Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dua Raksasa Laut Nusantara yang Mengguncang Dunia: Sriwijaya vs Majapahit, Siapa Penentu Sejati Batas Indonesia?

Tulus Widodo • Kamis, 3 Juli 2025 | 16:35 WIB
Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, jejak peradaban maritim Indonesia. Foto adalah ilustrasi.
Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, jejak peradaban maritim Indonesia. Foto adalah ilustrasi.

RADARBONANG.ID – Sejarah Indonesia bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan jejak peradaban maritim yang luar biasa dari dua kerajaan besar: Sriwijaya dan Majapahit.

Keduanya bukan hanya legenda, tetapi fondasi pembentuk identitas bangsa dan batas wilayah Nusantara yang kini kita kenal sebagai Indonesia.

Asal-Usul dan Peta Kekuasaan: Dua Titan yang Beda Era Satu Tujuan

Sriwijaya, kerajaan maritim Buddha, muncul pada abad ke-7 M dan didirikan di Pulau Sumatera, meski akar awalnya diyakini berasal dari Kalimantan Selatan (Coedès, Indianized States of Southeast Asia, 1968).

Letaknya yang strategis di sekitar Selat Malaka menjadikan Sriwijaya poros perdagangan global, menghubungkan India dan Tiongkok dalam Jalur Sutra Maritim.

Majapahit, yang lahir dari reruntuhan Singhasari pada tahun 1293 M di Trowulan, Jawa Timur, tampil sebagai kekuatan baru dengan karakteristik yang berbeda.

Dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk dan dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada, Majapahit menjelma menjadi kekuatan politik-militer terbesar di Asia Tenggara (Negarakertagama, Prapanca, abad ke-14).

Sumber Dominasi: Perdagangan vs Ekspansi Nusantara

Sriwijaya mengandalkan dominasi jalur laut dan perdagangan internasional.

Dengan armada kapal yang tangguh dan pelabuhan kosmopolitan, kerajaan ini mengontrol jalur strategis antara India-Tiongkok (I-Tsing, Nan-hai chi-kuei nei-fa chuan, abad ke-7).

Lebih dari itu, Sriwijaya menjadi pusat pembelajaran agama Buddha Mahayana—menarik perhatian para biksu Asia Timur.

Majapahit, meskipun juga memiliki kekuatan armada, mengedepankan ekspansi politik dan militer.

Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada bukan sekadar retorika, melainkan cetak biru unifikasi Nusantara.

Doktrin ini kelak menginspirasi semangat nasionalisme Indonesia modern (Ricklefs, A History of Modern Indonesia, 2008).

Jejak Diplomasi dan Jaringan Internasional

Sriwijaya menjalin relasi dagang dan keagamaan dengan India, Tiongkok, Sri Lanka, dan Timur Tengah.

Bukti konkret datang dari prasasti Nalanda (India) yang mencatat permintaan raja Sriwijaya untuk mendirikan asrama bagi mahasiswa asal Nusantara.

Majapahit, dalam catatan Negarakertagama dan prasasti luar negeri, tercatat memiliki hubungan dengan Champa (Vietnam), Siam (Thailand), bahkan Kesultanan di India Selatan.

Masa Keemasan dan Senja Kekuasaan

Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada abad ke-9 hingga ke-10 M, sebelum akhirnya melemah akibat serangan Chola dari India (1025 M) dan kemunculan kekuatan baru seperti Dharmasraya.

Majapahit mengalami masa emas di abad ke-14. Namun setelah wafatnya Hayam Wuruk dan konflik dinasti, kerajaan ini perlahan tenggelam dan runtuh sekitar abad ke-15, digantikan oleh Kesultanan Demak yang berbasis Islam.

Warisan dan Jejak Arkeologi

Sriwijaya: Prasasti Kedukan Bukit (683 M), Prasasti Telaga Batu, Kompleks Candi Muaro Jambi, dan artefak Buddha yang tersebar hingga Thailand dan Kamboja.

Majapahit: Candi Tikus, Gapura Bajang Ratu, Candi Brahu, serta naskah-naskah monumental seperti Negarakertagama, Pararaton, dan Sutasoma (dari sini lahir semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”).

Kesimpulan: Siapa Pengukir Batas Indonesia?

Baik Sriwijaya maupun Majapahit adalah manifestasi kejayaan Nusantara di masa lalu, yang satu unggul dalam diplomasi dagang dan budaya, yang lain dalam militer dan politik unifikasi.

Sriwijaya menjadi pelopor jaringan maritim dan simbol spiritualitas Asia Tenggara.

Majapahit meletakkan dasar geopolitik kawasan yang kelak akan menginspirasi batas wilayah modern Indonesia.

Keduanya tak hanya legenda dalam buku sejarah, tapi juga penentu arah masa depan—menunjukkan bahwa bangsa ini pernah berdiri tegak di pentas dunia sebelum kolonialisme menorehkan luka. (*)

REFERENSI:

Coedès, George. The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press, 1968.

I-Tsing. A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago (Nan-hai chi-kuei nei-fa chuan).

Prapanca. Negarakertagama, abad ke-14.

Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Palgrave Macmillan, 2008.

Muljana, Slamet. Sriwijaya. LKiS, 2005.

Nugroho, Irawan Djoko. Majapahit Peradaban Maritim Indonesia. Media Pressindo, 2016.

Editor : Amin Fauzie
#majapahit #nusantara #kerajaan #prasasti #Sumpah Palapa #gajah mada #indonesia #batas wilayah Nusantara #selat malaka #geopolitik #sriwijaya #peradaban maritim