RADARBONANG.ID - Siapa yang baru tahu bahwa patung besar di Tuban itu ternyata adalah Letda Soetjipto?
Ya, patung ini bukan sekadar penunjuk arah atau titik temu yang biasa disebut warga, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang jarang dibahas.
Bagi warga Tuban, patung ini seringkali menjadi ancer-ancer (penanda lokasi).
Mau ke GOR? Sebelah patung. Ke DPRD? Lewat patung. Tapi, berapa banyak yang benar-benar tahu siapa sosok di balik patung itu?
Siapa Letda Soetjipto?
Dia bukan sekadar sosok di atas tugu, melainkan seorang pahlawan yang gagah berani.
Saat Agresi Militer II, Letda Soetjipto memimpin pasukannya untuk menghadang pasukan Belanda di Tuban dan Bojonegoro.
Bersama Brigade Ronggolawe, ia menjadi momok bagi tentara Belanda yang berusaha menguasai wilayah ini.
Pada 9 Januari 1949, pasukan Letda Soetjipto tiba di Mondokan setelah perjalanan panjang dari Singgahan.
Cuaca mendung, gerimis turun, dan tiba-tiba mereka melihat pasukan Belanda bergerak ke arah mereka.
Tak tinggal diam, pasukan ini segera membuat pertahanan, memasang rintangan di jalan, dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Ketika truk Belanda melambat, pasukan Letda Soetjipto melepaskan tembakan bertubi-tubi.
Pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan Belanda yang terlatih dan bersenjata canggih sempat membalas, namun strategi cerdik Letda Soetjipto membuat mereka kelabakan.
Beberapa serdadu Belanda tumbang, sementara yang selamat kabur membawa rekannya yang terluka.
Namun, pertempuran belum selesai. Pasukan Belanda yang melarikan diri segera meminta bantuan dari markas mereka di sekitar Alun-Alun Tuban.
Dengan jumlah yang lebih besar dan persenjataan yang lebih berat, mereka kembali ke medan pertempuran dan bahkan menembakkan mortir ke lokasi persembunyian pasukan gerilya.
Naas, dalam serangan ini, dua penunjuk jalan pasukan Letda Soetjipto, Joko Basuki dan Suwondo, terkena ledakan dan mengalami luka parah.
Setelah situasi sedikit tenang, keduanya segera dievakuasi ke tempat perawatan darurat.
Setelah pertempuran di Mondokan, Letda Soetjipto dan pasukannya terus melakukan serangan gerilya, membuat pasukan Belanda tak pernah tenang di wilayah ini.
Sebagai penghormatan atas perjuangannya, namanya diabadikan menjadi nama jalan dan patung besar di Tuban, yang kini berdiri megah di antara Gedung DPRD dan GOR.
Jadi, lain kali jika melewati patung ini, jangan hanya menjadikannya sebagai penunjuk arah.
Ingatlah bahwa di balik patung yang gagah itu, ada kisah heroik seorang pejuang yang mempertaruhkan nyawanya demi kemerdekaan. (*)
Editor : Amin Fauzie