TUBAN- Mahdi Mukti, jemaah haji Tuban yang berangkat dengan kapal laut pada 1957 mengungkapkan, Kapal MS. Bau Masepe I yang ditumpangnya bersama 56 jemaah haji Tuban lainnya dari Syahbandar Tanjung Perak Surabaya pada 22 April 1957 tersebut panjangnya sekitar 150m dan lebar 30m.
Ketika mengungkapkan pengalamannya berhaji dengan kapal laut pada 19 September 2013, Mahdi menggambarkan, dari 15 lantai kapal, tujuh lantai posisinya di atas lambung kapal. Selebihnya di bawah lambung.
Tidak ada fasilitas istimewa di palka kecuali berjejernya puluhan dipan kayu jati. Setiap dipan yang berukuran 2x0,8m tersebut diskrup dengan lantai besi.
Dipan inilah yang kemudian dipasangi kasur kapuk setebal 15cm jatah PHI. Jatah lainnya sebuah bantal.
Di palka ini tidak ada lemari atau tempat khusus menyimpan barang. Karena itulah, tas dan perbekalan jamaah ditempatkan di kolong atau ujung dipan.
Sebagian jemaah yang sudah mendapat bekal pengalaman berhaji dari jemaah sebelumnya, membawa kain lebar. Khususnya yang berangkat suami-istri.
Kain inilah yang dicentelkan pada langit-langit palka selebar dipan yang ditempati.
Ketika tidur, kain yang berfungsi sebagai penyekat ini diturunkan dan baru dinaikkan setelah bangun.
‘’Karena belum beristri dan berangkat sendiri, saya nggak perlu bawa kain kelambu,’’ kata Mahdi.
Peranti lain yang tersedia di palka adalah tali tampar yang ukurannya pendek-pendek.
Dalam panduan yang disampaikan anak buah kapal (ABK), tampar tersebut berfungsi mengikat barang dan perlengkapan jemaah ketika terjadi ombak besar.
Panduan tersebut memastikan tubuh tak perlu diikat dalam kondisi tersebut.
Namun, praktiknya lain. Ketika ombak besar, sebagian besar jemaah mengikatkan tubuhnya pada dipan.
Dalam kenangan Mahdi, begitu lamanya perjalanan menuju Jeddah yang memakan waktu kurang lebih 30 hari, hubungan 1.500 jamaah haji yang diangkut Kapal Bau Masepe I, sudah seperti keluarga.
Mereka kerap saling kunjung di palka yang ditempati.
Ketika mendapat kunjungan, mereka menyuguhi makanan kering yang dibawa dari rumah. Kegiatan lainnya adalah sholat jamaah di geladak atau dek kapal.
Sementara untuk kegiatan mengaji lebih banyak dilakukan masing-masing rombongan di tiap palka.
Karena ditumpangi banyak jemaah haji, kapal berbendera Indonesia tersebut mirip perkampungan.
Di kapal ini juga ada praktik dokter pada klinik kesehatan.
Kalau jemaah jenuh, mereka bisa nonton bioskop. Biasanya, layar lebar tersebut diputar setelah sholat Isyak.
‘’Film-filmnya macam-macam,’’ kata Mahdi yang kemudian terkekeh.
Hanya satu hal yang membuat jemaah haji trauma dalam perjalanan laut tersebut, yakni ombak besar.
Kalau sudah ombak besar, kapal terombang-ambing hebat.
‘’Tinggi ombak bisa melebihi tinggi kapal,’’ kata Mahdi sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
Ketika menceritakan itu, pria yang sebagian besar rambutnya sudah memutih itu terlihat serius.
Ketika mencoba menghadirkan suasana dalam kapal, suaranya terdengar sedikit parau.
‘’Kalau sudah begitu, semua orang pada berdzikir menyebut nama Allah. Khususnya yang tua dan sakit-sakitan,’’ tutur dia.
Dalam dzikir tersebut, mereka meminta pertolongan Allah.
Mahdi mengungkapkan, di tengah samudra yang luas dan dalam tersebut, benda sebesar kapal tiada artinya.
Tanpa pertolongan Allah, air laut bisa menenggelamkan kapal dan seluruh isinya.
Kalau sudah cuaca buruk atau badai, ombak besar tidak terjadi dalam hitungan jam. Namun, bisa berlangsung hingga tiga hari.
Karena usiannya masih sangat muda dan terbiasa naik perahu nelayan ketika di kampung, Mahdi bisa meminimalisasi pengaruh guncangan hebat tersebut.
Sementara jemaah lain yang sudah udzur dan tak pernah naik kapal, tersiksa luar biasa.
‘’Karena tak doyan makan, tubuh pun lemas karena terus muntah,’’ kata pria kelahiran kampung nelayan Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban itu.
Selain terbiasa naik kapal, Mahdi punya trik meminimalisasi guncangan ombak.
Trik tersebut adalah tidur dengan posisi melintang dari arah perjalanan kapal.
Kalau kapal perjalanan ke barat, maka tempatkan kepala pada posisi di utara atau selatan.
‘’Dengan posisi ini, tubuh tidak ikut terjungkal,’’ kata suami Mariyam itu.
Ketika ombak menerjang hebat, dengan nada guyon Mahdi mengaku merasa diuntungkan karena bisa mendapat dobel jatah makan.
Juga jatah lainnya seperti buah apel dan jeruk yang biasa disuguhkan untuk pencuci mulut.
Jatah dobel inilah yang kemudian dimakan bersama jemaah lain yang tahan mabuk.
Pensiunan guru agama itu menyampaikan, dalam ketentuan pelayaran, siapa pun yang meninggal di atas kapal dan jauh dari darat, jenazah harus ditenggelamkan ke dasar laut. Ketentuan ini berharga mati.
Ketika jemaah haji asal Kecamatan Merakurak, Tuban yang satu rombongan dengannya meninggal, ketentuan tersebut diterapkan.
Dia lupa namanya. Yang masih diingat, jamaah berusia 75 tahun tersebut adalah ayah Kades Maksun.
‘’Jamaah ini meninggal setelah sebelumnya sakit lima hari,’’ kata Mahdi.
Ketika jemaah ini meninggal, perjalanan memasuki hari ke-9. Posisi kapal ketika itu berada di perairan Colombo, wilayah Srilanka.
Setelah ditahlil seluruh jemaah haji di kapal, jenazah yang sudah dikafani tersebut diikat pada sebuah papan kayu dan diberi pemberat batu laut.
Setelah itu, jenazah tersebut diturunkan dan ditenggelamkan ke dasar laut.
Untuk menurunkan jenazah, kapal mematikan mesinnya dan melempar jangkar.
Ketika jenazah diturunkan, seluruh ABK yang dipimpin kapten kapal berada di dek kapal.
‘’Mereka memberi hormat,’’ kata dia.
Sementara jemaah lain sambil bertahlil menatap diturunkannya jenazah dengan sling atau kawat baja.
Karena ketika itu belum ada sarana komunikasi yang memadai, pihak kapal baru mengabari PHI yang memberangkatkan setelah kapal mendarat.
Seingat Mahdi, ABK baru mengirim telegram kepada PHI Surabaya setelah kapal tiba di Jeddah atau selang enam hari setelah jenazah ditenggelamkan. (*)