RADARBONANG.ID - Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, teknologi pengelolaan air menunjukkan tingkat kecanggihan yang mengejutkan.
Di balik kemegahan candi dan pusat peradaban kerajaan terbesar di nusantara itu, terdapat sistem jaladwara — pancuran air yang dipasang di bangunan petirtaan dan candi untuk mengatur aliran air.
Teknologi ini tidak hanya berfungsi secara estetik, tetapi juga memiliki peran penting dalam mencegah banjir serta menjaga struktur bangunan agar tetap kokoh dalam menghadapi curahan hujan dan limpahan air hujan yang tinggi.
Jaladwara sendiri merupakan istilah untuk bagian dari saluran air yang memanjang dan menyalurkan aliran keluar dari bangunan.
Umumnya pancuran kecil itu ditempatkan pada dinding petirtaan, candi, atau struktur lain yang memerlukan sistem drainase.
Baca Juga: Prilly Latuconsina Tunjukkan Rutinitas Olahraga Stylish, Inspirasikan Gaya Hidup Sehat
Dalam banyak situs kuno di Jawa Timur, terutama di kawasan Trowulan dan sekitarnya, temuan jaladwara memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat Majapahit memanfaatkan elemen air sebagai bagian dari kehidupan religius sekaligus teknik bangunan yang efektif.
Desain dan Fungsi Jaladwara
Secara tradisional, jaladwara berbentuk pancuran atau cerat air yang sering kali dihias dalam bentuk simbolik seperti kepala makara, naga, atau sosok makhluk mitologis lainnya.
Bentuk-bentuk ini bukan hanya memiliki estetika artistik, tetapi juga berfungsi mengalirkan air keluar dari struktur utama.
Dalam konteks bangunan candi atau petirtaan, jaladwara bekerja seperti sistem drainase modern — mengarahkan air hujan atau air dari sumber ke saluran atau kolam sehingga tidak merusak fondasi bangunan akibat genangan air. Konsep ini menunjukkan pemahaman yang tinggi akan dinamika air dan struktur bangunan.
Di beberapa situs petirtaan kuno, jaladwara ditemukan dalam konfigurasi tertentu yang mengarahkan air keluar melalui lubang-lubang kecil. Sistem ini tampak seperti rangkaian jalur air yang terhubung dengan kolam pusat atau bangunan tengah.
Hal ini menandakan bahwa sistem pengairan pada masa itu tidak sekadar berfungsi sebagai drainase, tetapi juga sebagai bagian dari simbol ritual dan keagamaan.
Air dianggap sebagai elemen suci yang melambangkan kehidupan dan kesucian, sehingga tidak heran jika jaladwara ditempatkan pada lokasi yang berhubungan dengan petirtaan dan prosesi penyucian.
Peran Jaladwara dalam Mitigasi Banjir
Selain fungsi estetik dan ritual, jaladwara juga menjadi bagian penting dari sistem pengendalian air yang lebih luas.
Di kawasan Trowulan dan Mojokerto, terdapat banyak bukti peninggalan saluran dan struktur air kuno berupa saluran batu bata yang digunakan untuk mengalirkan air dari satu area ke area lain.
Saluran ini dibangun dengan perencanaan yang matang sehingga dapat menyalurkan air secara efektif, mengurangi risiko banjir di area permukiman dan bangunan suci.
Berbagai temuan arkeologi juga menunjukkan bagaimana saluran tersebut membantu mengatur aliran air di daerah sekitar persawahan, sehingga berfungsi layaknya sistem irigasi yang membantu kegiatan pertanian sekaligus mencegah banjir.
Tidak hanya sistem drainase horizontal, jaladwara pun menjadi bagian integral dari sistem pembuangan air dalam struktur yang lebih kompleks.
Ketika hujan deras turun, jaladwara memastikan bahwa air tidak stagnan di area sensitif seperti kaki bangunan candi atau dasar petirtaan.
Dengan mengalirkan air jauh dari struktur utama, teknologi kuno ini membantu melindungi bangunan dari kerusakan akibat tekanan air yang tak terkontrol.
Makna Budaya dan Arkeologis
Temuan jaladwara bersama dengan artefak lain seperti fragmen tembikar, arca, dan saluran air besar lainnya menjadi bukti kuat keberadaan sistem pengelolaan air yang maju.
Baca Juga: Merasa Tahun Ini Kok Cepat Banget? Ini Fenomena Waktu yang Terasa Singkat
Penemuan jaladwara di situs petirtaan, misalnya yang memiliki motif kepala naga, memberikan bukti bahwa sistem air pada masa itu tidak hanya teknis, tetapi juga kaya akan nilai simbolik dan spiritual.
Air dianggap suci, melambangkan kesucian, kehidupan, bahkan keberkahan. Hal ini menunjukkan bagaimana kehidupan sehari-hari dan kepercayaan spiritual begitu erat terkait dalam budaya Majapahit.
Analisis arkeologis terhadap struktur kanal air kuno dan jaladwara yang ditemukan menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit telah memahami konsep drainase dan pengendalian banjir jauh sebelum era modern.
Sistem-sistem ini menunjukkan kemampuan teknik sipil yang tidak hanya memperhatikan sisi fungsional, tetapi juga filosofis, menjadikan Majapahit sebagai salah satu peradaban dengan pemikiran teknologi yang maju pada zamannya.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah