RADARBONANG.ID - Pajimatan Imogiri, kompleks pemakaman raja-raja Mataram Islam di Bantul, Yogyakarta, selama ini dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir para penguasa agung dari dua kerajaan besar: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Namun di balik keheningan dan kemegahan situs ini, tersimpan kisah tragis tentang seorang bangsawan Mataram yang berkhianat terhadap rajanya, dan jasadnya dikuburkan di bawah tangga menuju makam utama — sebuah simbol hukuman abadi yang kini masih menjadi misteri bagi banyak peziarah.
Baca Juga: Daripada Nganggur di Lemari, Mending Buku Lama Kamu Jadi Amalan di Perpusda Tuban
Salah satu anak tangga menuju kompleks utama Pajimatan Imogiri tampak tidak rata dibandingkan yang lain.
Bagi sebagian orang, hal itu mungkin sekadar bentuk arsitektur lama atau hasil perbaikan yang tidak simetris.
Namun bagi masyarakat setempat dan para abdi dalem penjaga makam, ketidakteraturan itu bukan tanpa alasan.
Di bawah anak tangga itulah, menurut tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, dimakamkan Tumenggung Endranata, atau dikenal juga dengan nama asli Ngabehi Mertajaya, putra dari Tumenggung Wiraguna.
Tumenggung Endranata disebut sebagai salah satu tokoh penting pada masa Kerajaan Mataram Islam, yang kemudian dijatuhi hukuman karena dianggap melakukan pengkhianatan terhadap raja.
Tidak ada catatan tertulis yang secara rinci menjelaskan bentuk pengkhianatannya, namun kisah tutur menyebut bahwa tindakannya dianggap mencoreng kesetiaan kepada penguasa dan merusak tatanan kerajaan.
Sebagai bentuk hukuman simbolis sekaligus pelajaran moral bagi para bangsawan lain, jasad Tumenggung Endranata tidak dimakamkan di tempat terhormat seperti layaknya pejabat tinggi kerajaan.
Ia justru dikubur di bawah tangga menuju makam para raja. Setiap peziarah yang melangkah menaiki anak tangga itu seolah tanpa sadar “menginjak” simbol pengkhianatan, sebagai pengingat abadi bahwa kesetiaan kepada raja dan negara adalah kehormatan tertinggi di Mataram Islam.
Hingga kini, lokasi tangga tak rata tersebut masih menjadi bagian yang menarik perhatian pengunjung.
Banyak peziarah yang berhenti sejenak di tangga itu, membaca doa, atau sekadar menundukkan kepala, menyadari makna filosofis yang terkandung di balik cerita tersebut.
Para Abdi Dalem Sri Wandawa, yang sehari-hari mengelola kompleks makam Imogiri, juga tetap menjaga dan melestarikan cerita ini sebagai bagian dari warisan budaya Keraton.
Pajimatan Imogiri sendiri dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma pada abad ke-17.
Baca Juga: Mabuk Es Moni, Gelap Mata, Tewaskan Tetangga: 3 Pemuda Palang Berakhir di Bui
Kompleks ini dirancang tidak hanya sebagai tempat peristirahatan para raja, tetapi juga sebagai simbol spiritual hubungan antara manusia dan Sang Pencipta.
Setiap detail arsitekturnya memiliki makna filosofis, termasuk tata letak, jumlah anak tangga, hingga posisi makam yang menghadap kiblat.
Kini, selain menjadi situs ziarah spiritual, Imogiri juga menjadi tempat penting bagi masyarakat untuk belajar tentang nilai-nilai moral, sejarah, dan filosofi kehidupan Mataram Islam.
Kisah tentang Tumenggung Endranata dan tangga tak rata itu menjadi pengingat bahwa pengkhianatan tidak hanya meninggalkan luka bagi masa lalu, tetapi juga jejak yang abadi dalam ruang sejarah.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah