TUBAN-Nama Mukri tidak tercatat dalam lembar sejarah nasional. Pada 18 September 1945, dia adalah salah satu dari sejumlah pemuda Indonesia yang naik Hotel Yamato, sekarang Hotel Majapahit Surabaya.
Di atas Hotel Yamato inilah, dia bersama pejuang lainnya memanjat tiang bendera untuk menurunkan dan merobek bagian biru bendera Belanda.
Setelah tersisa warna merah-putih, bendera tersebut kembali dikerek.
Sosok Mukri nyaris tak pernah dikenal dalam peristiwa yang populer dengan insiden Hotel Yamato tersebut.
Dia adalah pemuda lingkungan Makam Agung, sekarang wilayah Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga besar Ponpes Makam Agung di kelurahan setempat.
Pada era 80-an, Mukri pernah menyampaikan testimoni pada sebuah forum ulama dan kiai Tuban.
Karena tak pernah didokumentasikan, pengakuan tersebut berlalu begitu saja. Mungkin, akan hilang seiring dengan perkembangan waktu.
Setelah berlalu 68 tahun, peristiwa tersebut baru dibukukan sekarang. Itu pun yang bersangkutan sudah tiada.
Adalah buku Perjalanan NU Tuban dari Masa ke Masa (1935-2013) yang mengupas sekelumit riwayat Mukri, salah satu pejuang perobek bendera Belanda di Hotel Yamato.
Dalam buku tersebut, dia disejajarkan dengan sejumlah tokoh besar nahdliyin Tuban lainnya.
Seperti KH Hasyim Muzadi, ketua PBNU 1999-2010 dan Tholhah Hasan, menteri agama pada 1999-2001 yang juga dari Bumi Wali Tuban.
Buku ini dikarang A. Mundzir dan Nurcholis. Nama yang disebut pertama adalah tokoh NU Tuban.
Sementara Nurcholis generasi muda ormas ini yang juga penulis.
Buku setebal 425 halaman tersebut referensinya tidak hanya buku. Namun, juga penggalian data di lapangan dengan mewawancarai tokoh yang bersangkutan, keluarganya, atau saksi lainnya yang mengetahui.
Sekarang, buku yang dieditori Akhmad Zaini.
Buku ini memotret semua kiprah NU Tuban di kancah regional maupun nasional. Dimulai zaman perjuangan, kemerdekaan, Orde Baru, era reformasi, dan hingga sekarang.
Hal lain yang dipotret adalah aktivitas dan perjuangan tokohnya. Mereka bisa kelahiran luar Tuban yang kemudian berkiprah di Bumi Wali ini. Atau, kelahiran Tuban yang berkiprah di luar.
Dari 25 tokoh besar yang diangkat, 19 orang di antaranya sudah meninggal.
Buku ini diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi generasi muda untuk mengikuti jejak para pendahulunya.
Pada kalimat pengantarnya ditulis, ini adalah buku sejarah pertama yang menulis perjuangan dan kiprah NU di tingkat cabang. Juga, tokoh nahdliyin lokal yang memberi warna pada lembar sejarah nasional dan daerah.
Dalam buku yang covernya memajang lambang NU tersebut, Mundzir-Nurcholis memotret kondisi NU yang sesungguhnya di setiap era. Sama sekali tidak ada penyimpangan fakta.
Kondisi pahit pun diulas. Seperti ketika mengupas NU di masa Orde Baru. Ormas ini digambarkan dalam kondisi stagnan. Bahkan, bisa dikatakan surut.
Selama era 1966-1998 tersebut, hampir semua tokoh NU tidak mau terbawa arus monoloyalitas partai penguasa.
Dalam buku tersebut juga dikupas salah satu tokoh NU yang berani menentang politik monoloyalitas adalah KH Chusnan Ali.
Tokoh Hizbullah ini mundur sebagai salah satu kades di Kecamatan Montong. Setelah berhasil melepaskan diri dari birokrasi, dia mengabdi di dunia pendidikan. (*)
Editor : Amin Fauzie