Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Pertemuan Takdir di Gang Sempit: Begini Awal Cinta Sultan HB X dan GKR Hemas

Muhammad Azlan Syah • Minggu, 16 November 2025 | 22:35 WIB

Sultan HB X dan GKR Hemas, potret cinta sejati yang memilih monogami dibalik kebiasaan raja sebelumnya yang berpoligami
Sultan HB X dan GKR Hemas, potret cinta sejati yang memilih monogami dibalik kebiasaan raja sebelumnya yang berpoligami

RADARBONANG.ID — Sri Sultan Hamengkubuwono X dikenal sebagai raja modern yang memegang teguh prinsip kesetiaan.

Di tengah sejarah panjang Kesultanan Yogyakarta yang identik dengan tradisi poligami, Sultan memilih jalan yang berbeda: ia tetap monogami sejak menikah dengan GKR Hemas pada 1968.

Pilihan itu bukan sekadar keputusan politik atau simbol reformasi budaya, melainkan berasal dari sebuah kisah cinta sederhana yang berawal dari gang kecil di Kota Jogja.

Baca Juga: Viral Video Gus Elham Cium Anak Kecil, Wamenag Romo Syafii: Itu Tidak Pantas!

Berawal dari Gang Suronatan

Pada awal 1960-an, Herjuno Darpito—nama muda Sri Sultan—sering melewati kawasan Rotowijayan, dekat keraton.

Di sudut jalan, tak jauh dari sebuah warung bakmi, ia melihat seorang gadis muda berjalan melewati gang Suronatan. Gadis itu bernama Tatik Drajat Supriastuti.

Kehadiran Tatik di Yogyakarta saat itu sebenarnya bukan hal yang direncanakan. Ia kebetulan pulang ke Jogja untuk menghadiri pemakaman kakeknya yang merupakan seorang abdi dalem keraton.

Duka keluarga membawa Tatik ke kota itu, namun tanpa ia sadari, kedatangannya justru membuka jalan bagi sebuah kisah cinta besar.

Bagi Herjuno, pertemuan itu adalah love at first sight. Ia tertegun melihat Tatik melintas—sederhana, anggun, dan tampak sangat berbeda dari lingkungan keraton yang penuh protokol.

Hari itu menjadi awal rasa penasaran yang berkembang menjadi ketertarikan.

Dorongan Teman, Berujung Percakapan Pertama

Meskipun seorang bangsawan, Herjuno bukan tipe yang mudah berani menyapa gadis yang baru dilihatnya. Ia sempat ragu, terlebih karena lingkungan keraton sangat menjaga etika pergaulan.

Namun seorang teman dekatnya yang mengetahui perasaan Herjuno justru mendorongnya untuk mengambil langkah.

Akhirnya, dengan hati berdebar, Herjuno memberanikan diri mendekati Tatik. Ia menyapa dengan sopan, lalu—dengan gaya pemuda Jawa yang halus namun penuh pesona—menggombali Tatik menggunakan sebait puisi Jawa.

Konon bait puisi itu menggambarkan keindahan pagi dan kehadiran seorang bunga yang membuat jalan kecil Suronatan beraroma wangi.

Tatik tak langsung luluh. Namun kesopanan, keberanian, dan cara Herjuno berbicara membuatnya tersenyum. Dari senyum itu, tumbuh percakapan pertama yang kemudian membuka pintu hubungan keduanya.

Perjalanan Cinta yang Tidak Mudah

Sejak hari itu, Herjuno kerap mencari alasan untuk melewati Rotowijayan dan Suronatan, berharap bisa melihat Tatik lagi.

Jarak bukan masalah, bahkan ia rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk bertemu sesaat.

Tidak ada kemewahan khas keraton dalam pertemuan-pertemuan mereka; yang ada justru dua anak muda yang sedang saling mengenal, bertukar cerita, dan merawat rasa.

Kisah cinta mereka tidak berlangsung instan. Tatik berasal dari keluarga sederhana, sementara Herjuno adalah bangsawan pewaris tahta.

potret sultan HB X dan GKR Hemas saat masih muda
potret sultan HB X dan GKR Hemas saat masih muda

Perbedaan itu sempat menjadi tantangan, tapi Herjuno teguh. Ia melihat Hemas bukan sebagai rakyat biasa, tetapi sebagai perempuan yang membuatnya yakin pada satu hal: ia ingin hidup bersamanya.

Baca Juga: Gugur dengan Kepala Tegak: Timnas U-17 Ukir Sejarah Jadi Satu-satunya ASEAN yang Raih Kemenangan di Piala Dunia U-17 2025

Menikah dan Tetap Setia

Pada tahun 1968, Herjuno Darpito dan Tatik Drajat Supriastuti resmi menikah. Tatik kemudian diberi gelar Gusti Kanjeng Ratu Hemas.

Pernikahan itu dikaruniai lima putri: GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara.

Meski dalam tradisi lama raja memiliki lebih dari satu istri, Sultan Hamengkubuwono X memilih tetap monogami.

Bagi Sultan, cinta yang ia temukan dari gang kecil Suronatan itu jauh lebih berharga dari sekadar tradisi. Ia percaya bahwa kesetiaan adalah bagian penting dari hidup dan kepemimpinan.

Kini, kisah cinta Sultan dan GKR Hemas dikenang sebagai salah satu kisah paling romantis dari Yogyakarta—berawal dari sebuah pertemuan sederhana, tumbuh menjadi komitmen seumur hidup, dan menjadi simbol perubahan nilai dalam keluarga keraton.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#GKR Hemas #Sultan HB X #Pertemuan Sultan dan Tatik #Sejarah cinta Raja Jawa #Keraton Yogyakarta #Kisah cinta Sultan dan Tatik