Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Tugu Caluk di Tuban. Mengabadikan Momen Belanda Menyerahkan Kota Tuban kepada RI

Dwi Setiyawan • Sabtu, 10 Februari 2024 | 17:00 WIB

Prasasti pada Tugu Caluk di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Prasasti pada Tugu Caluk di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.


TUBAN- Tugu Caluk di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur menggambarkan peristiwa monumental Agresi Militer II Belanda pada 1949.

Didik Purwanto, anak salah satu veteran Tuban menceritakan, serangan Belanda pada Agresi Militer II di wilayah Tuban pertama kali datang dari Pantai Glondong, Kawedanan (kecamatan) Tambakboyo.

Itu terjadi pada 18 Desember 1948.

Anak dari veteran yang menjadi saksi dalam peristiwa tersebut ini menyampaikan, berdasarkan cerita tutur dari ayahnya, Djidin, waktu itu, satu divisi tentara Belanda mendarat di Pantai Glondong.

Mereka adalah prajurit Marine Brigade (Mabrig), kesatuan di bawah tentara kerajaaan Hindia Belanda KNIL (Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger).

‘’Jumlahnya sekitar seribu serdadu,’’ tuturnya.

Didik mengungkapkan, peristiwa mendaratnya tentara Mabrig terjadi pagi buta. Sekitar pukul 04.00—05.00.

Namun, tanda-tanda penyerbuan itu sudah terindikasi beberapa jam sebelumnya.

Menurut ayahnya, yang kala itu anggota Laskar Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan bertugas di Pantai Glondong, sebelum tentara Mabrig mendarat, terlihat rentetan cahaya yang berpendar di tengah laut.

‘’Semakin mendekat, terlihat kapal-kapal tentara Mabrig,’’ tutur Didik mengutip cerita ayahnya.

Mantan camat Tambakboyo itu melanjutkan, pendaratan tentara Mabrig di Pantai Glondong terbilang sukses.

Pasukan pejuang yang menjaga pantai kalah jumlah dan minim persenjataan meninggalkan Pantai Glondong.

Para tentara penjaga laut itu kemudian melapor ke pusat pertahanan rakyat yang berlokasi di Kota Tuban.

‘’Sejak pendaratan yang berhasil itulah, Tuban dikuasai tentara Belanda,’’ jelasnya.

Didik menyampaikan, mudahnya Tuban dikuasi Belanda karena minimnya jumlah tentara dan pejuang.

Menurut dia, pada waktu itu, kekuatan militer Tuban berpusat di Bojonegoro sekaligus sebagai ibu kota residen.

‘’Tuban di masa itu hanya menjadi daerah pendaratan dan perlintasan aksi militer saja,’’ kata dia.

Karena itu, aksi militer di Bumi Ronggolawe bergaya gerilya. Dimulai dari Pantai Glondong, Kota Tuban, Semanding, Rengel, Montong, Singgahan, Parengan, Bangilan, hingga Senori.

‘’Pergerilyaan itu berlangsung sekitar satu tahun,’’ jelasnya.

Didik juga menceritakan, Agresi Militer Belanda di Indonesia seharusnya berakhir pada 7 Mei 1949, saat penandatanganan Perjanjian Roem Royen.

Namun, di Tuban gencatan senjata antara tentara Belanda dengan pejuang Tuban baru berlangsung tujuh bulan pasca perjanjian tersebut.

Awal Desember 1949, pejuang Tuban semakin gencar mendesak serdadu Belanda untuk pergi dari Tuban.

‘’Hasilnya, para pejuang Tuban akhirnya menang. Dan, pada 9 Desember 1949 Belanda menyerahkan Kota Tuban kepada rakyat setempat,’’ terangnya.

Sehari setelah peristiwa tersebut, masyarakat Tuban membangun monumen Tugu Caluk untuk mengabadikan peristiwa itu. (*)

Editor : Amin Fauzie
#Tugu Caluk #Agresi Militer II Belanda #Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Tuban