Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dalam Agama Islam Batu Hajar Aswad Dikenal Sebagai Batu Yang Jatuh Dari Surga, Begini Penjelasan Ilmiahnya

M Robit Bilhaq • Minggu, 14 Desember 2025 | 21:45 WIB
batu hajar aswad
batu hajar aswad

RADARBONANG.ID - salah satu relik paling suci dalam sejarah Islam, dipercaya telah ada sejak era Nabi Ibrahim adalah Hajar Aswad, secara tradisional, batu berwarna hitam yang tertanam di sudut Ka'bah tersebut dikisahkan asalnya dari surga dan memegang peranan krusial dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah.

Bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, banyak peneliti yang telah berupaya untuk melakukan penyelidikan terlkait dengan asal-usul Hajar Aswad menggunakan metode ilmiah.

Terdapat sejumlah studi penelitian yang telah dilakukan untuk melakukan analisis sifat fisik dan komposisi batu tersebut untuk menjawab pertanyaan mengenai sumbernya.

Salah satu hipotesis yang sering dibicarakan adalah kemungkinan Hajar Aswad adalah sebuah batu meteor atau meteorit, spekulasi tersebut muncul karena adanya kisah dalam narasi agama Islam yang menjelaskan bahwa batu yang disebut Hajar Aswad tersebut turun dari langit, sebuah deskripsi yang dalam sudut pandang ilmiah sering dihubungkan dengan benda antariksa yang jatuh ke Bumi atau sering dikenal dengan meteor.

Di samping itu, beberapa catatan sejarah mengindikasikan terdapat sebuah jejak meteorit berada area sekitar Makkah, khususnya di dekat Ka'bah, lokasi Hajar Aswad berada.

Penemuan tersebut ini kemudian mendorong para ilmuwan untuk menghubung hubungkan antara batu Hajar Aswad dengan insiden tubrukan meteor yang terjadi di masa lalu.

Salah satu penelitian yang sering dijadikan rujukan adalah karya E. Thomsen, berjudul New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka'ba, yang diterbitkan pada tahun 1980.

Dalam studi penelitian tersebut, Thomsen mengacu pada temuan peneliti bernama Philby yang pada tahun 1932 yang menemukan bahwa terdapat sebuah kawah akibat tumbukan meteor di wilayah Al-Hadidah, yang kini dikenal sebagai Kawah Wabar.

Kawah Wabar tersebut dilaporkan mempunyai diameter lebih dari 100 meter, selain itu di sekitar kawah, para peneliti juga menemukan adanya serpihan batuan yang tersebar di gurun, yang terbentuk dari leburan pasir dan silika yang bercampur dengan nikel.

Setelah melakukan penelitian tersebut kemudian Thomsen berpendapat bahwa perpaduan material ini akan menghasilkan bagian dalam yang berwarna putih, sementara permukaannya diselimuti oleh lapisan luar berwarna hitam, warna hitam tersebut diyakini berasal dari kandungan nikel yang terbentuk dari ledakan unsur nikel dan ferum (besi) di luar angkasa.

Selain itu, Thomsen juga mencatat bahwa karakteristik serpihan batu dari Kawah Wabar menunjukkan kemiripan dengan deskripsi Hajar Aswad, bintik-bintik putih yang pernah terlihat pada Hajar Aswad diduga berasal dari bagian inti campuran kimiawi tersebut yang terekspos ke permukaan.

Lama kelamaan, lapisan putih tersebut diperkirakan tidak bertahan lama dan tertutup kembali oleh lapisan hitam di bagian luar, seiring dengan waktu proses alami ini pada akhirnya menyisakan batu yang didominasi oleh warna hitam.

Baca Juga: Denim Nggak Pernah Mati! 6 Model Jeans yang Tetap Hits dari Generasi ke Generasi, Mana Favoritmu?

Dalam konteks tradisi Islam, Hajar Aswad digambarkan mulanya berwarna putih lalu menghitam karena dipercaya Hajar Aswad dapat menyerap dosa manusia, sementara bintik-bintik putih yang masih terlihat saat ini dipercaya sebagai sisa kaca dan batu pasir.

"Batu meteor itu kemungkinan batu yang sama dengan Hajar Aswad," ujar Thomsen.

Adapun terkait dengan usia batu Hajar Aswad tersebut, terdapat juga penelitian lain juga telah mencoba memperkirakan, dan hasilnya menunjukkan bahwa usia Hajar Aswad selaras dengan periode pengamatan masyarakat Arab kuno dan diperkirakan dibawa ke Makkah melalui rute Oman.

Meski begitu, teori yang mengaitkan Hajar Aswad sebagai batu meteor ini tidak luput dari sanggahan dari penelitian lain, beberapa ilmuwan memberikan argumennya bahwa batu meteor pada umumnya tidak mengapung, tidak mudah hancur menjadi serpihan kecil, dan menunjukkan resistensi yang berbeda terhadap proses erosi, hingga saat ini faktor-faktor tersebut terus memicu perdebatan ilmiah mengenai asal-usul batu suci tersebut.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#arab saudi #baitullah #sejarah Hajar Aswad #Hajar Aswad #meteor Kawah Wabar #kabah #penelitian Hajar Aswad #nabi ibrahim