RADARBONANG.ID – Saat mendengar nama Tuban, banyak orang langsung terbayang pesisir utara Jawa yang tenang, pantai-pantai eksotis, dan makam Sunan Bonang.
Tapi, di balik ketenangan itu, Tuban menyimpan fakta sejarah yang luar biasa mengejutkan.
Kota ini ternyata lebih tua dari Kerajaan Majapahit! Bahkan, Tuban pernah jadi pelabuhan internasional tersibuk di Nusantara jauh sebelum Jakarta dikenal dunia.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa Tuban telah dikenal sejak abad ke-11, bahkan tercatat dalam Prasasti Wurare (1289 M), jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri tahun 1293 M.
Artinya, Tuban merupakan salah satu kota pelabuhan tertua di Nusantara.
Nama "Tuban" sendiri konon berasal dari kata "Metu Banyu" (keluar air), karena dipercaya munculnya mata air di tengah laut saat awal pembentukannya.
Ada juga versi yang menyebut berasal dari "Tu" (menuju) dan "Ban" (kebaikan).
2. Pernah Jadi Pelabuhan Emas Era Majapahit
Di masa kejayaannya, Tuban merupakan pelabuhan utama Majapahit, pusat perdagangan rempah, batik, kayu jati, dan hasil laut.
Lokasinya yang strategis di jalur perdagangan maritim internasional menjadikan Tuban sebagai “kota global” di zamannya.
Kapal-kapal dari Tiongkok, Gujarat, Arab, hingga Eropa silih berganti bersandar di pelabuhan Tuban.
3. Tuban Punya Bupati Pertama Sebelum Ada Gubernur
Salah satu fakta mengejutkan lainnya: Tuban tercatat memiliki kepala pemerintahan atau “bupati” sejak era Majapahit.
Salah satu tokoh pentingnya adalah Raden Arya Ronggolawe, seorang bangsawan Majapahit yang terkenal sebagai pemimpin bijak dan ksatria pemberani.
Dialah yang mengawal pembangunan kota pelabuhan Tuban menjadi pusat ekonomi dan kebudayaan kala itu.
Sayangnya, nama Ronggolawe sering luput dari ingatan sejarah nasional, meski perannya tak kalah dari tokoh-tokoh besar lainnya.
4. Jadi Gerbang Masuk Islam Pertama di Jawa Timur
Jauh sebelum Wali Songo terkenal, Tuban sudah menjadi tempat masuknya pengaruh Islam di tanah Jawa.
Hal ini didukung oleh pelabuhannya yang terbuka dan ramai dikunjungi pedagang Muslim dari Gujarat dan Timur Tengah.
Sunan Bonang, salah satu dari Wali Songo, menjadikan Tuban sebagai pusat dakwah.
Beliau tidak hanya menyebarkan Islam, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai Islam dalam seni dan budaya lokal, seperti tembang dan wayang.
5. Tuban Dulu Dikenal Sebagai Kota Air dan Goa
Berbeda dari kesan kota industri saat ini, dahulu Tuban dijuluki sebagai “Kota Seribu Mata Air dan Seribu Goa” Wilayah karst pegunungan Kapur Utara menghadirkan banyak gua alami dan sumber air jernih yang dianggap suci oleh masyarakat setempat.
Goa Akbar, misalnya, konon menjadi tempat bertapa para pendeta dan penyebar agama pada masa silam.
Sampai kini, aura magis masih terasa saat menyusuri gua-gua purba di Tuban.
6. Arsip Sejarah Tuban Tersebar di Luar Negeri
Fakta mencengangkan lainnya, arsip-arsip dan catatan sejarah awal Tuban justru banyak ditemukan di luar negeri, seperti Belanda dan Portugal.
Para pedagang Eropa sangat tertarik pada sistem pelabuhan dan tata kota Tuban yang dianggap maju dan terorganisir.
Sayangnya, banyak dokumen bersejarah tersebut belum pernah dipulangkan ke Indonesia, sehingga jejak kejayaan Tuban belum sepenuhnya tergali.
7. Salah Satu Kota Pertama yang Punya Tradisi Demokrasi Lokal
Sejak dulu, masyarakat Tuban sudah terbiasa dengan sistem musyawarah dalam mengambil keputusan.
Bahkan dalam beberapa literatur Jawa Kuno, Tuban disebut sebagai daerah yang mempraktikkan pemilihan kepala kampung secara kolektif, jauh sebelum konsep demokrasi diperkenalkan secara formal oleh pemerintah kolonial.
Tuban bukan kota kecil biasa. Kabupaten yang kini dipimpin bupati muda, Aditya Halindra Faridzky itu adalah saksi bisu kejayaan maritim, pusat dakwah Islam, dan warisan budaya kuno yang luar biasa.
Sayangnya, banyak fakta-fakta penting tentang Tuban yang tak diajarkan di sekolah dan nyaris terlupakan.
Saatnya generasi muda mengenal kembali Tuban sebagai kota sejarah yang seharusnya dijaga dan dibanggakan. (*)
-------------------------
Ingin tahu lebih banyak tentang kota-kota bersejarah lainnya di Indonesia? Ikuti terus informasi budaya dan sejarah lokal di kanal radarbonang.id!
Editor : Amin Fauzie