Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Mengenang Jalur KA di Tuban. Sebelum Jalur Jatirogo Ditutup pada 2001, Hanya Sekali PP Angkut Penumpang

Dwi Setiyawan • Sabtu, 20 Januari 2024 | 16:00 WIB

Bekas Stasiun Jatirogo di Desa Wotsogo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Bekas Stasiun Jatirogo di Desa Wotsogo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.


TUBAN- Kabupaten Tuban, Jawa Timur pernah dilalui jalur kereta api (KA) lintas kabupaten di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Jalur KA di Tuban yang terakhir ditutup alias tidak beroperasi adalah Jatirogo (Kabupaten Tuban)—Lasem—Pamotan (Rembang, Jawa Tengah)—Bojonegoro.

Penutupan Jalur KA di Tuban tersebut berlangsung pada 2001.

Praktis, jalur KA ini hanya beroperasi selama 82 tahun. Itu karena jalur rel tersebut selesai dibangun pada 1919.

Tahun tersebut merujuk buku berjudul Jarak Antarstasiun dan Perhentian terbitan Dirjen Perkeretaapian Indonesia.

Ditulis dalam buku tersebut, Samarang--Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) semula hanya membangun jalur rel Lasem--Pamotan--Jatirogo. Jalur tersebut selesai pada 20 Februari 1919.

Sedangkan perpanjangan jalur ini menuju Bojonegoro selesai 1 Mei 1919 dan dikerjakan oleh Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Menyambut peresmiannya, surat kabar De Locomotif edisi 1 Mei 1919 memuat sebuah opini tentang pembangunan jalur rel tersebut.

Artikel bertanggal 30 April 1919 tersebut mengkritik pembukaan jalur itu.

Penulis artikel berjudul De lijnopening Bodjonegoro--Djatirogo (Van onzen eigen berichtgever) mengatakan, jalur tersebut merupakan lintasan yang terkutuk.

''Sebuah dosa sejarah penderitaan,'' tulisnya dalam bahasa Belanda.

Mengapa disebut jalur terkutuk? Opini tersebut mengemukakan jalur tersebut merupakan sebuah wujud dosa sejarah penderitaan.

Penulis opini dalam surat kabar terbitan Kota Semarang itu berasumsi, pembukaan jalur ini terlalu dipaksakan. Juga tidak berpihak kepada masyarakat umum.

Dalam opini tersebut dikritik, dibukanya jalur Bojonegoro--Jatirogo hanya untuk merusak lingkungan alam dan pertanian.

Dalam buku berjudul Spoor en Tramwegen karya Reitsma tertulis, Stasiun Jatirogo yang berlokasi di Desa Wotsogo, Kecamatan Jatirogo berikut jalur kereta apinya dibangun untuk mendukung kegiatan eksploitasi pasir kuarsa di Jatirogo.

Potensi pasir kuarsa tersebut berada di bukit kawasan barat Kecamatan Jatirogo.

Pemerintah Hindia Belanda yang mengetahui potensi tersebut, mantap untuk membuka jalur KA di wilayah selatan Tuban.

Ditulis juga, Stasiun Jatirogo dan jalur KA-nya merupakan karya pamungkas proyek SJS yang menghubungkan jalur kereta api NIS. (*)

MERAH MENCOLOK: Aktivtas salat berjamaah di Masjid Cheng Hoo Surabaya.
MERAH MENCOLOK: Aktivtas salat berjamaah di Masjid Cheng Hoo Surabaya.
KHAS TIONGHOA: Atap bersusun di masjid Cheng Hoo Surabaya dengan sentuhan ornamen khas ekor burung Sriti ala bangunan Pagoda atau kelenteng.
KHAS TIONGHOA: Atap bersusun di masjid Cheng Hoo Surabaya dengan sentuhan ornamen khas ekor burung Sriti ala bangunan Pagoda atau kelenteng.
Editor : Amin Fauzie
#Jalur KA di Tuban #Lintas Kabupaten #Stasiun Jatirogo #Dirjen Perkeretaapian Indonesia