RADARBONANG.ID – Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa arena tinju disebut ring atau cincin, padahal bentuknya jelas segi empat?
World Boxing Association (WBA) baru-baru ini merilis laporan menarik yang mengulas sejarah panjang istilah tersebut.
Menurut WBA, penyebutan ring telah digunakan selama berabad-abad, jauh sebelum ring modern berbentuk kotak dikelilingi tali pembatas.
Tinju sendiri merupakan salah satu olahraga tertua di dunia, bahkan lebih tua dari piramida Mesir maupun mesin cetak.
Asal-usul Istilah Ring dalam Tinju
Kata ring berasal dari bahasa Inggris Kuno hring yang berarti lingkaran. Pada masa awal, petinju benar-benar bertarung dalam lingkaran yang digambar di tanah.
Siapa pun yang keluar dari lingkaran itu otomatis dianggap kalah.
Seiring waktu, bentuk arena berubah, tetapi nama ring tetap dipertahankan sebagai warisan sejarah.
Tinju dari Zaman Kuno hingga Olimpiade
Catatan sejarah menyebutkan tinju sudah ada sejak 6.000–7.000 SM di Abyssinia (Ethiopia modern).
Saat itu, dua pria bertarung dengan tangan kosong hingga salah satunya kalah atau meninggal.
Pada abad ke-7 SM, tinju masuk Olimpiade Kuno dan langsung menjadi salah satu tontonan favorit. Tradisi ini terus berkembang hingga era modern.
Evolusi Aturan dan Bentuk Arena
Setelah sempat tenggelam pasca runtuhnya Kekaisaran Romawi, tinju kembali populer di Inggris pada abad ke-18.
Jack Broughton memperkenalkan aturan formal pertama pada 1743, termasuk bertanding di dalam lingkaran konsentris.
Kemudian pada 1838, London Pugilistic Society memperkenalkan ring berbentuk persegi pertama di atas tanah.
Aturan semakin disempurnakan dengan hadirnya Marquess of Queensberry Rules tahun 1865 yang menambahkan sarung tangan, ronde tiga menit, dan hitungan knockdown.
Sejak itu, ring modern standar ditetapkan dengan ukuran 16–23 kaki, tinggi 0,9–1,22 meter, dan dikelilingi empat tali di tiap sisi. Meski kotak, istilah ring tetap dipakai hingga kini.
Warisan Istilah yang Melekat
Menurut WBA, penggunaan kata ring adalah bagian dari identitas olahraga tinju.
Bagi penonton maupun atlet, istilah itu bukan sekadar bentuk fisik arena, melainkan simbol sejarah panjang olahraga pertarungan tertua di dunia. (*)
Editor : Amin Fauzie