TUBAN- Selama berlangsung pergolakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Tuban pada era 1960-an, salah satu insiden paling mengerikan terjadi di Kali Warung, wilayah Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding pada 1968.
Salah satu saksi yang menyaksikan tragedi tersebut adalah Kasnawi, anggota Pertahanan Keamanan Desa (PKD).
Kasnawi menceritakan, empat anggota PKI yang baru dibawa turun dari gunung dalam sebuah operasi penyisiran dieksekusi di hadapan ratusan warga setempat.
Ketika dieksekusi, mereka dalam kondisi mata ditutup kain dan tangan diikat di belakang.
Selain dibantai di depan banyak orang, sebagian anggota PKI hilang setelah menyerahkan diri.
‘’Hingga kini sebagian tak diketahui rimbanya,’’ ujar warga Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding itu.
Di tengah pergolakan, kata dia, ketika itu muncul tokoh-tokoh PKI yang dikenal luar biasa.
Salah satunya, Suparman yang baru meninggal sekitar 13 tahun silam.
Karena kesaktian yang dimiliki, bertahun-tahun aparat tak berhasil menangkapnya.
Salah satu insiden penggerebekan disaksikan Kasnawi.
Ketika dikejar, Suparman masuk dalam tumpukan jerami kering.
Jerami ini pun dikepung dan dihuni tumbak dan senjata tajam (sajam) lainnya. Namun, dia menghilang tanpa jejak.
Insiden mencengangkan lainnya terjadi ketika dalam pengejaran, dia masuk ke tegalan.
Aparat dan warga yang mengepung akhirnya membakar tanaman tegalan tersebut dari semua penjuru.
Lagi-lagi Suparman menghilang tanpa jejak.
Karena berkali-kali operasi penangkapan tak membuahkan hasil, aparat menyandera kedua orang tua tokoh PKI tersebut.
Setelah tahu kedua orang tuanya disandera, Suparman menyerahkan diri dan ditahan di Pulau Buru.
Kasnawi mengungkapkan, di era tersebut, cap PKI sangat menakutkan.
Warga yang tanpa sengaja memberi tempat persembunyian, apalagi memberi makan langsung dicap pengikutnya. (*)
Editor : Amin Fauzie