Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Mengejutkan! Ditemukan Batu Timbangan Bertuliskan Tahun 1400 Saka di Mojokerto, Saksi Keruntuhan Majapahit

Tulus Widodo • Jumat, 11 Juli 2025 | 18:35 WIB
Temuan bandul timbangan kuno sisa peradaban Majapahit yang jadi salah satu koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim.
Temuan bandul timbangan kuno sisa peradaban Majapahit yang jadi salah satu koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim.

RADARBONANG.ID – Jejak sejarah Majapahit kembali menggema dari jantung peradaban lama Nusantara.

Sebuah batu timbangan kuno yang mengejutkan ditemukan di Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto.

Tak sekadar artefak biasa, batu ini terukir angka 1400 Saka (1478 Masehi) — tahun keramat yang dikenal dalam sejarah Jawa sebagai titik keruntuhan Majapahit, sesuai sengkalan legendaris “Sirna Ilang Kertaning Bumi.”

Temuan ini memberi cahaya baru pada transisi sejarah dari era Majapahit menuju zaman baru tanah Jawa.

Lebih dari sekadar benda, batu ini adalah saksi bisu dari ambruknya kerajaan terbesar di Nusantara dan jejak aktivitas ekonomi yang canggih pada zamannya.

Bentuk batu menyerupai timbangan tradisional, alat penting dalam kegiatan dagang dan pajak pada masa silam.

Yang membuatnya luar biasa adalah ukiran angka tahun 1400 Saka, yang menunjukkan bahwa batu ini dipakai tepat saat-saat Majapahit mulai kehilangan kejayaannya.

Penanda ini bukan hanya kronologis, tetapi juga simbolik, menunjukkan bagaimana masyarakat masa itu tetap menjalankan roda ekonomi di tengah gejolak politik dan sosial.

Lokasi penemuan di Desa Jiyu, Kutorejo, Mojokerto, memang tak asing di kalangan arkeolog.

Wilayah ini dikenal sebagai bagian penting dari lanskap budaya Majapahit, dengan jarak yang relatif dekat dari Trowulan, pusat kerajaan.

Temuan ini semakin memperkuat hipotesis bahwa desa-desa sekitar Mojokerto adalah satelit ekonomi dari pusat pemerintahan Majapahit.

“Ini bukan batu biasa. Ia menyimpan kisah tentang bagaimana rakyat tetap menjaga sistem ekonomi dan kepercayaan pada nilai, bahkan di tengah kejatuhan kekuasaan,” ujar sejarawan budaya Jawa, Dr. Sri Wahyuni.

Dalam sejarah Jawa, tahun 1478 M adalah simbol dari berakhirnya kejayaan Majapahit, ditandai oleh sengkalan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” (sirna hilang kemuliaan bumi).

Namun penemuan batu ini membuktikan bahwa sistem sosial dan ekonomi tetap berjalan, bahkan saat pusat kekuasaan mulai runtuh.

Batu ini menjadi bukti konkret bahwa ekonomi lokal tetap hidup, menunjukkan kemandirian masyarakat dan pentingnya sistem pengukuran dalam perdagangan dan pajak.

Penemuan batu ini menyatukan nilai historis, ekonomis, dan simbolis.

Menandai akhir kejayaan Majapahit, menunjukkan kelangsungan aktivitas perdagangan dan pengukuran, menjadi artefak langka yang terverifikasi secara kronologis, serta simbol ketahanan sistem lokal meski pusat kerajaan runtuh. (*)

Editor : Amin Fauzie
#keruntuhan Majapahit #batu menyerupai timbangan tradisional #mojokerto #sejarah jawa #kutorejo #Desa Jiyu #artefak