RADARBONANG.ID – Pasukan Bhayangkara bukan sekadar catatan militer dalam sejarah Nusantara, tetapi simbol kekuatan, kesetiaan, sekaligus intrik kekuasaan yang membentuk dinamika kerajaan besar seperti Majapahit dan Singosari.
Dikenal sebagai pengawal pribadi Raja dan keluarga kerajaan, Bhayangkara berperan krusial dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan dari ancaman pemberontakan hingga invasi asing.
Namun siapa sangka, pasukan elit yang kemudian melambungkan nama Gajah Mada ini juga pernah mencatat noda sejarah kelam: makar terhadap Raja Kertanegara di masa Singosari!
Bhayangkara: Dari Genggaman Gajah Mada ke Pusat Kekuasaan Kerajaan Majapahit
Didirikan pada tahun 1293, Bhayangkara adalah pasukan pilihan Kerajaan Majapahit yang bertugas menjaga raja, istana, dan keamanan rakyat.
Mereka memegang empat prinsip prajurit yang dikenal sebagai Catur Prasetya:
1. Satya Haprabu – Setia kepada pemimpin negara
2. Hanyaken Musuh – Mengenyahkan musuh negara
3. Gineung Pratidina – Mempertahankan negara
4. Tan Satrisna – Bekerja sepenuh hati
Nama Bhayangkara makin dikenal setelah pemberontakan Ra Kuti tahun 1319, saat Gajah Mada, yang saat itu belum terkenal, menyelamatkan Raja Jayanegara ke Desa Badander bersama 15 pasukan Bhayangkara.
Jumlah 16 orang ini dikaitkan dengan konsep Astadikpalaka, yaitu delapan dewa penjaga mata angin dalam Hindu, di mana raja menjadi pusat yang dijaga.
Dari momen inilah, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih Majapahit, tonggak awal menuju kejayaan Nusantara lewat Sumpah Palapa.
Catatan Kelam: Bhayangkara Pernah Makar di Era Singosari!
Jauh sebelum kejayaannya di Majapahit, Bhayangkara sempat menjadi pemberontak mematikan di masa Singosari, tepatnya pada masa Raja Kertanegara sekitar tahun 1270 M (Saka 1172).
Awalnya, pasukan ini berada di bawah kendali Mpu Raganata, Patih yang dihormati pada era Raja Wishnu Wardhana.
Namun setelah Kertanegara naik tahta, konflik politik internal muncul, terutama soal kebijakan ekspansi luar Jawa yang ditentang Raganata.
Saat Raganata dicopot, Bhayangkara merasa junjungannya diperlakukan tidak adil.
Mereka menolak tunduk pada patih baru, Mahesa Anengah, dan melakukan pemberontakan besar-besaran, memaksa Kertanegara menghentikan ekspansi dan fokus memulihkan situasi selama lima tahun.
Setelah pemberontakan dipadamkan, banyak anggota Bhayangkara jadi buronan kerajaan, bergerilya sebagai kelompok liar hingga ditumpas tahun 1280 M (Saka 1202).
Bangkit di Majapahit: Menumpas Tartar dan Menjadi Legenda
Setelah era kelamnya di Singosari, Bhayangkara bangkit kembali di awal berdirinya Majapahit.
Tercatat dalam Pararaton, mereka ikut menumpas pasukan Mongol (Tartar) yang dikunci dalam markas Bhayangkara dan dilenyapkan oleh strategi Gajah Mada, Lembu Sora, dan Ronggolawe.
Mereka memainkan peran kunci dalam menjaga stabilitas kerajaan, menumpas pemberontakan, dan membentuk garis pertahanan kerajaan yang kokoh.
Tak heran, Bhayangkara dikenang sebagai cikal bakal kekuatan keamanan yang kelak menginspirasi lahirnya institusi modern di Indonesia. (*)
Sumber Referensi:
Buku “Gajah Mada: Sistem Politik dan Kepemimpinan” – Enung Nurhayati
Kitab Pararaton dan Negarakertagama
Kidung Panji Wijayakrama
GoodStats & Dokumentasi Sejarah Majapahit (naskah nusantara)
Kajian Sejarah oleh Dr. Agus Aris Munandar, UI
Editor : Amin Fauzie