RADARBONANG - Kabupaten Tuban, yang terletak di pesisir utara Provinsi Jawa Timur, memiliki luas wilayah sekitar 1.839 kilometer persegi dan dihuni oleh lebih dari 1,2 juta jiwa.
Masyarakat Tuban umumnya menggantungkan hidup di sektor pertanian dan perikanan, diikuti oleh perdagangan dan pekerjaan sebagai pegawai negeri.
Secara geografis, pada abad ke-16, Tuban berbatasan dengan Sedayu di sebelah timur dan wilayah Cajongan serta Rembang di sebelah barat—yang kini masuk wilayah Provinsi Jawa Tengah.
Namun, akar sejarah Tuban jauh lebih dalam, menelusuri jejaknya hingga masa Kerajaan Jenggala sekitar abad ke-11.
Menurut sejarawan muda Tuban, Teguh Fatchur Rozi, jejak peradaban kuno di wilayah ini dibuktikan melalui dua prasasti penting: Prasasti Kambang Putih dan Prasasti Malenga.
Keduanya dikeluarkan oleh Raja Sri Mapanji Garasakan sekitar tahun 1052 Masehi, yang merupakan putra dari Raja Airlangga dan penguasa wilayah Jenggala.
Prasasti Kambang Putih, yang kini tersimpan di Museum Nasional RI, mencatat penetapan wilayah Kambang Putih sebagai tanah sima atau perdikan.
Meski banyak bagian inskripsi yang telah aus, bagian belakang prasasti masih terbaca dan menyebutkan bahwa Kambang Putih telah menjadi pusat perdagangan maritim yang aktif, dengan perahu-perahu besar merapat di pelabuhannya.
Fakta ini memperkuat posisi Tuban sebagai salah satu pelabuhan penting dalam peta dagang kerajaan-kerajaan Nusantara.
Tak hanya itu, pada 1960 ditemukan pula Prasasti Malenga di Dusun Banjaran, Desa Banjararum, Kecamatan Rengel.
Prasasti yang terdiri dari tujuh lempengan perunggu ini adalah salinan dari prasasti tahun 974 Saka (1052 Masehi), dan berisi informasi bahwa Sri Mapanji Garasakan menghadiahkan tanah perdikan kepada rakyat Malenga yang berjasa mempertahankan wilayah dari serangan Haji Linggajaya.
Meskipun Kerajaan Jenggala akhirnya dikalahkan oleh Kadiri dan kekuasaan berpindah ke Singosari yang didirikan Ken Arok tahun 1222 M, peran Tuban sebagai pelabuhan utama tetap terjaga.
Bahkan dalam Serat Pararaton disebutkan bahwa Raja Kertanegara dari Singosari mengirim ekspedisi Pamalayu ke Sumatera lewat pelabuhan Tuban pada 1275 M, dalam misinya memperluas pengaruh ke seluruh Nusantara.
Pasukan yang dipimpin oleh Kebo Anabrang berhasil menundukkan wilayah Melayu pada 1286 M.
Tuban juga menjadi lokasi pendaratan pasukan Mongol (Tar-Tar) pada 1293 M saat mereka menyerang Jawa Timur untuk membalas kematian utusan mereka di tangan Raja Kertanegara.
Peristiwa ini menjadi bagian penting dari awal berdirinya Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Raden Wijaya.
Di masa Majapahit, Tuban berstatus sebagai daerah otonom namun tetap tunduk pada kekuasaan pusat.
Pelabuhan Tuban berfungsi sebagai entrepot, pusat perdagangan dan distribusi barang ekspor-impor antarnegara.
Raden Wijaya pun mengangkat Ronggolawe, putra Arya Wiraraja, sebagai Adipati Mancanegara pertama di Tuban.
Sejak itu, tahun 1293 Masehi ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Tuban, dengan pusat pemerintahannya berada di Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama