Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Masjid An-Noor di Gang Kutorejo Tuban, Salah Satu Tempat Ibadah Tertua di Tuban

Aimatul Fauziyah • Selasa, 16 April 2024 | 23:29 WIB

BERSEJARAH: Gus Apang Ketua Takmir Masjid An Noor bersama pengurus bercengkerama di teras.
BERSEJARAH: Gus Apang Ketua Takmir Masjid An Noor bersama pengurus bercengkerama di teras.

Sebagai salah satu pusat persebaran Islam pada zamannya, Tuban memiliki banyak masjid yang telah berdiri sudah berdiri sejak lama, bahkan diantaranya berusia ratusan tahun.

DI salah satu dinding masjid berwarna hijau itu terdapat ukiran 1587 yang tertulis dalam angka Arab.

Tulisan itu dipercaya sebagai prasasti awal pendirian tempat ibadah yang terletak di Jalan Basuki Rahmad, Gang Kutorejo XII, Tuban itu.

Bisa dibilang, Masjid An-Noor merupakan salah satu tempat ibadah tertua di Tuban yang masih eksis hingga sekarang.

Lebih dari empat ratus tahun, masjid tersebut nyaris tak tersentuh perbaikan besar.

Secara turun temurun, takmir masjid konsisten mempertahankan bangunan asli ala Belanda.

Berpintu ukuran jumbo dan tak memiliki kubah, menjadi salah satu ciri khas masjid era kolonialisme Belanda.

Ketua Takmir Masjid An-Noor Aufarul Minan mengatakan, struktur bangunan memiliki tipe bangunan yang sama dengan Masjid Astana yang berada di kompleks Makam Sunan Bonang dan masjid yang ada di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang.

‘’Usia bangunannya hampir sama, dan memiliki karakteristik bangunan yang sama juga,” ujar dia.

Gus Apang sapaan akrabnya mengatakan, meskipun sudah berusia ratusan tahun, masjid tersebut tetap mempertahankan arsitektur bangunan asli sejak awal.

Renovasi hanya bersifat ringan, seperti memperbarui cat dan bangunan yang keropos.

‘’Ciri (bangunan Belanda) tiang yang berjejer dan bentuknya besar,” jelasnya.

Walaupun masih berupa bangunan awal dan tidak pernah diubah bentuk, masjid yang berada di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban itu masih nampak kokoh dan kuat.

‘’Karena bangunannya dulu memakai batu alam dengan bongkahan yang besar. Selain itu, bangunan tipe dulu memang biasanya kuat dan awet,” paparnya.

Dia melanjutkan, Masjid An-Noor renovasi yang terbilang besar hanya menambah teras di sisi selatan masjid dan renovasi toilet serta tempat wudu.

‘’Secara bentuk bangunan masih sama dengan dulu, hanya ditambah teras di sebelah selatan sehingga jumlah jamaah juga bertambah luas,” ujarnya.

Gus Apang melanjutkan, rencananya bagian depan masjid akan direnovasi. Agar memudahkan kendaraan roda empat bisa masuk ke dalam masjid.

Gus Apang mengatakan, pengambilan nama Masjid An Noor sendiri berasal dari  Bahasa Arab yang berarti cahaya.

‘’Mungkin berharap orang yang datang ke masjid dapat cahaya iman. Bertambah imah dan ilmunya,” kata dia berfilosofis.

Pria kelahiran 17 November 1964 tersebut mengatakan, masjid tersebut memiliki kapasitas hingga 500 jamaah.

‘’Mulai Jumat 12 April, diadakan jamaah salat Jumat perdana di masjid ini. Sehingga harapannya mudah diakses oleh banyak orang,” harap dia. (aim/yud)

Kondisi kolam dan bale apung di Tirta Wisata Jombang yang tak terawat bak rawa
Kondisi kolam dan bale apung di Tirta Wisata Jombang yang tak terawat bak rawa
Photo
Photo
Photo
Photo
PENGINAPAN: Beberapa mahasiswi berada di area saung Taman Pendidikan Mangrove, Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Jumat (5/4). (AYU LATIFAH/JPRM)
PENGINAPAN: Beberapa mahasiswi berada di area saung Taman Pendidikan Mangrove, Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Jumat (5/4). (AYU LATIFAH/JPRM)
Editor : Amin Fauzie
#Tertua di Tuban #Masjid An Noor