TUBAN- Sebelum ditutup pada 2001, jalur kereta api (KA) di wilayah Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur sama sekali tidak memprioritaskan penumpang.
Diwawancarai pada 12 Desember 2021, Suwarsono, pensiunan pegawai KA di Stasiun Jatirogo, mengungkapkan, selama beroperasi, jalur Jatirogo didominasi mengangkut pasir kuarsa.
‘’Jalur ini dibuka untuk memfasilitasi aktivitas pertambangan pasir kuarsa,’’ tuturnya.
Terkait kereta penumpang, pria yang bertugas di Stasiun Jatirogo sejak 1977 hingga 1998 itu mengatakan, Stasiun Jatirogo kurang memprioritaskan.
Tidak ada perjalanan vital dalam jalur ini. Umumnya, kereta penumpang digunakan para pedagang pasar antardesa/kecamatan atau pelajar dari Jatirogo yang bersekolah di Bojonegoro.
Dia mengatakan, pada 1998, Indonesia dilanda krisis moneter. Stasiun Jatirogo pun turut terdampak secara finansial.
Atas pertimbangan tersebut, Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya memutuskan menonaktifkan Stasiun Jatirogo untuk efisensi.
Karena itu, kata dia, sejak 1998, dia dipindahtugaskan ke Stasiun Bojonegoro.
''Tapi jalur Jatirogo--Bojonegoro masih aktif. Khusus perjalanan kereta barang (pasir kuarsa, Red), bukan penumpang'' kenangnya.
Stasiun Jatirogo dan jalurnya betul-betul mati pada 2001.
Penyebabnya, stok pasir kuarsa yang diangkut kereta, kondisinya semakin menipis.
Pertimbangan lain, hasil tambang pasir kuarsa di Ngepon dan sekitarnya yang kian susut dinilai tidak efektif jika diangkut kereta.
‘’Sejak pasir kuarsa mulai habis dan jalur kereta ditutup, fungsi kereta barang digantikan truk,’’ ujarnya. (*)