Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Cap Tangan 67.800 Tahun di Sulawesi, Lukisan Gua Tertua yang Pernah Ditemukan

Muhammad Azlan Syah • Kamis, 22 Januari 2026 | 14:16 WIB

Cap tangan berusia sekitar 67.800 tahun ditemukan di Gua Liang Metanduno, Sulawesi Tenggara, menjadi karya seni cadas tertua yang pernah tercatat.
Cap tangan berusia sekitar 67.800 tahun ditemukan di Gua Liang Metanduno, Sulawesi Tenggara, menjadi karya seni cadas tertua yang pernah tercatat.

RADARBONANG.ID - Penemuan arkeologi spektakuler kembali datang dari Indonesia.

Tim peneliti internasional mengumumkan ditemukannya lukisan tangan atau cap tangan manusia tertua di dunia di dalam sebuah gua di Sulawesi Tenggara.

Lukisan tangan ini diperkirakan berusia setidaknya 67.800 tahun, menjadikannya seni cadas tertua yang pernah ditemukan secara ilmiah di permukaan bumi.

Penemuan di Gua Liang Metanduno

Lukisan kuno ini ditemukan di Gua Liang Metanduno di Pulau Muna, bagian dari wilayah Sulawesi Tenggara.

Baca Juga: Infinix Note Edge Hadir di Indonesia, Bodi Tipis dan Baterai 6.500 mAh Jadi Andalan dan siap saingi iPhone Air

Cap tangan ini berupa cetakan negatif tangan yang dibuat dengan cara meniup pigmen di sekitar tangan yang menempel di dinding batu gamping.

Teknik serupa sudah dikenal dalam sejarah seni gua manusia purba, tetapi temuan di Sulawesi ini jauh lebih tua dari contoh seni cadas yang sebelumnya tercatat.

Penanggalan umur lukisan dilakukan dengan metode uranium-series dating pada lapisan mineral yang terbentuk di atas pigmen.

Teknik ini memungkinkan peneliti untuk menentukan “usia minimum” dari karya seni tersebut, yang dalam kasus ini mencapai 67.800 tahun – lebih tua dari lukisan serupa di gua lain di dunia yang pernah ditemukan.

Mengubah Persepsi Sejarah Seni Manusia

Penemuan ini menarik karena menggambarkan bahwa manusia purba telah mengembangkan ekspresi simbolik visual jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Cap tangan ini menunjukkan bahwa pencipta seni prasejarah telah memiliki kemampuan konseptual dan simbolik kompleks, dan bukan sekadar tanda-tanda sederhana.

Uniknya, beberapa cap tangan ini memiliki ujung jari yang tampak menipis atau dibuat lebih tajam, seakan sengaja dimodifikasi untuk menciptakan bentuk yang bukan sekadar cetakan tangan biasa.

Pola ini hanya terlihat di wilayah Sulawesi dan menjadi ciri khas seni gua prasejarah di sana.

Penemuan yang Lebih Tua dari yang Pernah Ada

Sebelumnya, seni gua tertua yang diketahui berasal dari Eropa, termasuk cap tangan di gua Maltravieso, Spanyol, yang berusia sekitar 64.000 tahun.

Lukisan di Sulawesi ini mengalahkan usia tersebut dan memberikan bukti kuat bahwa tradisi seni prasejarah sudah berkembang di Asia Tenggara jauh sebelum itu.

Temuan ini juga mengonfirmasi bahwa wilayah Indonesia, khususnya kawasan Sulawesi, merupakan salah satu pusat seni gua tertua di dunia, bersama dengan penemuan seni gua lain yang berusia puluhan ribu tahun di kawasan ini.

Implikasi pada Sejarah Migrasi Manusia

Lebih dari sekadar bukti estetika manusia purba, lukisan tangan di Sulawesi juga memberikan wawasan baru tentang perjalanan migrasi manusia modern awal (Homo sapiens) ke wilayah Asia dan Australia.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa seni ini menandakan keberadaan kelompok manusia yang mungkin terkait dengan populasi awal yang menyebar dari Asia menuju Australia–Papua lebih dari 60.000 tahun lalu.

Penemuan ini mendukung hipotesis bahwa manusia telah melakukan perjalanan dan menetap di wilayah kepulauan Asia jauh sebelum catatan arkeologi lengkap lainnya tersedia.

Dengan memahami cara mereka mengekspresikan diri secara visual, ilmuwan dapat lebih jelas melihat bagaimana kebudayaan dan komunikasi simbolik berkembang di masa prasejarah.

Baca Juga: China Rampungkan Pulau Buatan Raksasa Setelah 12 Tahun Reklamasi di Laut China Selatan

Pelestarian dan Tantangan Masa Depan

Temuan ini sekaligus mengingatkan akan pentingnya pelestarian situs-situs arkeologi. Seni gua kuno sangat rentan terhadap kerusakan akibat perubahan iklim, aktivitas manusia, dan pembangunan.

Para ahli menekankan kebutuhan untuk melindungi situs-situs seperti Gua Liang Metanduno agar generasi mendatang dapat terus belajar dari peninggalan sejarah manusia purba ini.

Penelitian lebih lanjut juga direncanakan untuk mengungkap lukisan-lukisan lain di gua-gua sekitar kawasan ini.

Banyak di antaranya belum diteliti secara menyeluruh dan bisa jadi menyimpan informasi lebih dalam tentang kehidupan, kepercayaan, dan budaya visual manusia prasejarah.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#seni gua tertua dunia #Liang Metanduno rock art #lukisan tangan tertua #Penemuan arkeologi Indonesia #Sulawesi #Seni cadas prasejarah #Cap tangan 67800 tahun