TUBAN-Sebelum era 90-an, Gua Bajul begitu dikenal. Gua yang menempel pada salah satu tebing pegunungan kapur utara, Desa Kesamben, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini tak hanya indah. Namun, juga menyimpan sejarah purbakala.
Dinamakan Gua Bajul karena ornamen di bagian mulut gua sekitarnya mirip kepala buaya.
Begitulah masyarakat sekitar memberi alasan penggunaan nama binatang reptil untuk nama gua tersebut.
Dari sudut pandang depan, pintu gua tersebut benar-benar mirip mulut buaya.
Bebatuan stalaktit- stalakmit yang menggantung dan menyembul dari atas serta bawah pintu gua menyerupai gigi tajam mulut buaya.
Tak hanya bentuknya. Warnanya pun khas kulit buaya.
Bagian atas pangkal mulut gua ini juga mirip dahi dan mata buaya.
Gua di kawasan kars selatan Tuban ini pernah jadi kajian paleoantropologi atau ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia.
Agus Rahmadi, salah satu tokoh masyarakat desa setempat mengatakan, pada 1982, tim ilmuan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta menemukan fosil manusia purba dan binatang laut di dalam gua tersebut.
Dari temuan tersebut setidaknya bisa menjadi petunjuk sejarah bahwa di desanya sudah hidup peradaban kuno.
‘’Kalau tidak salah, hasil temuan tersebut tersimpan di Museum Kambang Putih,’’ kata dia.
Terkait keberadaan fosil laut jenis kerang-kerangan di dalam gua ini, lanjut Agus, setidaknya diperkirakan dulunya kawasan pegunungan Rengel adalah laut.
Hal lain yang bisa jadi petunjuk kuat kalau kawasan kars tersebut dulunya laut adalah keberadaan perahu di dalam Gua Bajul yang kondisinya sudah membantu.
‘’Beberapa warga yang pernah masuk, tahu itu,’’ imbuh pria lulusan SMAN 2 Tuban itu.
Agus lebih lanjut mengatakan, sebelum kaki pegunungan ditambang, Gua Bajul bisa dimasuki dengan cara merambat melalui kaki gunung.
Kaki gunung ini adalah satu-satunya akses jalan masuk. Setelah ditambang, tidak ada jalan lain untuk masuk gua. Itu karena kaki gunung menjadi curam. (*)