RADARBONANG.ID – Sevilla dikenal sebagai salah satu kota paling memikat di selatan Spanyol.
Selain arsitektur bersejarah dan tradisi budayanya yang kuat, kota ini memiliki ciri khas unik yang langsung terasa saat musim semi tiba: aroma harum bunga jeruk yang menyebar di hampir seluruh sudut kota.
Tidak kurang dari 40.000 pohon jeruk tumbuh di sepanjang jalan, taman, hingga alun-alun, menjadikan Sevilla dijuluki sebagai Kota Jeruk.
Keberadaan pohon jeruk di Sevilla bukan sekadar elemen penghias kota. Ia telah menjadi bagian dari identitas visual dan budaya masyarakat selama berabad-abad.
Saat bunga-bunga bermekaran, udara kota dipenuhi wangi manis yang lembut namun kuat.
Pemandangan deretan pohon dengan buah berwarna jingga cerah di antara bangunan tua menciptakan lanskap yang begitu khas dan sulit ditemukan di kota lain.
Asal Usul Pohon Jeruk di Sevilla
Jenis pohon yang paling banyak ditanam di Sevilla adalah jeruk pahit atau Citrus × aurantium. Pohon ini diyakini masuk ke Eropa melalui jalur perdagangan kuno dari Asia.
Para pedagang membawa tanaman tersebut ke kawasan Mediterania pada abad pertengahan, sebelum akhirnya menyebar luas di Semenanjung Iberia.
Perkembangan besar penanaman jeruk di Sevilla terjadi saat wilayah Andalusia berada di bawah kekuasaan Muslim antara abad ke-10 hingga ke-12.
Pada masa itu, konsep taman dan ruang hijau memiliki makna penting dalam budaya Arab.
Taman dipandang sebagai simbol keindahan, kesejukan, dan gambaran surga. Pohon jeruk dipilih bukan hanya karena buahnya, tetapi karena bunga putihnya yang harum, dikenal dengan sebutan azahar.
Tradisi ini bertahan hingga kini. Pemerintah kota tetap mempertahankan dan merawat ribuan pohon jeruk sebagai bagian dari lanskap historis Sevilla.
Bahkan, penanaman pohon jeruk baru terus dilakukan untuk menjaga kesinambungan identitas kota.
Identitas Kota yang Melekat
Bagi warga lokal, pohon jeruk bukan sekadar tanaman hias. Ia adalah simbol kota. Dari halaman gereja tua hingga trotoar di pusat kota, jeruk pahit tumbuh teratur mengikuti tata kota yang sudah dirancang sejak lama.
Saat musim semi datang, keharuman azahar menjadi penanda pergantian musim yang dinantikan.
Aroma ini menciptakan pengalaman multisensori bagi siapa pun yang berjalan di Sevilla.
Wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan arsitektur klasik dan jalan berbatu, tetapi juga merasakan suasana yang hidup melalui wangi bunga jeruk yang khas.
Secara visual, warna oranye buah yang kontras dengan dinding bangunan berwarna krem dan putih semakin memperkuat karakter estetika kota. Kombinasi ini membuat Sevilla sering dianggap sebagai salah satu kota paling romantis di Spanyol.
Bukan untuk Dimakan Segar
Menariknya, jeruk yang tumbuh di jalanan Sevilla bukan jenis jeruk manis yang biasa dikonsumsi langsung.
Jeruk pahit memiliki rasa yang kuat dan asam sehingga kurang cocok dimakan segar. Meski demikian, buah ini tetap memiliki nilai ekonomi.
Jeruk pahit banyak dimanfaatkan dalam industri makanan dan kosmetik. Kulit dan daging buahnya sering diolah menjadi marmalade atau selai jeruk yang populer di berbagai negara Eropa.
Selain itu, bunga jeruk diolah menjadi minyak esensial yang digunakan dalam pembuatan parfum dan produk perawatan kulit.
Dengan demikian, pohon jeruk Sevilla bukan hanya memiliki nilai estetika dan sejarah, tetapi juga manfaat praktis.
Pemerintah kota biasanya memanen buah yang jatuh untuk diolah lebih lanjut, sehingga tidak terbuang sia-sia.
Baca Juga: Kenalan Sama Bancassurance: Saat Nabung di Bank Sekalian Dapat Proteksi Hidup
Warisan Sejarah yang Terjaga
Keberadaan lebih dari 40.000 pohon jeruk di Sevilla menunjukkan bagaimana sejarah dan tata kota dapat berpadu secara harmonis.
Dari masa perdagangan kuno hingga pengaruh budaya Arab, jeruk pahit telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang kota ini.
Hingga kini, Sevilla tetap mempertahankan julukannya sebagai Kota Jeruk. Aroma bunga yang menguar setiap musim semi bukan sekadar wangi alami, melainkan simbol kesinambungan sejarah dan identitas budaya yang hidup di tengah modernitas.
Pohon-pohon jeruk itu berdiri sebagai saksi perjalanan waktu, menghubungkan masa lalu dan masa kini dalam satu lanskap kota yang harum dan berwarna.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah