TUBAN-Selama beroperasi pada 1894-1895, Pabrik Gula Wringin Agoeng Tuban, Jawa Timur untung besar.
Setelah itu, satu-satunya pabrik gula di Tuban tersebut diberitakan terancam tutup karena menderita kebangkrutan.
Surat kabar De Locomotif edisi 19 Oktober 1895 menyebutkan, bangkrutnya Pabrik Gula Wringin Agoeng disebabkan perilaku korup para pejabatnya dan banjir yang menenggelamkan beberapa perekebunan tebu.
Utamanya di wilayah Kecamatan Parengan dan Singgahan.
Selain itu, munculnya banyak pabrik gula baru di Jawa Timur. Juga nakalnya petani-petani tebu yang menjual tebu perkebunan Wringin Agoeng ke pihak lain tanpa sepengetahuan pabrik.
Dari aksi culas tersebut, mereka diperkirakan menerima upah.
Akhirnya, pada 1896, Pabrik Gula Wringin Agoeng resmi ditutup.
Surat kabar De Locomotif edisi 27 Mei 1896 mengumumkan, Pabrik Gula Wringin Agoeng dijual terbuka kepada publik dengan harga 14.000 gulden atau sekitar Rp 100 ribu kala itu.
Harga yang murah tersebut disebabkan karena beberapa asetnya berganti hak milik dan mesin-mesin gula mengalami kerusakan dan pembanditan atau penjarahan dari para pekerjanya. (*)