RADARBONANG.ID – Sepanjang aliran Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia yang membentang lebih dari 1.100 km dari hulu di Pegunungan Muller hingga muara di Laut Natuna, berkembang sebuah legenda yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di sepanjang sungai ini.
Cerita itu dikenal dengan nama Puake – sosok misterius yang diyakini sebagai penunggu sungai, dengan wujud yang beragam antara naga raksasa, buaya putih, hingga kura-kura raksasa.
Menurut kepercayaan setempat, Puake bukan sekadar cerita fiksi, melainkan bagian tak terpisahkan dari kearifan lokal masyarakat Kalimantan Barat, terutama di wilayah Pontianak, Sanggau, dan pesisir sungai lainnya.
Baca Juga: Tips Memilih Baju Lebaran 2026 agar Tetap Stylish dan Hemat
Anak-anak dan orang dewasa sering kali mendengar kisah ini sejak kecil, sebagai pengingat untuk menghormati alam serta menjaga keselamatan.
Siapa Itu Puake?
Kata “Puake” sendiri berasal dari istilah puaka atau pauke dalam bahasa Melayu yang merujuk pada makhluk gaib atau penjaga yang menghuni ruang tertentu — di air, hutan, atau tanah.
Di Kalimantan Barat, istilah ini dipakai khusus untuk menyebut makhluk penunggu Sungai Kapuas.
Wujud Puake dapat berbeda-beda menurut cerita yang diceritakan secara lisan:
-
Naga Raksasa
Di sejumlah wilayah, terutama sekitar Sanggau dan Pontianak, Puake digambarkan sebagai naga raksasa yang tubuhnya sangat panjang membentang di sepanjang sungai. Kepala naga diyakini berada di muara, sementara tubuhnya menjulur jauh ke hulu. -
Buaya Putih (Sarassa)
Di daerah Bansir, Pontianak, ada kisah tentang buaya putih besar yang disebut Sarassa. Buaya ini dipercaya sebagai bentuk Puake yang pernah muncul di permukaan air saat perayaan adat atau kejadian tertentu. -
Kura-kura Raksasa (Puake Biukur)
Selain bentuk naga dan buaya, beberapa cerita juga menyebutkan keberadaan kura-kura raksasa bernama Puake Biukur. Keberadaan ini dihubungkan dengan spesies nyata yang sangat langka, yaitu kura-kura gading (Orlitia borneensis).
Fungsi Sosial dan Alamiah Legenda Puake
Legenda Puake bukan sekadar cerita seram, tetapi memiliki sejumlah makna dan fungsi sosial bagi masyarakat:
-
Pendidikan dan Perlindungan Anak
Cerita tentang Puake sering digunakan oleh orang tua untuk mengingatkan anak agar tidak bermain terlalu jauh di sungai saat waktu petang atau larut senja demi keselamatan mereka. -
Simbol Penjagaan Lingkungan
Kepercayaan akan Puake sebagai penjaga sungai memberi pesan moral bahwa sungai harus dijaga kebersihannya. Ini menciptakan norma sosial di mana masyarakat menghormati dan merawat sungai sebagai sumber kehidupan. -
Penjelasan Fenomena Alam
Karena ketidaktahuan terhadap banyak fenomena alam di masa lalu, seperti gelombang besar, pusaran air, atau banjir tiba-tiba, masyarakat sering mengaitkannya dengan aktivitas makhluk gaib seperti naga atau buaya penjaga di dasar sungai.
Legenda Naga dan Buaya: Asal Usul Penjaga Kapuas
Salah satu kisah legenda yang populer menggambarkan asal-usul Puake sebagai dua bersaudara — Naga dan Buaya — anak seorang raja di Kerajaan Kahayan Hilir di Pulau Mintin.
Naga yang sombong dan Buaya yang rendah hati berkonflik saat ayah mereka pergi bertapa.
Akhirnya, ayah mereka kembali dan menghukum kedua anaknya: Naga dikutuk menjadi naga sungguhan dan diperintahkan menjaga sungai, sementara Buaya menjadi buaya sungguhan yang tinggal di Pulau Mintin untuk menahan masuknya air asin dari laut.
Sejak saat itu, legenda Puake terus hidup dalam ingatan masyarakat, menjadi bagian dari warisan budaya Kalimantan Barat yang kaya dengan cerita rakyat dan misteri alam.
Editor : Muhammad Azlan Syah