribuan tahun.
Melalui proses budidaya, manusia secara bertahap memilih tanaman dengan rasa lebih manis, tekstur lebih lembut, dan kandungan cucurbitacin yang lebih rendah.
Evolusi tersebut menunjukkan bagaimana interaksi antara manusia dan tanaman membentuk karakter pangan modern.
Pemahaman ini tidak hanya penting bagi arkeologi, tetapi juga bagi ilmu pertanian dan genetika tanaman.
Dengan mengetahui asal-usul genetiknya, ilmuwan dapat lebih memahami bagaimana sifat tanaman berubah dan bagaimana potensi pengembangannya di masa depan.
Mengubah Cara Pandang
Penelitian ini membuktikan bahwa sejarah tanaman yang kita anggap biasa ternyata menyimpan kisah panjang dan kompleks.
Semangka yang kini identik dengan rasa manis dan kesegaran ternyata berakar dari varietas liar yang pahit dan lebih dimanfaatkan bijinya.
Dengan demikian, studi tentang semangka 6.000 tahun lalu bukan hanya soal rasa buah di masa lampau.
Ia menjadi jendela untuk memahami bagaimana nenek moyang kita beradaptasi dengan lingkungan, memanfaatkan sumber daya alam, dan secara perlahan membentuk tanaman pangan yang kita kenal hari ini.
Sejarah kecil dari sebutir biji ini pun mengingatkan bahwa setiap makanan di meja kita memiliki perjalanan evolusi yang panjang dan penuh transformasi.
Editor : Muhammad Azlan Syah