TUBAN-Perlawanan rakyat Tuban, Jawa Timur pada Agresi Militer II Belanda pada 1949 begitu fenomenal.
Untuk mengabadikan peristiwa bersejarah perjuangan mempertahankan wilayah Tuban dari penjajah, dibangun Tugu Caluk di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban.
Tugu tersebut hanya berupa patung potongan tangan kanan mengepal memegang caluk, salah satu jenis senjata tajam.
Di bawahnya terpampang prasasti dari batu marmer bertuliskan, Peringatan Tanggal 10 December 1949 Pengembalian Kota Toeban Kapada Pemerintah Republik Indonesia. Terbikir Tanggal 10 December 1949 Djam 7 Pagi (Kebaktian Rakjat).
Tugu monumental tersebut berada di tengah kawasan padat penduduk.
Lokasinya di perempatan jalan Kampung Watu Lumur.
Kusnur Dwi Cahyono, salah satu tokoh masyarakat setempat mengatakan, masyarakat merawat menjaga dan merawat dengan baik tugu tersebut.
Salah satunya menambah aksen cor pembatas tugu dan perubahan arah hadap.
‘’Dulu menghadap lurus ke timur, sekitar 1977—1978 arah hadapanya diubah ke tenggara,’’ jelasnya.
Dia menyampaikan, pertimbangan mengubah arah tersebut agar segaris lurus dengan Tugu Kepet di Desa Kepet, Kecamatan Semanding yang berjarak sekitar 9 km di timur tugu tersebut.
Tugu Kepet menggambarkan pejuang bersenjata caluk yang membantai tentara Belanda.
Anak salah seorang veteran perang bernama Koekoh itu mengungkapkan, kedua tugu yang sama-sama bersenjata caluk memiliki kaitan erat.
Jika Tugu Kepet menceritakan pejuang Tuban melawan Belanda, maka Tugu Caluk melambangkan sebuah kemenangan.
Kemenangan dimaksud adalah Belanda menyerahkan kembali Kota Tuban kepada Republik Indonesia beserta rakyatnya.
Kusnur menepis rumor bahwa caluk yang digenggam adalah buatan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) kala berjaya.
‘’Itu rumor yang tidak benar,’’ tegasnya.
Berdasarkan cerita dari ayahnya, kata dia, Tugu Caluk dibuat Tamsir, seorang seniman sekaligus pejuang yang melawan Belanda di masa itu.
Kusnur dan masyarakat sekitar bertekad merawat Tugu Caluk.
Menurut dia, tugu tersebut amat berharga. Utamanya bagi generasi sekarang, karena menjadi entitas sejarah lokal.
‘’Dari Tugu Caluk, generasi sekarang bisa belajar tentang semangat perjuangan ribuan pejuang demi kemerdekaan bangsa dan negara,’’ tuturnya. (*)
Editor : Amin Fauzie