Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dari Kekuasaan ke Kehinaan: Kisah Tragis Qin Hui dan Yue Fei

Muhammad Azlan Syah • Senin, 10 November 2025 | 14:15 WIB

Patung Qin Hui dan istrinya berlutut di depan makam Jenderal Yue Fei di Hangzhou, Tiongkok. Selama berabad-abad, warga yang berziarah kerap meludah atau menendang patung ini sebagai simbol penolakan
Patung Qin Hui dan istrinya berlutut di depan makam Jenderal Yue Fei di Hangzhou, Tiongkok. Selama berabad-abad, warga yang berziarah kerap meludah atau menendang patung ini sebagai simbol penolakan

RADARBONANG.ID – Dalam sejarah panjang Tiongkok, nama Qin Hui abadi bukan karena kejayaannya, melainkan karena pengkhianatannya.

Pejabat tinggi pada masa Dinasti Song Selatan di abad ke-11 ini dikenal sebagai simbol korupsi, kelicikan, dan pengkhianatan politik yang membuat rakyat kehilangan kepercayaan pada pemimpin mereka.

Qin Hui semula dipercaya sebagai pejabat cerdas dan loyal terhadap kerajaan. Namun di balik wajah diplomatisnya, tersimpan niat yang kelam.

Ia dituduh bersekongkol dengan Dinasti Jin, musuh besar Song, demi menjaga kenyamanan politik dan kekuasaannya sendiri.

Baca Juga: Konten Receh, Dampak Serius: Kenapa Humor Jadi Pelarian Banyak Orang di Dunia Digital

Saat Jenderal Yue Fei dengan gagah berjuang mempertahankan wilayah negeri dari serangan musuh, Qin Hui justru menebar fitnah, menuduh Yue Fei berkhianat, hingga akhirnya sang jenderal dihukum mati.

Peristiwa itu mengguncang rakyat Tiongkok.

Yue Fei dipandang sebagai pahlawan sejati, sementara Qin Hui dikenang sebagai pengkhianat terbesar sepanjang masa.

Sebagai bentuk kecaman moral, masyarakat mendirikan patung Qin Hui dan istrinya di depan makam Yue Fei di Hangzhou.

Patung itu dibuat berlutut, simbol penyesalan dan penghinaan abadi.

Hingga kini, patung berlutut Qin Hui menjadi bagian dari tradisi dan pelajaran sejarah Tiongkok.

Siapa pun yang datang ke makam Yue Fei hampir pasti akan meludah, menendang, atau memaki patung Qin Hui.

Bukan karena kebencian pribadi, melainkan sebagai ekspresi simbolik melawan korupsi, pengkhianatan, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Patung itu telah menjadi pengingat bahwa kehormatan tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh integritas.

Setiap ludah dan jejak sepatu di patung Qin Hui adalah bentuk “pengadilan moral” yang berlangsung lintas generasi.

Ia tidak pernah bisa membela diri, tetapi sejarah sudah mengukuhkannya sebagai contoh dari bagaimana kekuasaan tanpa moral akan membawa kehinaan abadi.

Menariknya, jika tradisi seperti ini diterapkan di Indonesia, mungkin banyak rakyat yang akan mengusulkan agar dibuat “patung berlutut” untuk para pejabat yang terbukti korupsi.

Bayangkan jika di depan gedung pengadilan atau museum nasional berdiri patung-patung simbolik mereka—bukan untuk dihina secara pribadi, tetapi sebagai pengingat publik tentang mahalnya harga integritas dan betapa berat dosa mengkhianati kepercayaan rakyat.

Mungkin sebagian akan menilai ide itu berlebihan. Namun, di sisi lain, langkah semacam ini bisa menjadi pendidikan moral visual yang kuat.

Generasi muda akan tumbuh dengan kesadaran bahwa menjadi pejabat bukanlah jalan menuju kemewahan, melainkan tanggung jawab yang harus dijalani dengan jujur.

Kini, patung Qin Hui di Hangzhou tetap berdiri sebagai monumen peringatan terhadap keserakahan.

Baca Juga: Nge-rap, Nge-Beat, Nge-Help: NDX AKA Siapkan Ambulans Gratis untuk Bantul

Ia menunjukkan bahwa kekuasaan yang disalahgunakan akan berubah menjadi aib, bukan warisan.

Dari Tiongkok hingga ke Indonesia, pesan moralnya tetap sama: seorang pejabat boleh dikenang karena jasanya, tapi akan dicemooh selamanya jika mengkhianati rakyatnya.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Qin Hui #Yue Fei #simbol pengkhianatan #sejarah Tiongkok #Dinasti Song Selatan