RADARBONANG.ID — Di lereng pegunungan dan di desa-desa kecil Kabupaten Bondowoso, masyarakat Jawa Timur menyimpan sebuah legenda yang sudah turun-temurun dibisikkan dari generasi ke generasi: kisah Singo Ulung, tokoh legendaris yang dipercaya bisa berubah menjadi singa putih dengan kesaktian luar biasa.
Legenda ini kini tak hanya menjadi cerita rakyat, tetapi juga identitas budaya yang diabadikan dalam kesenian tradisional Ronteg Singo Ulung yang terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Asal usul Singo Ulung terkait erat dengan sejarah lokal Desa Blimbing, Kecamatan Klabang.
Menurut cerita rakyat yang berkembang, pada abad ke-16 hiduplah seorang tokoh sakti bernama Kiai Singo Ulung, yang berasal dari wilayah Mataraman dan diyakini memiliki hubungan silsilah dengan Batoro Katong Ponorogo. Ia dikenal karena keberaniannya dan kesetiaannya membantu masyarakat di sana.
Suatu hari, dalam pengembaraannya, Singo Ulung singgah di hutan lebat yang kini dikenal sebagai Desa Blimbing.
Ia berteduh di bawah pohon blimbing untuk istirahat dan memberi makan pada para pengikutnya.
Namun keberadaannya mengusik Juk Jasiman, penguasa hutan yang merasa teritorinya telah dilanggar tanpa permisi. Konflik pun tak terelakkan.
Pertarungan antara Singo Ulung dan Juk Jasiman berlangsung sengit dan lama, menggunakan senjata utama berupa batang rotan.
Selama 41 hari mereka beradu kekuatan. Dalam klimaksnya, Singo Ulung mengeluarkan ilmu pamungkasnya: ia berubah wujud menjadi Sardula Seta, makhluk setengah harimau/hingga singa putih yang sakti. Tidak mampu mengalahkan Singo Ulung, Juk Jasiman akhirnya mengakui kehebatan Sang tokoh, kemudian memeluk ajaran Islam dan ikut mendukung misi dakwahnya di kawasan itu.
Dari Legenda ke Seni Tradisional
Kisah Singo Ulung kemudian dikemas menjadi seni pertunjukan yang dikenal sebagai Ronteg Singo Ulung, sebuah bentuk pertunjukan tradisional yang memadukan tarian, musik, dan drama yang menggambarkan legenda tersebut.
Dalam pertunjukan ini, dua pemain mengenakan kostum berbentuk singa — terkadang dengan kepala topeng yang terbuat dari kayu dan tubuh dari bahan seperti karung putih atau tali rafia — menyerupai seekor singa putih saat bergerak di panggung.
Atraksi ini biasanya diiringi musik gamelan khas dan seni ojhung — seni saling bertarung menggunakan rotan yang terinspirasi dari pertarungan tokoh-tokoh dalam legenda.
Ronteg Singo Ulung tak hanya dipentaskan sebagai hiburan, melainkan juga sebagai ritual sakral yang dipercaya membawa keberkahan, termasuk keselamatan desa dari marabahaya.
Tradisi ini sangat kuat di Desa Blimbing yang menjadi pusat pertunjukan dan ritual tahunan.
Di sana, selain pertunjukan Ronteg, digelar juga prosesi rokat atau ruwat desa bernama Ghadisah setiap pertengahan bulan Sya’ban menurut kalender Hijriyah, sebagai bentuk permohonan keselamatan dan pembersihan desa menjelang bulan suci Ramadan.
Warisan Budaya dan Pengakuan Internasional
Kesadaran akan nilai budaya Ronteg Singo Ulung tidak hanya dirasakan di tingkat lokal.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso bersama komunitas dan budayawan terus berupaya menjaga eksistensi tradisi ini.
Bahkan, Ronteg Singo Ulung telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dan kemudian diajukan sebagai bagian dari Ijen Geopark sebagai Culture Site yang diakui UNESCO Global Geopark.
Selain itu, budaya ini terus diajarkan kepada generasi muda melalui buku muatan lokal di sekolah-sekolah sehingga pelestariannya semakin terjamin.
Replika tokoh Singo Ulung dan topeng tradisionalnya kini menjadi simbol dan souvenir budaya yang menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.
Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat
Lebih dari sekadar tarian atau pertunjukan, kisah Singo Ulung menyimpan nilai-nilai luhur tentang kepemimpinan, keberanian, dan persatuan.
Dalam tradisi lisan Bondowoso, cerita ini kerap menjadi alat pendidikan budaya yang memperkuat identitas komunitas dan menghormati leluhur.
Nilai-nilai seperti gotong-royong, kasih sayang terhadap sesama, serta sikap religius juga tercermin dalam struktur legenda ini.
Kini, Ronteg Singo Ulung tidak hanya menjadi tontonan seni tradisional, tapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan budaya Bondowoso, menghubungkan masa lalu dengan masa kini sekaligus mengokohkan identitas lokal di tengah arus modernisasi.
Editor : Muhammad Azlan Syah