Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Jarang Diceritakan, Kisah Dakwah Sunan Bonang Muda yang Pernah Gagal Menyebarkan Agama Islam di Kediri

M. Afiqul Adib • Senin, 27 Mei 2024 | 02:54 WIB
Kisah dakwah Sunan Bonang, pernah gagal saat menyebarkan agama Islam di wilayah Kediri.
Kisah dakwah Sunan Bonang, pernah gagal saat menyebarkan agama Islam di wilayah Kediri.

TUBAN-Sunan Bonang, salah satu Wali Songo yang berperan besar menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, ternyata tidak selalu sukses dalam setiap dakwahnya.

Di balik kesuksesannya menyebarkan agama Allah, terdapat masa ketidakberhasilan Sunan Bonang.

Salah satunya awal dakwah Sunan Bonang di wilayah Kediri.

Menurut Agus Sunyoto dalam karyanya berjudul Atlas Wali Songo, yang mengacu pada Babad Daha-Kediri, Sunan Bonang muda menggunakan pendekatan yang relatif keras dalam menyebarkan Islam di pedalaman Kediri.

Pendekatan ini ternyata tidak berhasil menarik minat masyarakat Kediri untuk menerima Islam.

Meski Sunan Bonang mampu memenangkan pertempuran fisik, namun dakwahnya tidak berhasil.

Dakwah yang sesungguhnya diukur dari sejauh mana masyarakat dapat menerima dan memeluk Islam sebagai agama mereka.

Menurut Agus Sunyoto, ketidakberhasilan ini tercatat dalam berbagai sumber Sejarah. Salah satunya adalah Babad Sangkala.

Dalam catatan ini disebutkan bahwa pada tahun 1471 J/1548 M, Sunan Prapen yang Raja Giri, datang ke Kediri.

Dua tahun kemudian, pada tahun 1473 J/1551 M, Babad Sangkala mencatat peristiwa tragis Daha dibakar habis, yang menunjukkan bahwa Kediri masih menolak Islam jauh setelah masa dakwah Sunan Bonang.

Catatan ini mengindikasikan bahwa pendekatan keras yang diterapkan Sunan Bonang muda tidak efektif dalam mencapai tujuan dakwahnya.

Setelah menyadari pendekatan dakwahnya di Kediri tidak berhasil, Sunan Bonang memutuskan untuk meninggalkan wilayah tersebut dan melanjutkan perjalanannya ke Demak.

Di Demak, dia diangkat menjadi imam Masjid Demak, sebuah posisi yang menunjukkan pengakuan terhadap keilmuannya.

Namun, peran ini tidak bertahan lama karena merasa panggilan dakwahnya belum selesai.

Sunan Bonang kemudian berpindah ke Lasem, sebuah daerah yang dikenal dengan nama Bonang.

Di Lasem, dia menerima tugas dari kakaknya, Nyai Gede Maloka, untuk merawat makam nenek mereka, Putri Bi Nang Ti, serta makam Pangeran Wirabajra dan Pangeran Wiranagara, ayah mertua dan suami Nyai Gede Maloka.

Tugas ini tidak hanya sebatas tanggung jawab keluarga, namun juga menjadi bagian dari usaha dakwah Sunan Bonang.

Di Lasem, Sunan Bonang mengubah pendekatannya dalam menyebarkan Islam.

Berbeda dengan metode keras yang dia gunakan di Kediri, di sini dia memilih pendekatan yang lebih lembut dan persuasif.

Sunan Bonang menggunakan seni dan budaya kearifan lokal sebagai media dakwah untuk menarik perhatian masyarakat.

Melalui pendekatan ini, Sunan Bonang berhasil mendapatkan hati masyarakat Lasem dan sekitarnya.

Pengalaman dakwah Sunan Bonang di Kediri memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya memahami karakteristik dan budaya masyarakat dalam menyebarkan agama.

Pendekatan yang efektif tidak selalu harus menggunakan kekuatan, namun lebih pada bagaimana dakwah dapat menyentuh hati dan pikiran masyarakat secara damai dan persuasif.

Sunan Bonang juga menunjukkan bahwa kegagalan awal tidak menghentikan semangatnya untuk terus berdakwah.

Perpindahan dari satu daerah ke daerah lain, serta penyesuaian strategi dakwah, menunjukkan fleksibilitas dan keteguhan Sunan Bonang dalam misinya menyebarkan Islam.

Dari Kediri ke Demak, dan akhirnya ke Lasem, perjalanan dakwahnya menjadi saksi perjuangan dan adaptasi seorang wali dalam menghadapi tantangan.

Melalui perjalanan dakwah Sunan Bonang, kita belajar bahwa keberhasilan tidak selalu datang dengan cepat dan mudah.

Terkadang, kegagalan awal adalah bagian dari proses belajar yang pada akhirnya membawa kepada metode dan pendekatan yang lebih efektif.

Sunan Bonang, dengan segala kebijaksanaannya, mampu mengubah kegagalan menjadi kesuksesan melalui dedikasi dan ketekunannya dalam berdakwah. (*)

MEMBUKA LAPANGAN KERJA: Bupati Ipuk Fiestiandani berharap kepada pengusaha yang bergerak dalam bidang IKOT dapat mengembangkan jejaring yang lebih luas untuk menambah kapasitas penjualan.
MEMBUKA LAPANGAN KERJA: Bupati Ipuk Fiestiandani berharap kepada pengusaha yang bergerak dalam bidang IKOT dapat mengembangkan jejaring yang lebih luas untuk menambah kapasitas penjualan.
Editor : Amin Fauzie
#Dakwah Sunan Bonang #kisah #menyebarkan agama Islam #wali songo #kediri #gagal